"Sstthhh..." Sakura menempatkan telunjuknya dibibir.
Delon menganggukkan kepalanya pelan sambil melihat ke arah Pak Joko yang terpejam dengan erat. Dia mengerti maksud Sakura, gadis itu tidak ingin Delon mengganggu Papanya yang sedang tidur.
"Aku tidak tau apakah dia benar-benar tidur atau tidak." Kata Sakura dengan berbisik. Namun matanya terus menatap Papanya.
"Biarkan saja. Walaupun dia tidak benar-benar tidur setidaknya dia istirahat." Balas Delon dengan berbisik juga.
Sakura menganggukkan kepalanya. Dia setuju dengan apa yang dikatakan oleh Delon. Dia masih terus menatap Papanya yang sudah mulai terlihat tua. Kerutan diwajahnya sudah lebih kentara. Uban dirambutnya juga terlihat lebih banyak dari sebelumnya. Sakura berkaca-kaca karena menyadari jika Papanya tidak lagi muda. Siapa lagi yang akan dia jadikan alasan untuk terus bertahan ketika Papanya benar-benar meninggalkannya.
"Kita ngobrol di luar saja ya." Kata Delon pelan.
Tanpa menjawab ucapan Delon, Sakura bangkit dari duduknya. Dia berjalan didepan Delon keluar dari kamar Papanya. Kamar yang selalu dia bersihkan setiap hari. Dia juga tidak pernah telat memasang pengharum ruangan agar kamar itu tidak terasa pengap.
"Kamu sama Tante Elmi masih belum baikan?" Tanya Delon pelan.
"Sampai kapanpun aku tidak akan pernah baikan dengan dia." Jawab Sakura dengan tekad yang kuat.
Delon mendesah. Dia menundukkan kepalanya. Dia tidak bisa menyalahkan Sakura untuk tidak berbaikan dengan Tante Elmi. Namun dia juga tidak bisa membenarkan apa yang dilakukan oleh Sakura. Baik dan buruknya Tante Elmi tetap saja dia Ibu tirinya Sakura.
"Aku ingin merebut perusahaan Papa lagi." Kata Sakura kemudian.
Delok diam saja. Dia tidak berkutik, dia hanya akan mendengarkan ucapan Sakura terlebih dahulu sebelum memberikan solusi atau pendapat.
"Aku sudah mulai mengancam orang-orang kepercayaannya." Katanya lagi. "Mungkin itu yang membuat dia datang kemari dan mengancam Papa." Lanjutnya.
"Jangan sampai apa yang kamu lakukan membuat Papa kamu terancam. Tante Elmi tidak akan main-main dengan ucapannya." Kata Delon memperingatkan.
Sakura menganggukkan kepalanya. Dia sangat tahu bagaimana sifat Ibu tirinya itu. Wanita itu sangat ambisius. Dia sangat terobsesi dengan apa yang ingin dia miliki. Dan juga sesuatu yang sudah ada digenggamannya tidak akan pernah dia lepaskan, kecuali jika sesuatu itu tidak lagi berguna untuknya.
"Iya aku tau. Sekarang aku tidak lagi mengganggunya, aku membuat seakan-akan keadaan tenang dan baru akan kembali menyerang ketika keadaan sudah benar-benar bisa aku kuasai." Kata Sakura dengan penuh tekad.
Delon hanya menatap Sakura dengan lekat. Dia tidak bisa melarang Sakura ataupun menyuruh Sakura. Dua orang yang sedang berperang itu adalah wanita yang sama-sama berharga dalam hidup Delon. Dia tidak bisa memilih salah satunya.
"Hati-hati ya, Ra. Jangan asal bertindak." Kata Delon memperingatkan. Hanya itu yang bisa dia lakukan.
"Iya, Mas." Jawab Sakura pelan. Dia mengaduk teh hangat yang ada di depannya. Teh yang masih mengepulkan asapnya.
"Bentar ya." Kata Delon pelan setelah dia membaca sesuatu dari ponselnya.
Sakura mengangguk pelan. Dia menatap Delon yang berjalan cepat kearah luar rumah. Entah apa yang terjadi dengan laki-laki itu, Sakura tidak mau ambil pusing. Dia hanya ingin memikirkan rencana selanjutnya.
"Makan yuk.." Kata Delon yang tidak lama sudah kembali. Ditangannya sudah menenteng paper bag bertuliskan nama sebuah restoran langganan Sakura.
Delon meletakkan dua paper bag itu di atas meja. Setelah itu dia mengeluarkan isinya dari dalam tas. Menatanya diatas meja ruang makan. "Kamu belum makan malam, 'kan?" Tanya Delon lembut.
"Cepet banget?" Tanya Sakura heran.
"Iya tadi perjalanan pulang aku sempetin order dulu." Jawab Delon lagi.
Sakura menatap semua hidangan itu. Delon sangat tahu apa yang dia suka. Semua makanan yang dipesan oleh Delon adalah makanan kesukaannya. Hingga Sakura tidak bisa menahan air liurnya.
Delon terkekeh pelan. "Mbak Ina mana? Kita ajak makan bareng sekalian." Kata Delon ramah.
Sakura menganggukkan kepalanya. Dia bangkit dari duduknya dan memanggil Mbak Ina yang masih sibuk menyetrika. Sakura memaksa Mbak Ina yang sebenarnya tidak mau makan bareng.
"Ayo, Mbak. Hargai Mas Delon yang udah pesenin makanan buat kita." Kata Sakura membujuk.
"Ndak usah, Non. Mbak bisa makan sendiri nanti." Jawab Mbak Ina masih saja terus menolak.
"Mbak...." Panggil Sakura dengan mendesis. Dia menatap Mbak Ina dengan tajam seakan-akan sedang emosi.
"I...iya, Non." Jawab Mbak Ina menurut. Dia meletakkan setrikanya dan mencabut kabel. Setelah itu berjalan pelan dibelakang Sakura. Jujur saja sebenarnya dia merasa sungkan harus makan semeja dengan majikannya. Namun dia juga merasa beruntung memiliki majikan yang memperlakukannya dengan baik.
***
"Terima kasih, Pak Gilang. Anda selalu memberikan hadiah-hadiah mahal untuk saya." Kata Pak Teguh dengan mata yang berbinar kala dia melihat jam tangan buatan merk ternama.
"Hahaha... Tidak masalah, Pak. Ini semua bentuk terima kasih saya kepada Bapak." Jawab Gilang basa-basi. "Maaf ya baru bisa menemui Bapak hari ini." Lanjutnya.
"Saya yang harusnya berterima kasih." Kata Pak Teguh dengan sungkan.
Ya, Pak Teguh adalah salah satu antek-antek Gilang. Bahkan dia juga yang membocorkan penyakit Pandu kepada Pak Teguh agar Pak Teguh menunjukkan itu ketika rapat. Gilang sudah melakukan banyak hal untuk Pak Teguh dan keluarganya. Itu yang membuat Pak Teguh bersedia melakukan apapun demi membantu Gilang. Ditambah Gilang juga yang membantu Pak Teguh ketika bisnisnya diambang kehancuran. Hal itu semakin membuat Pak Teguh mengidam-idamkan Gilang.
"Akan saya pastikan supaya Pandu tidak bisa mencapai target yang saya tentukan." Kata Pak Teguh dengan percaya.
"Saya percaya, dengan target sebesar itu dia tidak akan bisa melampauinya." Balas Gilang juga tak kalah percaya diri.
"Pak Gilang, apapun yang terjadi saya akan membantu Pak Gilang agar tidak lengser dari jabatan Pak Gilang." Kata Pak Teguh dengan tulus.
"Terima kasih, Bapak sudah bersedia membantu saya." Jawab Gilang dengan besar kepala. Dia tersenyum dengan licik. Dihatinya kini sudah tidak ada lagi rasa persaudaraan yang ada hanya rasa kebencian dan perebutan kekuasaan.
Tanpa mereka sadari, seseorang sedang menguping dibalik pintu. Orang itu mengatur nafasnya yang sudah mulai emosi. Dia mencoba mengendalikan dirinya agar tidak termakan emosi.
"Sabar. Ini masih di kantor. Kita selesaikan ketika jam kantor usai." Katanya pada diri sendiri. Setelah itu dia berlalu dari tempatnya berdiri.
Pandu kembali ke ruangannya. Dia terus saja mendengar percakapan antara Gilang dan Pak Teguh. Rasanya ini semua seperti mimpi. Namun memang ini benar-benar terjadi. Seketika dia kembali teringat pada amplop cokelat pemberian Andi. Dia membuka laci meja dan mengeluarkan amplop tersebut. Sejenak dia memandang itu dengan pandangan kosong. Entah mengapa dia gugup melihatnya. Walaupun dia sendiri tidak yakin dia bisa mengenali orang dalam foto itu, namun dia akan mencobanya terlebih dahulu.
Pandu mulai membuka amplop cokelat itu. Dia mengambil foto yang ada didalamnya itu dengan perlahan. Memicingkan mata untuk mencoba mengenali sosok tersebut. Butuh waktu beberapa menit hingga dia paham siapa orang tersebut.
"Nggak mungkin." Gumam Pandu tidak percaya. Lagi-lagi takdir sedang memberinya kejutan yang tidak bisa dia perkirakan sebelumnya. Sehari dua kali kejutan dia terima. Akankah selanjutnya ada kejutan baru lagi yang lebih mencengangkan?