Delon menyamakan langkah kakinya dengan Sakura. Hari ini dia sengaja menyelesaikan pekerjaannya dengan cepat agar dia bisa pulang bareng Sakura. Setelah dia memutuskan untuk keluar dari rumah itu, dia semakin tidak punya banyak waktu dengan gadis yang dia cintai itu. Padahal dulu mereka selalu berangkat dan pulang bekerja bareng, bahkan sering jalan bareng juga. Sekadar cari makan atau hanya mencari angin segar saja.
"Mau langsung pulang?" Tanya Delon pelan.
Sakura menganggukkan kepalanya dengan cepat. Satu jam yang lalu dia mendapat telvon dari pembantunya, pembantunya bilang jika ada seorang wanita datang ke rumah dengan marah-marah. Bahkan wanita itu menemui Papanya juga. Dalam hati Sakura menerka-nerka jika wanita yang dimaksud itu adalah ibu tirinya. Seketika dia ingin berlari namun dia juga tidak bisa meninggalkan pekerjaannya begitu saja.
"Cari makan dulu?" Tanya Delon lagi.
"Tidak usah. Aku makan di rumah saja." Jawab Sakura singkat. Sakura semakin mempercepat langkahnya. Dia meninggalkan Delon yang kini ada dibelakangnya. Pikirannya sudah tidak fokus lagi. Dan dia merasa beruntung karena ada Delon yang mau memberikan tumpangan sehingga dia tidak perlu menunggu taksi lagi.
"Sakura." Panggil Delon dengan suara yang cukup keras. Orang yang ada disekitarnya menoleh ke arahnya semua. Seperti waktu yang terhenti, sejenak semua terdiam dan menunggu apa yang akan dilakukan Delon selanjutnya.
"Ada apa?" Tanya Sakura pelan. Dia juga ikut menoleh karena namanya dipanggil dengan suara yang cukup keras.
Delon maju, dia dengan tiba-tiba menggandeng tangan Sakura. "Kita pulang bareng." Kata Delon memerintah.
Sakura hanya diam saja. Dia pasrah, karena walaupun dia memberontak itu tidak akan pernah berhasil. Delon akan tetap memaksanya. Karena itu sudah sering terjadi dan Sakura malas berdebat.
"Aku mau pulang cepat." Kata Sakura pelan.
"Iya, aku antar kamu pulang." Jawab Delon mengerti.
Sakura bernafas lega ketika Delon pasrah begitu. Karena setiap kali mereka pulang bareng, mereka akan muter-muter dulu dengan alasan membeli makan atau camilan dulu.
Seperti biasa Delon membukakan pintu untuk Sakura bahkan dia juga membantu Sakura memakai salt belt. Sudah sering Sakura melarang, namun Delon tidak mengindahkan.
"Apa terjadi sesuatu?" Tanya Delon pelan ketika dia baru saja menjalankan mobilnya.
"Tidak tahu. Semoga saja tidak." Jawab Sakura dengan wajah tanpa senyum.
Delon diam saja namun sesekali dia menoleh ke arah Sakura. Dia kuatir dengan gadis itu. Terlihat dari raut wajahnya, Sakura sangat tertekan. Bahkan ada ketakutan tersendiri yang tidak bisa disampaikan oleh Sakura.
"Keberuntungan berpihak padamu. Hari ini jalanan tidak terlalu ramai." Kata Delon ketika dia mulai memasuki kompleks perumahan.
"Syukurlah." Jawab Sakura singkat.
Sakura dengan cepat membuka pintu mobil. Dia tidak sabar hingga menunggu Delon yang membukakan pintu. Tanpa menunggu Delon lagi, dia berlari masuk ke dalam rumah. Matanya jelalatan mencari pembantunya.
"Mbak." Teriak Sakura dengan mata yang terus mencari.
"Ya, Non." Jawab pembantu itu dengan lari tergopoh-gopoh.
"Papa dimana?" Tanya Sakura dengan cepat.
"Diatas, Non baru selesai makan." Jawab Mbak Ina, pembantunya Sakura.
Sakura bernafas lega. Dia duduk di kursi yang berada tepat dibelakangnya. Dia ingin menenangkan dirinya terlebih dahulu sebelum dia menemui Papanya. Karena dia tidak mau memperlihatkan wajahnya yang masam di depan Papanya.
"Ini, Non minum dulu." Kata Mbak Ina sambil menyerahkan segelas air dingin kepada Sakura.
"Makasih, Mbak." Jawab Sakura pelan sambil menerima gelas berisi air itu. Setelah itu dia meneguknya hingga air itu tinggal setengah gelas.
Mbak Ina menganggukkan kepalanya sebagai jawaban. Kemudian dia memandang Delon dengan lekat karena belum pernah bertemu dengan laki-laki itu sebelumnya. Dia juga baru pertama melihat Sakura bersama laki-laki pulang ke rumah. Selama ini Sakura hanya menghabiskan waktunya dengan bekerja dan mengurus Papanya yang sedang sakit keras.
"Dia teman kerjaku, Mbak." Kata Sakura pelan. Sejak tadi dia melihat pembantunya terus saja memperhatikan Delon. Dengan inisiatif sendiri, dia memperkenalkan Delon kepada Mbak Ina agar Mbak Ina juga tidak takut ketika Delon main ke rumah. Karena walaupun Delon sudah tidak tinggal disini lagi, dia masing sering berkunjung ke rumah ini. Dengan alasan ingin bertemu dengan Papanya atau menemani Papanya ngobrol.
"Halo, Mbak kenalin nama saya Delon." Kata Delon dengan ramah. Dia mengajak Mbak Ina berkenalan.
"Saya Ina, pembantu disini." Balas Mbak Ina dengan sopan.
Delon tersenyum sambil menganggukkan kepalanya pelan. "Aku baru tau kalau kamu sewa jasa pembantu." Kata Delon pelan.
"Iya, aku kuwalahan jika harus merawat Papa sendirian." Jawab Sakura.
Delon menganggukkan kepalanya. Dia setuju dengan ucapan Sakura. Selama ini Sakura selalu menghabiskan waktunya di kantor dan di rumah sembari merawat Papanya. Ditambah sekarang Sakura lebih sering mengambil lembur dengan alasan ingin mencari tambahan uang. Entah untuk apa uang itu, namun menurut Delon uang itu tidak jauh dari kebutuhan Papanya sendiri.
"Siapa tadi yang dateng?" Tanya Sakura pelan.
"Saya kurang tau, Non tapi tadi ketemu Bapak juga." Jawab Mbak Ina sedikit takut.
Sakura membuka ponselnya. Dia membuka galeri dan setelah itu menunjukkan sebuah foto kepada Mbak Ina. "Orang ini kah?" Tanya Sakura pelan.
Mbak Ina memicingkan matanya. Dia melihat itu dengan seksama seakan-akan sedang mengingat. "Benar, Non. Ini orang yang tadi kesini. Tadi dia juga nyari Non juga." Jawab Mbak Ina dengan yakin.
Raut wajah Sakura berubah menjadi sinis. Tebakan dia ternyata benar. Ibu tirinya datang ke rumah disaat dia tidak ada. Ditambah dia menemui Papanya yang sedang sakit.
"Besok lagi kalau dia datang kesini langsung usir saja." Kata Sakura memerintah dengan tegas.
"Ba.. baik, Non." Jawab Mbak Ina dengan gugup.
Sakura berlalu dari ruang makan. Dia naik ke atas ingin melihat keadaan Papanya. Dia tidak ingin kesehatan Papanya kembali lemah lagi. Sejak kepergian Ibu tirinya dari rumah ini, kesehatan Papanya berangsur-angsur mulai membaik. Dia juga sering membawa Papanya jalan-jalan keluar menikmati udara segar dan alam yang indah.
"Mbak, saya nengok Pak Joko dulu ya." Kata Delon berpamitan.
"Iya, Mas." Jawab Mbak Ina dengan patuh.
Delon dengan langkah cepat naik ke ruang atas. Lebih tepatnya di kamar Pak Joko. Dia ingin melihat kondisi laki-laki itu, terakhir kali dia berkunjung dia melihat kondisi Pak Joko semakin membaik namun melihat tadi Tante Elmi datang, Delon tidak yakin jika laki-laki itu tetap membaik. Pasalnya tantenya baru saja menemui Pak Joko. Delon yakin jika Tante Elmi berbicara sesuatu yang menyakiti hati Pak Joko. Terlebih Delon takut jika ucapan Tante Elmi mengganggu kesehatan mental Pak Joko.