Pandu meletakkan ponselnya setelah dia melakukan panggilan kepada seseorang. Dia menyandarkan kembali kepalanya disandaran kursi dengan memejamkan matanya. Mencoba menenangkan pikiran dan mengendalikan emosinya. Dadanya masih naik turun karena emosi yang tertahan.
Clek. Seseorang dengan tiba-tiba membuka pintu mobil. Orang itu langsung masuk dan duduk di kursi penumpang. Melihat ke arah Pandu yang wajahnya babak belur membuat orang itu takut. Bahkan kotak P3K yang dia bawa terjatuh.
"Apa yang terjadi?" Tanyanya dengan kuatir.
Pandu membuka matanya. Dia menoleh ke samping kirinya, seketika dia menarik orang itu ke dalam pelukannya. Dia semakin mengencangkan pelukannya ketika dia merasa orang itu berusaha melepaskan pelukan.
"Seseorang yang ku percaya telah mengkhianatiku, Ra." Kata Pandu mengadu. Dia seperti anak kecil yang sedang mengadu kepada Ibunya bahwa ada anak lain yang nakal padanya.
Sakura tidak mengerti dengan ucapan Pandu. Dia hanya bisa mengulurkan tangannya untuk mengusap punggung Pandu sembari menenangkan laki-laki itu. Dia mendengarkan tangisan Pandu yang mulai terdengar. Ini pertama kalinya dia melihat laki-laki sekuat Pandu menangis. Terkadang seseorang yang kuat dari luar belum tentu dalamnya juga kuat. Mereka rapuh hanya saja bisa menyembunyikannya dengan sempurna seakan-akan mereka sedang baik-baik saja.
Sudah tiga puluh menit Pandu berada dipelukan Sakura. Kini dia sudah mulai tenang. Matanya terlihat semakin sembab. "Maaf, sudah membuat baju kamu basah." Kata Pandu pelan kepada Sakura. Dia melihat baju Sakura yang basah karena air matanya.
"Jangan pikirkan ini, pikirkan diri kamu dulu." Jawab Sakura sambil tersenyum.
Pandu hanya diam saja. Dia ingin mengusap air matanya namun tidak sengaja terkena luka yang ada disudut matanya. Hal itu membuat Pandu sedikit meringis kesakitan. Sakura meraih tangan Pandu. Dia meminta Pandu untuk diam saja karena dia akan mulai mengobati luka Pandu.
"Tahan ya, Mas." Kata Sakura pelan.
"Pelan-pelan." Gumam Pandu dengan memicingkan matanya. Kapas yang dipegang oleh Sakura belum kena lukanya namun itu sudah sukses membuat Pandu meringis.
"Aaww... Ahh." Keluh Pandu meringis. Walaupun Sakura sudah sangat pelan namun masih terasa sakit dan perih.
"Bentar, tahan dulu. Dikit lagi." Kata Sakura pelan. Dia dengan sabar dan telaten mengobati Pandu.
Pandu berusaha untuk diam, namun tetap saja rasa sakit itu tidak bisa dia tahan. Hingga akhirnya Sakura menutup kembali kotak itu dan disimpannya ke bangku belakang.
"Sudah ya?" Tanya Pandu memastikan.
"Sudah." Jawab Sakura sambil menganggukkan kepalanya.
Hening. Sakura memilih diam namun dia memperhatikan laki-laki yang ada disampingnya itu. Sakura bisa melihat kekecewaan dari raut wajah Pandu. Sedangkan Pandu masih sibuk dengan pikirannya sendiri. Lagi-lagi dia tidak ingin percaya namun memang ini kenyatannya.
"Orang yang sangat aku percaya tega mengkhianati aku." Kata Pandu lagi.
Sakura masih diam. Sebenarnya dia tidak tega melihat Pandu yang kentara sekali sedihnya. Dia hanya bisa menggenggam tangan Pandu dengan erat seakan-akan sedang menghibur laki-laki itu.
"Rasanya sakit sekali, Ra. Bahkan lebih sakit dari luka lebam yang aku dapatkan ini." Lanjut Pandu masih dengan suara yang bergetar. Dia seperti sedang menahan tangisnya namun terlalu malu jika harus kembali menangis didepan Sakura.
"Apakah nantinya kamu juga akan mengkhianati aku?" Tanya Pandu pelan. Dia menatap Sakura dengan lekat. Matanya berkaca-kaca ingin menumpahkan air mata yang sedari tadi dia tahan.
Sakura memeluk Pandu dengan erat. Dia tidak tahu masalah apa yang sedang dihadapi oleh Pandu. Namun dia merasa beban yang dipikul Pandu sangatlah berat. Hingga membuat laki-laki itu ingin menyerah dan putus asa. Dia juga tidak tahu siapa orang yang sudah mengkhiataninya. Apakah kekasih Pandu ataukah orang yang juga sama spesialnya seperti orang tua.
"Aku tidak akan mengkhianati, Mas. Aku akan berusaha selalu ada disamping Mas. Aku akan selalu ada ketika Mas butuh sandaran. Aku tidak tahu apa yang sedang Mas rasakan saat ini tapi aku tidak keberatan jika Mas mau membagi luka itu denganku." Kata Sakura kepada Pandu. Dia mengatakan itu dengan tulus. Karena setiap hal yang dia lakukan memang tulus.
"Terima kasih, Ra." Ucap Pandu dengan pelan. Dia membalas pelukan Sakura dengan erat.
Malam yang gelap dengan udara yang cukup dingin. Lampu mobil yang sengaja dinyalakan ditambah sinar rembulan yang menyorot ke dalam mobil membuat seseorang dari luar bisa melihat apa yang sedang terjadi didalam mobil tersebut. Seperti yang terjadi dengan Delon, dia bisa melihat Sakura sedang berpelukan dengan laki-laki lain. Terlebih dia sangat ingat bahwa mobil itu adalah mobil yang tempo hari dipakai Sakura ke kantor. Delon merasa jika perubahan sikap Sakura kepadanya karena adanya laki-laki itu. Dia ingin menarik Sakura keluar dari dalam mobil itu, namun dia mengurungkan niatnya dan memilih untuk pergi. Dahulu dia sudah mengatakan kepada Sakura jika dia tidak akan ikut campur dalam urusan Sakura, dia hanya akan membantu Sakura ketika Sakura kesusahan namun dia tidak akan mengganggu atau menuntut Sakura ketika gadis itu dalam kebahagiaan. Namun satu hal yang akan dia pastikan, dia akan meminta jawaban dari pengakuan yang dulu sempat dia utarakan. Sudah cukup dia memberikan waktu kepada Sakura, ini saatnya dia meminta kejelasan tentang perasaan Sakura kepadanya.
"Sudah malam. Kamu masuk gih, kasihan Papa kamu nanti nunggu sendirian." Kata Pandu pelan. Dia melepaskan pelukan Sakura dan meminta Sakura untuk kembali ke rumah. Walaupun sebenarnya dia tetap ingin Sakura ada disampingnya, menemaninya ketika pikirannya sedang kacau seperti ini.
"Iya, kamu pulangnya hati-hati ya. Kalau masih nggak fokus, panggil sopir pengganti saja." Kata Sakura yang tidak bisa menyembunyikan kekuatirannya.
"Aku baik-baik saja." Jawab Pandu sambil tersenyum. Ya, dia memang sudah lebih baikan dari pada tadi.
"Ya sudah aku masuk dulu ya. Kamu hati-hati pulangnya." Kata Sakura pelan. Dia mulai membuka pintu mobil namun tangannya masih digenggam oleh Pandu.
"Aku duluan ya." Kata Sakura lagi berusaha melepaskan tangannya dari genggaman Pandu.
Pandu memasang wajah memelas. Dia seperti anak kecil yang merajuk enggan ditinggal oleh Mamanya. Antara melepaskan Sakura atau menahan Sakura. Seperti bimbang. "Hati-hati ya, Ra." Kata Pandu mulai melepaskan genggaman tangannya pada tangan Sakura. Dia juga membalas lambaian tangan Sakura.
Sakura menganggukkan kepalanya. Dia menutup pintu mobil dan perlahan masuk ke kompleks perumahannya. Membuka pintu rumah dengan pelan seakan-akan takut ketahuan. Lampu ruang tamu sudah mati menandakan jika seseorang telah berada di ruang itu tadi dan sengaja mematikannya.
"Kenapa mengendap-endap gitu, Ra?" Tanya seseorang dengan suara dingin.
"Allah hu Akbar." Teriak Sakura yang terkejut. Bayangkan dalam ruangan yang tertutup dan gelap seseorang memanggilnya dengan suara besar dan dingin. Ditambah hanya ada bayangan besar saja.
Klik. Seketika ruangan menjadi terang. Delon menyalakan saklar lampu tiba-tiba. Dia ingin melihat ekspresi Sakura dalam ruangan yang terang. "Maaf udah bikin kaget." Kata Delon pelan.
"Kamu nginep di sini, 'kan?" Tanya Sakura pelan. Dia mencoba mencairkan suasana yang tegang ini.
"Nanti pulang setelah memastikan sesuatu." Jawab Delon masih dengan ekspresi dinginnya.
Sakura mengedipkan matanya berulang kali. Dia menjadi gugup sendiri ketika mendengar jawaban dari Delon. Entah mengapa dia merasa akan ada bahasan yang serius setelah ini.
"Memastikan apa?" Tanya Sakura santai. Dia berjalan pelan ke salah satu kursi yang ada di ruang tamu tersebut. Mendaratkan bokongnya di sana dan mencoba menetralkan detak jantungnya.
Delon mendekati Sakura. Dia juga ikut duduk disamping Sakura. Matanya menatap lekat ke arah Sakura sebelum dia mulai bertanya. "Ra, aku pernah bilang padamu jika aku tidak meminta jawabanmu dalam waktu dekat." Kata Delon mulai bicara.
Sakura menelan ludahnya dengan susah payah. Apa yang dia kuatirkan ternyata kejadian juga. "Iya," Jawab Sakura singkat sambil menganggukkan kepalanya.
"Aku nggak tau kamu sudah memikirkan tentang ini sebelumnya atau bahkan tidak pernah memikirkannya sama sekali tapi aku ingin jawaban dari kamu malam ini." Kata Pandu lagi. Dia menundukkan kepalanya karena tidak mampu jika terus menatap Sakura. Sorot mata Sakura yang polos dan tulus membuatnya tidak berdaya. "Supaya aku bisa menempatkan posisiku, apakah aku harus terus menunggu atau berhenti sampai disini." Lanjutnya.
"Ak..aku..." Kata Sakura gagap. Dia bingung harus memberikan jawaban bagaimana. Dalam hati dia hanya menganggap Delon sebagai saudara, tidak lebih dari itu. Sedangkan dia tidak punya cukup keberanian untuk menolak laki-laki itu. Kebaikan yang sudah dilakukan oleh Delon membuat Sakura tidak sanggup menyakiti laki-laki itu. Namun tetap saja perasaan cinta tidak bisa dia paksakan.