Gilang membaca surat dari perusahaan. Dia menggenggam surat itu dengan erat, emosinya tiba-tiba meledak. Itu semua diluar prediksinya. Dia mengira posisinya dikantor akan tetap aman tapi ternyata tidak. Dia tidak pernah mengira jika sepupunya itu akan kembali ke perusahaan dan menggeser jabatannya.
"Makin hari kamu makin berani aja." Desis Gilang emosi. Dia melemparkan surat yang sudah tidak berbentuk itu ke lantai dengan keras.
Dia masuk ke dalam kamar dan menyambar kunci mobil yang ada diatas meja kecil. Pikirannya hanya satu, menemui Pandu dan protes dengan keputusan yang dia terima. Dia benar-benar menolak keputusan itu. Dia merasa jika keputusan itu sangat merugikan dirinya.
Gilang melajukan mobilnya seperti orang kesetanan. Menyalip banyak kendaraan dengan sembrono hingga membuat kendaraan lain membunyikan klakson untuknya. Dan Gilang sangat tidak peduli dengan hal itu.
Tidak butuh banyak waktu, Gilang sudah berada di gedung mewah dengan banyak lantai. Dia memarkirkan mobilnya dengan sembarangan. Keluar dari mobil dan berjalan dengan cepat. Menekan tombol lift untuk lantai 12 dan masuk ke dalam lift. Hatinya sudah bergejolak menahan emosi. Tangannya sudah terkepal sedari tadi. Ingin segera mendapatkan pelampiasan dan satu-satunya pelampiasan dia adalah bertemu dengan Pandu dan membuat Pandu babak belur dengan banyak luka di wajah maupun di badan.
Dok dok dok. . .
Gilang menggedor pintu apartemen Pandu dengan keras. Dia sudah tidak sabar ingin bertemu dengan sepupunya itu. "Buka, Ndu." Teriak Gilang dengan tangan yang masih setia menggedor pintu apartemen Pandu.
Pintu itu masih tertutup dengan rapat. Tidak ada tanda-tanda pemiliknya akan membuka pintu. Dengan tidak sabar, Gilang langsung menekan tombol kunci apartemen Pandu. Ya, dia memang hafal kunci Pandu karena memang dia sering sekali main ke tempat Pandu.
Matanya tidak menemukan keberadaan Pandu di ruang tamu. Dia langsung menyisir ke dapur. Lantas matanya menemukan Pandu yang sedang santai mengaduk kopi.
"Gue nggak mengira kalo Lo bakalan dateng secepat ini." Kata Pandu dengan tenang. Dia masih terus mengaduk kopi itu namun dia tahu siapa yang datang.
"Sepertinya Lo sedang menanti kedatangan gue ya, Brengsek." Kata Gilang dengan sinis.
Pandu berjalan pelan ke arah ruang tamu dengan tangan yang membawa secangkir kopi hangat. Malam yang dingin memang pas ditemani kopi hangat. Seakan-akan kehangatan itu tersalur ke tubuhnya.
"Gue tau apa yang akan Lo lakuin setelah Lo terima surat keputusan itu." Ucap Pandu tenang sambil menyesap kopinya. Dia tidak terganggu dengan tangan Gilang yang sudah mengepal siap melayangkan tinjunya. Jika saja dia orang normal yang tidak mengidap Prosopagnosia, dia pasti bisa mengetahui bagaimana ekspresi marah Gilang.
"Maksud Lo apa demosi gue sampai segitunya?" Tanya Gilang tanpa basa-basi.
"Masih mending Lo cuma didemosi, gue malah pengennya Lo keluar dari perusahaan." Jawab Pandu juga mulai terpancing emosinya.
"Kenapa nggak Lo pecat aja sesuai keinginan Lo?" Tanya Gilang menantang.
"Karna Papa masih lindungin Lo." Jawab Pandu dengan keras.
Gilang terdiam. Dia tahu jika dia memang sudah dianggap seperti anak sendiri oleh orang tua Pandu. Namun emosi yang meluap-luap membuatnya kalut dan ingin meminta Pandu supaya membatalkan demosi itu. Dia tidak bisa membayangkan setiap hari harus jalan menyusuri berbagai tempat dibawah terik matahari ditambah polusi dan harus berbaur dengan banyak orang. Menjelaskan kepada klien tentang wisata-wisata yang sedang dikunjungi, mengurus tiket masuk dan makanan mereka. Gilang tidak bisa membayangkan itu semua. Dia sudah terbiasa duduk di kursi empuk dengan ruangan ber-AC. Bertemu dengan orang-orang yang berpakaian rapi dan wangi. Jarang bersentuhan langsung dengan sinar matahari, bahkan makan siangnya pun sudah disiapkan oleh asistennya.
"Nikmati saja jabatan mu yang sekarang. Itung-itung liburan gratis." Kata Pandu sinis. "Kalo kamu ingin jabatan kamu yang semula, kamu harus memulainya dari bawah dulu." Kata Pandu setelah itu.
Gilang hanya diam saja. Dia masih sibuk dengan pikirannya sendiri. Membayangkan kehidupan kerjanya selanjutnya membuat Gilang takut melangkah. Kehidupan baru yang akan dia alami setelah ini membuatnya malas untuk memulai.
***
Delon membantu Joko turun dari mobil. Sakura juga ikut membantu Delon yang terlihat kuwalahan. Mereka baru saja pulang dari rumah sakit dan sekarang mereka ke tempat peristirahatan abadi Mama Sakura. Sesuai janji Sakura, dia akan membawa Papanya mengunjungi makam Mamanya dan hari ini Sakura benar-benar mengajak Papanya ke makam Mamanya.
Delon mendorong kursi roda Joko. Dia tidak menyangka sebelumnya jika dia akan berjalan bersama Sakura dan Joko hari ini. Sudah menjadi rutinitasnya setiap weekend dia akan mengunjungi Joko. Sekadar ngobrol atau membantu Joko bersih-bersih badan. Walaupun akhir-akhir ini dia sedang menjaga jarak dengan Sakura, namun dia tidak ingin menjaga jarak dengan Joko. Dia ingin tetap menyambung hubungan dengan laki-laki itu. Karena Delon berpikir jika masalahnya dengan Sakura tidak ada hubungannya dengan Joko.
Tidak lama setelah itu, Sakura berhenti di salah satu makam yang nampak sangat terawat dan bersih. Tidak ada rumput liar yang tumbuh disana, juga masih terdapat bunga diatas makam itu walaupun sudah mengering. Ya, siapa lagi yang melakukan itu semua kalau bukan Sakura. Walaupun dia sibuk namun dia tetap berusaha untuk sering-sering mengunjungi Mamanya itu. Sakura jongkok di depan makam Mamanya, Delon juga melakukan hal yang sama sedangkan Joko hanya terdiam diatas kursi roda dengan mata yang mulai mengeluarkan air mata.
"Ma, hari ini Papa datang bersama Sakura." Kata Sakura pelan sambil meletakkan bucket bunga diatas makam Mamanya.
"Papa bilang kalau dia rindu sama Mama." Lanjut Sakura lembut sambil tersenyum.
"Oh iya, Ma Sakura nggak cuma datang sama Papa aja tapi ada seseorang juga. Dia selalu membantu Sakura dan Papa." Kata Sakura sambil melirik ke arah Delon. Sedangkan Delon hanya tersenyum kecil. Sakura tidak pernah menyangka jika Delon selalu menjadi orang pertama yang dia kenalkan pada orang tuanya. Mungkin hanya kebetulan namun Sakura merasa semua itu sudah diatur oleh Yang Maha Kuasa.
Banyak hal yang Sakura bicarakan dengan Mamanya. Namun hari ini tidak sebanyak biasanya, mungkin karena dia malu ada Delon disampingnya dan ada Papanya juga.
Sakura mengeluarkan buku Yasin. Dia mulai membuka buku itu dan membaca ayat demi ayat yang ada didalam buku Yasin tersebut. Sakura sangat fasih saat membaca. Dia seperti anak Sholehah yang tidak pernah berhenti mendoakan orang tuanya. Hal itu menjadi sesuatu yang baru dari Sakura, Delon semakin jatuh hati dengan gadis sederhana itu. Setiap hal yang ada didalam diri Sakura membuat Delon semakin jatuh cinta.