Delon masih diam. Dia masih menunggu jawaban dari Sakura. Dia tahu jika saat ini Sakura sedang bimbang. Namun dia akan terus menunggu, tidak ingin mengatakan apapun yang bisa membuat Sakura ada alasan untuk kabur. Kalaupun jawaban Sakura tidak seperti apa yang dia inginkan, dia ikhlas karena itu lebih baik daripada dia harus digantungkan perasaannya dan melihat Sakura dekat dengan laki-laki lain.
Hati siapa yang tidak sakit ketika melihat orang yang dicintai terlihat bahagia dengan laki-laki lain. Pasti semuanya tidak akan terima itu, termasuk Delon.
"Mas, bisa beri aku waktu lagi." Kata Sakura pelan.
"Untuk apa, Ra?" Tanya Delon dengan suara yang putus asa.
"Aku perlu berpikir." Jawab Sakura dengan yakin.
"Apa kamu bisa memastikan setelah aku beri kamu waktu lagi kamu akan menerimaku?" Tanya Delon dengan sarkasme. Dia tahu waktu yang akan dia berikan kepada Sakura tidak pasti membuat dia akan diterima oleh gadis itu. Karena hati dan perasaan cinta tidak bisa dipaksakan begitu saja.
Sakura menunduk. Benar kata Delon, jika Delon bersedia memberikan waktu lagi untuknya, itu tidak akan membuat keadaan berubah namun dia hanya akan mengulur waktu saja. Karena hati tidak akan bisa dipaksa untuk berubah begitu cepat. Dan yang ada dia akan semakin membuat Delon sakit.
"Ra, aku tidak memaksamu untuk memberikan kepastian hari ini. Aku akan tetap menunggumu seperti biasanya. Namun, satu hal yang harus kamu tahu, ketika kamu sudah tahu jawabannya, mungkin aku tak lagi ada ditempat yang sama." Kata Delon dengan bibir yang menyunggingkan senyumnya. Dia mencoba tetap tersenyum walau dalam hati sedang menangis.
"Mas, bukan begitu.. akk...aku.. aku hanya..." Kata Sakura bingung. Dia melihat jika Delon benar-benar terluka. Dari sorot matanya mengatakan jika laki-laki itu sedang tidak baik-baik saja.
"Gapapa, Ra. Untuk saat ini aku masih bisa menunggu kamu." Ucap Delon lagi. Delon bangkit dari duduknya. Dia menatap Sakura sekali lagi. "Aku pulang ya, Ra." Ucapnya lagi.
"Mas..." Hanya kata itu yang bisa keluar dari bibir Sakura. Matanya seakan-akan sedang mengatakan jika dia tidak ingin Delon pergi. Dia ingin membicarakan semuanya baik-baik. Dari hati ke hati, mencari jalan keluar bersama-sama bukannya pergi dalam keadaan terluka.
Ada kalanya kita harus tetap menunggu. Ditempat yang sama, masih menunggu orang yang sama. Ketulusan cinta bisa dibuktikan dengan kesetiaan bukan sekadar ucapan. Kata manis hanya penunjang, namun tindakan adalah bukti nyata. Namun, ketika bukti tak lagi bernilai, menyerah adalah pilihan terakhir.
Sakura hanya bisa diam, melihat punggung Delon yang semakin tidak terlihat. Hilang dibalik pintu dan kegelapan malam. Seperti ada sedikit rasa kehilangan namun tidak ada rasa untuk mengejar. Sakura bimbang, antara memilih Pandu atau menerima cinta Delon. Cinta Delon yang sudah nyata sedangkan cinta Pandu yang masih di ambang-ambang.
***
"Pagi, Mas." Sapa Sakura ramah sambil menyunggingkan senyumnya.
"Pagi," Balas orang itu dengan dingin. Sakura yang melihat itu hanya bisa diam. Hatinya tiba-tiba merasa tidak nyaman. Dia sudah terbiasa dengan sikap manis dan perhatian dari Delon dan sekarang tiba-tiba dia mendapatkan perlakuan dingin seperti ini.
Delon sengaja bersikap demikian. Walaupun dalam hatinya terasa nyeri namun dia tetap berusaha menahan. Terus menerus bersikap baik kepada Sakura hanya akan membuat cintanya semakin bertumbuh subur. Dan ujung-ujungnya itu akan membuatnya kesulitan untuk mundur.
Sakura seketika menghentikan langkahnya. Dia menatap punggung Delon yang terus menjauh, laki-laki itu tidak berhenti seperti biasanya. Biasanya dia akan berhenti sejenak sekadar menyapa Sakura atau menanyakan hal-hal sepele. Namun pagi ini berbeda, Delon terkesan cuek dan tidak peduli.
"Jalan yok." Kata seseorang dari belakang Sakura. Orang itu mendorong pundak Sakura agar Sakura segera melanjutkan tujuannya.
"Iya iya." Jawab Sakura pelan. Mau tidak mau dia kembali melangkahkan kakinya karena orang itu. Mereka satu divisi bahkan meja kerja mereka juga bersebelahan. Itu membuat mereka menjadi sangat akrab. Bahkan Sakura sering menjadi tempat curhat untuk orang itu.
Dari kejauhan, Delon menatap Sakura yang sedang sibuk bekerja. Ruangan mereka berhadapan, namun kaca ruangan Delon tidak terlihat ketika dilihat dari luar namun Delon bisa melihat luar ruangan.
"Kamu berhasil dengan mudah masuk ke hatiku, bersemayam disana hingga saat ini. Semakin hari aku semakin memupuk rasa itu hingga menjadi lebih besar, namun rasanya kamu enggan untuk tinggal selamanya." Kata Delon pelan. Seakan-akan kata itu terucap untuk Sakura, namun kenyataannya dia hanyalah seorang diri di ruangan ini.
Delon mengusap wajahnya. Semakin dia memandang Sakura akan semakin membuatnya terpikat. "Tuhan, bantu aku untuk melupakan dia." Kata Pandu dengan frustasi.
Dia kembali ke kursi kerjanya. Mencoba untuk fokus ke kerjaan dan sejenak melupakan Sakura. Sejak semalam pikirannya terpenuhi oleh Sakura seakan-akan tidak ada ruang lagi untuk memikirkan hal lain. Sakura seperti racun yang membuatnya kecanduan. Parahnya racun itu belum juga ada penawarnya, juga Delon tidak tahu bagaimana caranya dia berhenti berhubungan dengan racun yang membuatnya kecanduan itu.
Sedangkan ditempat lain, seorang laki-laki sedang memimpin jalannya rapat. Sesuai apa yang dia katakan kemarin, dia akan membuat rapat kedisiplinan untuk Gilang. Tentunya ini bukan hanya masalah Gilang yang menyebarkan rahasia Pandu saja, namun juga Pandu menemukan adanya penyelewengan untuk hal yang tidak berhubungan dengan kantor.
"Disini saya menemukan adanya bukti transfer untuk seseorang dan dana itu tidak ada hubungannya dengan kepentingan perusahaan." Kata Pandu dengan tegas. Dia juga menampilkan bukti itu dilayar lcd besar yang sudah disiapkan.
"Bisa lihat semua bapak dan ibu. Ini merupakan tindak penyelewengan dan juga korupsi." Kata Pandu lagi.
Semua orang yang ada di ruang rapat itu tampak sangat fokus pada layar. Mereka juga setuju dengan apa yang baru saja dikatakan oleh Pandu.
Ruangan menjadi berisik. Semua orang yang hadir disana ikut berbisik. Mereka seakan-akan sedang menyampaikan pendapat mereka. Hingga akhirnya Pandu merasa situasi semakin tidak kondusif dan memutuskan untuk menyampaikan keputusan yang sudah dia buat.
"Saya sudah mendiskusikan ini semalam dengan direktur utama jika Bapak Gilang akan didemosi." Kata Pandu menyampaikan keputusannya.
Gilang mengalihkan pandangannya. Dia menatap Pandu dengan pandangan yang sulit diartikan. Sedangkan Pandu masih tenang dan bersikap seperti semua berjalan sesuai kendalinya.
Pandu bangkit dari duduknya. Ketika merasa semua anggota setuju dengan keputusannya, dia mengakhiri rapat dan beranjak dari ruangan itu. Berada satu ruangan dengan Gilang hanya membuatnya merasa sesak dan tidak nyaman. Lebih baik dia meninggalkan ruangan itu dan melanjutkan pekerjaannya, karena masih banyak yang harus dia urus.