Ting tung ting tung....
Pandu berdiri di depan pintu kayu ber-cat cokelat. Tangannya masih setia memencet tombol. Lama tidak ada yang merespon dari dalam, dia kembali berinisiatif memencet tombol lagi. Hingga beberapa menit belum juga ada tanda-tanda pintu akan terbuka membuat Pandu menggedor pintu itu dengan cukup keras hingga membuat beberapa orang yang melewatinya memandangnya dengan tatapan aneh.
Clek.
Wajah orang yang terkejut tampak ketika pintu baru dibuka. Namun sayang, Pandu tidak bisa melihat itu. Orang itu lantas bersikap santai. "Tumben, Ndu." Hanya kata itu yang terlontar dari bibirnya.
"Lo nggak nyuruh gue masuk? Basa-basi doang kek." Balas Pandu yang sudah tidak bisa menyembunyikan kejengkelannya.
"Oh iya, masuk dulu gih." Kata Gilang cengengesan untuk menghilangkan kegugupannya. Tangannya membuka pintu agar terbuka lebih lebar. Kemudian dia sedikit menyingkir memberikan jalan untuk Pandu masuk ke rumah.
Pandu masuk ke dalam rumah. Dia melayangkan tatapan tajam ke arah Gilang. Sedangkan Gilang masih saja bersikap biasa saja. Karena memang dia tidak tahu apa yang akan terjadi setelah itu, walaupun dia melihat wajah Pandu yang masam, tidak enak dipandang. Sejenak Pandu mengedarkan pandangan ke seluruh penjuru ruangan. Ruangan yang sangat dia kenal. Interior dan desainnya tidak berubah sama sekali. Hanya ada satu yang berubah, sofa panjang berwarna hitam yang diletakkan disudut ruangan menemani meja kecil kosong tanpa ada barang apapun diatasnya.
"Kok nggak bilang dulu kalo mau kesini?" Tanya Gilang gugup. Dia seperti sedang menyembunyikan sesuatu.
Pandu tidak menjawab. Dia melihat kamar Gilang yang sedikit terbuka. Ditambah meja ruang makan yang berantakan dengan kertas-kertas. Entah kertas apa namun itu cukup mencuri perhatian Pandu.
"Ndu, kita keluar yok. Gue laper banget. Belum makan nih." Kata Gilang dengan bingung. Seperti ada sesuatu yang menyesak di d**a.
"Bentar." Kata Pandu pelan.
Pandu terus melangkahkan kakinya ke arah meja makan. Gilang menelan ludahnya dengan susah payah. Jantungnya berdetak dengan cepat. Dia takut Pandu melihat semuanya. Dan jika memang itu terjadi, maka semuanya sudah berakhir.
Pandu tersenyum sinis. Dia mengambil salah satu kertas itu dan menggenggamnya dengan erat. "Jadi benar ya." Gumam Pandu pelan.
"Apa, Ndu?" Tanya Gilang pura-pura tidak tahu.
"Lo, yang bikin semua jadi hancur seperti ini." Teriak Pandu dengan cukup keras. Dia mengepalkan kertas itu dan melemparkannya ke arah Gilang.
"Gue nggak nyangka Lo yang hancurin semuanya, Lang." Kata Pandu lagi.
Gilang hanya diam saja. Dia tahu semuanya akan ketahuan. Namun dia tidak pernah menyangka jika semuanya ketahuan dengan secepat ini. "Gu...gue..." Kata Gilang gagap.
"Ngapain Lo masih nyimpen ini semua? Lo udah rencanain ini semua dari lama?" Tanya Pandu dengan hati terluka. Semua itu terlihat dari raut wajahnya dan juga suaranya yang bergetar.
"Ya, gue udah rencanain ini semua dari awal. Karena gue tau dari dulu Lo itu serakah." Jawab Gilang yang sudah mulai terpancing emosinya. Bahkan dia mulai menuding dan melayangkan fitnah kepada Pandu. Walaupun sebenarnya dia tahu jika sepupunya ini bukan orang yang seperti dia bilang namun karena dia sudah terbawa emosi dia tidak bisa mengendalikan itu.
Pandu tidak bisa menahan dirinya lagi. Dia mendekati Gilang dan melayangkan pukulan ke arah Gilang dengan tajam. Entah pukulannya terkena bagian wajah mana, Pandu hanya melayangkan itu dengan asal karena memang dia tidak bisa melihat wajah sepupunya itu.
"Yang serakah itu Lo, bukan gue." Teriak Pandu dengan mencengkeram kerah baju Gilang. Wajahnya sudah merah menahan amarah, bibirnya bergetar dengan hebat.
Bugh.. Pandu masih terus melayangkan Bogeman bertubi-tubi ke arah Gilang. Pikirannya sudah di penuhi dengan emosi. Dia sudah tidak memikirkan tentang persaudaraan lagi, yang dia pikirkan bagaimana caranya dia puas melampiaskan amarahnya.
"Lo terus saja nyalahin gue." Kata Gilang yang kini sudah mulai bisa bangkit. Dia mulai memberi perlawanan kepada Pandu. Perlahan dia mulai melayangkan pukulan ke arah sepupunya itu. Tidak peduli dengan wajahnya yang lebam dan terasa perih, yang penting dia bisa membuat wajah sepupunya sama lebamnya seperti wajahnya. Dia melayangkan banyak pukulan yang juga dibalas dengan pukulan oleh Pandu. Hingga mereka saling memukul tanpa ampun karena tidak ada yang melerai mereka.
Entah berapa lama pertikaian mereka terjadi. Ruangan yang semula rapi kini berantakan. Barang yang ada diatas meja sudah bercecer dilantai. Bahkan guci kecil dan beberapa bingkai foto pecah. Ada tetesan darah, entah darah siapa. Namun yang paling parah adalah Gilang. Matanya sudah lebam hingga tidak bisa terbuka. Sedangkan Pandu hanya sibuk mengusap hidungnya yang mengeluarkan darah.
Pandu menatap Gilang dengan penuh kebencian. Begitu juga ketika dia menatap kertas-kertas yang berisi rekam medisnya itu. Dia tidak menyangka jika Gilang yang menyebarkan rahasianya. Padahal dia sudah sangat percaya dengan sepupunya itu tapi malah laki-laki itu yang juga dengan tega menghancurkannya. Kini dia tahu jika Gilang adalah dalang dari semua kegaduhan yang terjadi. Pak Teguh tidak akan tahu tentang penyakitnya jika bukan Gilang yang memberi tahu.
"Gue nggak rela Lo menjadi pimpinan." Ucap Gilang pelan. Bibirnya terasa sakit karena menerima pukulan dari Pandu secara berulang-ulang.
"Dari dulu aku udah mimpin perusahaan." Jawab Pandu singkat.
"Tapi Lo sembunyi dibalik ruangan. Gue yang dapat pengakuan, dan sekarang Lo mau rebut semuanya." Kata Gilang dengan keras.
"Orang tua gue ingin gue berubah. Mama sama Papa ingin gue hidup bersosialisasi. Gue sebagai anak selama ini udah banyak menyusahkan, keinginan orang tua gue cuma itu, kenapa gue nggak nurutin aja selagi gue mampu." Bantah Pandu membela diri. Dia masih terus mengusap hidungnya yang bercucuran darah.
Gilang tersenyum sinis. Dia berpikir jika Pandu pandai memutar balikkan fakta. Dia tidak percaya dengan apa yang dikatakan oleh Pandu. Bagi Gilang semua itu hanyalah alasan saja untuk membela diri sendiri.
"Banyak alasan." Ucap Gilang dengan sinis.
"Tadinya gue nggak ingin Lo pergi dari perusahaan, tapi setelah lihat apa yang Lo lakuin ke gue, gue akan segera membuat rapat disiplin buat Lo." Kata Pandu dengan tegas. Dia mulai bangkit walaupun tubuhnya terasa sangat lemas. "Gue pastiin Lo nggak ada sangkut pautnya apapun di perusahaan itu." Kata Pandu lagi.
Pandu membuka pintu dan menutupnya kembali dengan keras. Kakinya dia seret karena dia merasa sudah tidak sanggup berjalan lagi. Sebenarnya dia masih tidak percaya dengan apa yang dilakukan oleh Gilang kepadanya. Dia menganggap Gilang seperti saudara kandungnya sendiri, namun laki-laki itu dengan tega menyebarkan rahasianya. Dia sudah bertekad, jika dia tidak akan mengampuni Gilang lagi.