"Dia gadis yang kutemui beberapa bulan yang lalu." Kata Pandu mulai bercerita. Entah apa yang sedang dia pikirkan, dia tiba-tiba saja mulai menceritakan tentang Sakura kepada Mamanya.
"Gadis seperti apa dia?" Tanya Rani pelan. Dia mulai tertarik dengan cerita putranya. Pasalnya ini pertama kalinya Pandu bercerita tentang seorang gadis. Bukan karena Pandu menutup diri karena penyakit yang dia derita namun karena sedari dulu sebelum Pandu kecelakaan, dia memang menutup dirinya.
"Dia gadis yang baik, dia sederhana, dia pekerja keras dan yang paling penting apapun yang dia lakukan dia selalu tulus." Jawab Pandu menjabarkan. Matanya bersinar ketika bercerita.
"Sepertinya kamu sangat menyukai dia." Kata Rani menanggapi. Dia juga tidak bisa menahan senyumnya. Apalagi ketika dia melihat wajah Pandu yang berseri-seri, dia merasa anaknya sudah jatuh cinta dengan gadis itu.
Pandu hanya tertawa. Dia menutup wajahnya dengan kedua tangannya. Bagaimana mungkin dia mengatakan hal itu kepada Mamanya. Padahal dia ingin fokus pada pekerjaannya terlebih dahulu. Baru setelah itu memikirkan tentang perasaan.
"Kapan kamu ngenalin dia ke Mama? Mama juga ingin kenal sama dia." Tanya Rani.
"Nanti ya, Ma kalau sudah waktunya." Jawab Pandu sambil tersenyum.
"Iya tapi waktunya kapan?" Tanya Rani lagi.
"Pandu ingin fokus ke perusahaan dulu, Ma. Membuat semua karyawan dan direksi percaya dengan kemampuan Pandu." Jawab Pandu memberikan pengertian kepada Mamanya.
"Ndu, kamu akan menikah, 'kan?" Tanya Rani pelan. Dia takut membuat putranya tersinggung.
Pandu tersenyum. Dia sebenarnya juga tidak yakin. Inginnya dia juga menikah, menghabiskan sisa umur bersama orang tercinta namun dia tidak yakin apakah dia akan bertemu dengan orang tulus yang benar-benar mencintainya.
"Doakan saja ya, Ma." Jawab Pandu pelan.
Rani menatap Pandu dengan lekat. Seketika dia melihat kekuatiran tersorot dari matanya. Rani mulai paham dengan apa yang ada dipikiran Pandu. Menghadapi hidup yang rumit dengan penyakit yang luar biasa itu sulit. Menahan telinga ketika orang lain membicarakan, bersikap tidak peduli namun sebenarnya memikirkan itu semua.
Namun yang membuat Rani selalu percaya adalah, putranya ada orang yang hebat. Diberi penyakit yang langka, dan mendapatkan cobaan yang berat. Dia adalah orang pilihan dari Tuhan. Tuhan tahu jika Pandu akan berhasil melewati ujian dari dia.
***
"Siapa kamu?" Tanya Elmi dengan sinis. Pasalnya dia baru pertama kali melihat orang ini.
Orang yang ditanya oleh Elmi hanya bisa menundukkan kepalanya. Dia sedikit takut karena perlakuan Elmi yang kasar.
"Saya tanya sama kamu, kamu itu siapa?" Tanya Elmi lagi dengan suara yang lebih keras.
"Sa.. saya pembantu di rumah ini." Jawab orang itu dengan takut.
Elmi melihat itu dengan mata memicing. Dia tidak suka dengan apa yang dilakukan oleh anak tirinya. Semakin hari Sakura semakin banyak bertingkah. Menyewa pembantu tanpa bicara dulu dengannya.
"Dimana Sakura?" Tanya Elmi dengan galak. Dia menekuk kedua tangannya dipinggang.
"Non Sakura masih bekerja." Jawab orang itu dengan gugup. Tangannya bergetar memegang gagang sapu.
Elmi berlalu begitu saja. Dia naik ke atas dan menuju kamar suaminya. Membuka kamar dengan kasar dan menatap tajam ke arah suaminya yang hanya bisa terkulai lemas diatas tempat tidur.
"Anak kamu lama-lama bikin aku naik darah ya." Teriak Elmi dengan cukup keras. Dia sudah ada dipinggir ranjang suaminya.
Joko terkejut dengan kedatangan istrinya yang tiba-tiba itu. Ditambah suara istrinya yang keras dan bicara dengan membentak membuat dia bergetar. Tubuhnya sudah lama tidak sehat dan sekarang harus mendapatkan serangan secara tiba-tiba dari istrinya.
"Ja... Jangan gg gang...gu putri ku." Kata Joko dengan susah payah.
"Yang ada malah putrimu yang menggangguku." Balas Elmi dengan galak.
Joko menggelengkan kepalanya. Dia tidak akan mempercayai ucapan istrinya itu. Semenjak dia ditelantarkan oleh istrinya, dia sudah tidak percaya dengan ucapan perempuan jahat itu.
"Putrimu dengan berani mengibarkan bendera perang denganku. Bisa apa dia? Sok-sokan mau melawanku." Kata Elmi dengan menyombongkan diri.
"Pppeergi...." Hanya satu kata itu yang bisa dikatakan oleh Joko. Sebenarnya dia ingin mengatakan semua hal yang ingin dia katakan namun karena dia sendiri kesulitan untuk bicara, dia hanya bisa mengatakan satu kata itu.
Elmi tersenyum sinis. "Kamu suruh saya pergi? Harusnya kamu yang pergi." Kata Elmi menantang.
Joko kembali menggelengkan kepalanya. Sebenarnya didalam hatinya dia merasa takut. Takut jika istrinya benar-benar merebut apa yang dia punya. Memiliki semuanya yang seharusnya dia berikan kepada Sakura. Semua kerja keras yang dia lakukan dengan almarhum istrinya dulu akan dia wariskan kepada putri semata wayangnya.
"Kasih tau Sakura jangan pernah mencari perkara denganku lagi." Kata Elmi memperingatkan.
Tanpa menunggu jawaban dari Joko, dia segera berlalu dari kamar suaminya. Meninggalkan suaminya lagi dalam kondisi yang lemah tak berdaya. Semenjak suaminya kecelakaan, dia sama sekali tidak pernah mengurus suaminya itu. Lepas tangan dengan alasan sibuk mengurus perusahaan. Menyerahkan suaminya pada anak tirinya. Benar-benar istri yang tidak tahu malu.