"Papa bosen ya Sakura ajak jalan-jalan di sini terus?" Tanya Sakura pelan sambil mendorong kursi roda yang diduduki oleh Papanya.
Joko menggelengkan kepalanya dengan pelan. Dia ingin mengucapkan sesuatu namun terasa sulit. Hanya gelengan kepala yang menjadi jawabannya.
"Weekend nanti kita kunjungi Mama bareng-bareng ya, Pa. Papa rindu Mama, 'kan?" Tanya Sakura lagi. Dia menghentikan kursi roda didekat bangku kayu. Setelah itu dia mendaratkan bokongnya disana.
Setetes air mata basahi pipi Joko. Sakura mengulurkan tangannya untuk mengusap air mata Papanya. Hatinya sakit melihat Papanya menangis seperti itu. Laki-laki setengah baya itu menganggukkan kepalanya dengan tidak bisa menahan air matanya. Setiap kali dia mengingat almarhumah istrinya, rasa bersalah kembali datang menghampirinya. Semakin hari rasa bersalah itu semakin besar. Dia merasa bersalah karena tidak bisa menjaga kesetiaannya dengan almarhumah istrinya. Andai saja dia bisa mencintai istrinya sampai ajal menjemput seperti istrinya mencintainya, mungkin hidupnya dan hidup putrinya tidak akan seperti ini.
Hidup mewah dalam rumah gedongan namun nyatanya semua itu hanya kebohongan. Mereka seperti pemulung lusuh yang berjalan di daerah perumahan elite. Dipandang rendah dan dihina. Memiliki segalanya namun tidak bisa menikmatinya.
"Pppaa...pa... rindu Maa..ma kaaam.. mu." Kata Joko dengan susah payah.
Sakura menahan air matanya agar tidak keluar. Dia tidak bisa menangis didepan Papanya. Karena nanti malah akan menambah kesedihan Papanya. "Sakura juga rindu sama Mama. Kita harus kunjungi dia ya, Pa. Mama pasti juga sedang menunggu kedatangan kita." Balas Sakura lembut. Dia menggenggam tangan Papanya dengan erat dan setelah itu menciumnya dengan hormat.
Tangan yang dulunya kokoh yang selalu melindunginya dari bahaya, yang selalu mengelusnya ketika dia susah tidur, selalu menggenggam tangannya ketika berjalan bersama kini terlihat lemah dan keriput. Kulitnya kering tak terawat. Seperti tidak ada tenaga. Jangankan menjaganya menjaga dirinya sendiri saja Joko tidak mampu.
"Papa harus sembuh supaya ketika Ara nikah nanti Papa bisa duduk di kursi tamu dan berjalan menggandeng Sakura saat akad akan dimulai." Kata Sakura menghibur. Dia selalu mengatakan sesuatu yang bisa membuat Papanya termotivasi untuk segera sembuh. "Papa juga harus duduk di depan menantu Papa dan menjabat tangan menantu Papa. Katakan juga kepada dia kalau Ara adalah putri yang baik hati yang tidak boleh disakiti. Papa juga harus melakukan sesuatu kepada dia kalau Sakura sedang disakiti sama dia." Kata Sakura lagi. Dia sengaja mengatakan itu.
Dalam hati Joko ingin mengatakan semua yang ada dibenaknya. Mengatakan bagaimana dia mencintai putrinya dan mengatakan jika dia menyesal karena memberikan ibu tiri yang buruk untuk Sakura. Dia juga ingin mengatakan jika dia menyesal telah meminta istri mudanya itu untuk mengurus perusahaan setelah dia sakit. Namun semua itu hanya ada dalam benaknya, tidak bisa dia katakan dengan mudah. Bibirnya sangat kaku dan kelu untuk mengatakan sesuatu. Jangankan mengatakan sebanyak itu, berkata satu kata saja rasakan sangat sulit dilakukan oleh Joko.
"Pa, Ara sekarang sudah besar." Kata Sakura mulai bercerita. Dia menyunggingkan senyum dan merasa sedikit malu ketika mau menceritakan sesuatu.
Joko menatap putrinya dengan lekat. Dia terlihat begitu antusias dengan apa yang akan putrinya ceritakan. "Iii...yaa..." Kata Joko pelan sambil menganggukkan kepalanya.
"Sakura suka sama cowok, Pa." Kata Sakura lagi dengan pelan. Dia kemudian menutup wajahnya menggunakan kedua tangan karena malu. Sakura yakin jika kedua pipinya sekarang pasti memerah seperti kepiting rebus.
Joko ikut tersenyum, hatinya menjadi senang. Dia ingin memeluk putrinya itu hanya saja dia tidak bisa meluapkan itu dengan mudah. Namun dari raut wajahnya dia tidak bisa menyembunyikan kebahagiaannya itu.
"Ssiii...apa..?" Tanya Joko pelan. Sebenarnya dia ingin bertanya banyak hal. Namun hanya kata itu yang bisa terucap.
"Seseorang yang Papa kenal." Jawab Sakura lagi. Dia masih menyembunyikan identitas laki-laki itu.
"Nnaak.. De lon?" Tanya Joko lagi. Entah mengapa hanya nama itu yang terlintas dipikirannya. Mungkin karena sikap Delon yang baik dan hangat kepada dia dan Sakura. Ditambah dia melihat jika Delon bisa menjaga Sakura dengan baik. Putrinya itu tumbuh dengan kekurangan kasih sayang, dan dia melihat jika Delon sangat tulus menyayangi putrinya, jadi dia merasa jika Delon adalah orang yang cocok untuk putrinya. Namun ketika putrinya tidak memilih Delon dan lebih memilih laki-laki lain, dia tidak akan melarang karena kebahagiaan putrinya adalah yang utama.
Sakura terdiam. Raut wajahnya seketika berubah ketika telinganya mendengar nama itu disebut. Tiba-tiba dia kembali teringat dengan laki-laki itu. Sudah dua hari ini Delon tidak peduli dengannya. Biasanya Delon akan menghampiri dia ketika jam makan siang telah tiba, atau Delon akan menunggunya di depan pintu dan memaksanya untuk pulang bersama. Namun kini laki-laki itu berbeda. Delon sama sekali tidak menunjukkan batang hidungnya.
Perubahan wajah Sakura cukup membuat Joko mengerti jika bukan Delon laki-laki yang disukai oleh putrinya itu. Namun dia juga penasaran dengan laki-laki yang dimaksud putrinya itu. Apakah laki-laki itu benar-benar bisa menjaga putrinya atau hanya sesaat saja? Dia takut jika laki-laki itu hanya mempermainkan hati putrinya saja seperti dia yang salah memilih istri muda.
"Sss....iapa pu..pun dia, ddia..ah hharus bbi..sa me..nerim..a kamu apa adh..anya." Kata Joko dengan susah payah. Dia tidak ingin putrinya hanya dibutakan oleh cinta sesaat.
Sakura menganggukkan kepalanya mengerti. Dia juga ingin mendapatkan laki-laki seperti yang diinginkan oleh Papanya. Mencintai dia dengan tulus dan menerima dia apa adanya, terlebih bisa menganggap Papanya seperti orang tuanya sendiri. Karena Sakura bukan hanya mencari suami untuk dirinya sendiri namun juga untuk Papanya.
"Doakan Sakura supaya Sakura bisa mendapatkan laki-laki seperti itu." Kata Sakura sambil tersenyum. Dia menggenggam tangan Papanya dan menciumnya dengan hormat.
Joko menganggukkan kepalanya pelan. Dia mengangkat sedikit tangannya dan mengelus pucuk kepala Sakura. Berkat terapi yang rutin dia jalani akhir-akhir ini membuat kesehatan Joko semakin hari semakin membaik.
Setiap hari Joko selalu berdoa untuk putrinya, selain dia berdoa untuk dirinya sendiri dia juga berdoa untuk putrinya salah satunya dia berdoa agar putrinya mendapatkan jodoh yang terbaik.
"Pa, kalau nanti Sakura menikah Papa harus tampil gagah dan tampan ya. Papa harus lebih tampan dari menantu Papa." Kata Sakura lagi sambil tertawa.
"Iii...yaa.. Paa pa memang taamm... pan." Jawab Joko menanggapi.
Sakura tertawa dengan keras. Dia bersyukur karena Joko sudah bisa merespon ucapannya dengan perkataan juga.
"Sakura akan belikan Papa setelah jas biar Papa ganteng." Kata Sakura lagi berbisik.
Joko hanya tersenyum sambil menganggukkan kepalanya. Jika dia boleh meminta dan langsung dikabulkan, dia ingin melihat senyum dibibir anaknya terus berkembang seperti ini.