Enam Puluh Lima

1008 Kata
Hari telah berganti minggu dan minggu sudah berubah menjadi bulan. Sudah dua bulan sejak kejadian terbongkarnya rahasia Pandu, kini Pandu semakin terbiasa dengan keadaan ini. Semua karyawannya juga sudah mulai menerimanya. Walaupun dengan kekurangan yang dia miliki, namun dia bisa membuktikan jika dia mampu memimpin perusahaan dan membawa perusahaan itu menjadi lebih baik lagi. Dengan memenuhi target yang sudah diberikan, Pandu memenuhi kriteria sebagai pimpinan idaman. "Bagaimana menurutmu?" Tanya Pandu pelan sambil berkaca. Dia hanya bisa melihat tubuhnya yang dibalut jas navy lengkap dengan dasi berwarna biru. "Sempurna, Pak. Anda terlihat gagah." Jawab Andi dengan sambil mengacungkan kedua jempolnya. Pandu tersenyum dengan bangga. Dia percaya dengan asistennya itu. Selama ini Andi juga yang sudah membantunya dalam bekerja. "Kita berangkat sekarang." Kata Pandu dengan percaya diri. "Baik, Pak Silakan." Kata Andi pelan sambil mempersilakan Pandu berjalan lebih dulu. Entah mau kemana mereka sekarang, pasalnya ini weekend dan Pandu berdandan dengan rapi. "Ndu, kamu mau kemana?" Tanya Rani yang saat itu baru tiba. Dia merindukan putranya itu dan memutuskan untuk menemui putranya di apartemen Putranya karena jika dia menunggu Pandu yang datang itu butuh waktu yang lama, namun baru saja masuk apartemen, putranya sudah bersiap akan pergi. Pandu terkekeh pelan sambil menggaruk kepalanya yang sebenarnya tidak gatal. Dia bingung harus menjawab apa. Karena memang tujuannya hari ini bukan karena ada urusan pekerjaan melainkan karena ingin ke suatu tempat. "Apakah ada masalah di perusahaan, An?" Tanya Rani kepada Andi ketika dia sadar jika tidak dapat jawaban dari Putranya. Andi melirik ke arah Pandu, dia juga sebenarnya tidak tahu akan kemana. Pekerjaannya hanya mematuhi perintah Pandu dan mengawal Pandu kemanapun. "Ada sesuatu yang harus Pandu urus, Ma." Jawab Pandu pelan sambil melanjutkan perjalanan. Dia tidak peduli ketika Mamanya meneriakinya dan menanyakan kemana dia akan pergi. "Pandu..." Panggil Rani yang tidak digubris oleh putranya. Pintu apartemen kembali tertutup rapat menelan putranya yang sudah menjauh. *** "Kak, makasih ya sudah banyak membantu Ara." Kata Sakura pelan. Saat ini dia sedang duduk di bangku taman samping rumah bersama Delon. Mereka baru saja pulang dari rumah sakit. "Aku tidak hanya sekadar membantu kamu, tapi aku juga membantu Papa kamu." Jawab Delon dingin. Harus dia akui jika usahanya untuk melupakan Sakura masih belum berhasil juga. "Ada yang ingin aku bicarakan." Kata Sakura pelan. "Ini tentang perasaan." Lanjutnya. "Bicara saja." Jawab Delon sambil memejamkan matanya. Dia tahu jika hari ini akan tiba, hari dimana dia mendapatkan penolakan secara nyata. Sakura berdehem sejenak sebelum bicara. Dia bingung memilih kata apa. "Kak, bukannya aku tidak suka denganmu hanya saja jika hubungan kita lebih dari saudara aku tidak siap." Kata Sakura pelan. Delon tersenyum kecut. Dia tahu jika ini akan terjadi. Walaupun dia berniat mengulur waktu, tetap saja Sakura tidak akan berubah pikiran. Hati seseorang tidak mudah untuk diubah, cinta seseorang juga tidak mudah untuk diatur. Semua sudah berada dalam kendalinya masing-masing. Semua sudah ada pada porsinya masing-masing. "Apakah lelaki itu yang kamu cintai?" Tanya Delon pelan sambil menatap Sakura lekat. Sakura memicingkan matanya. Lelaki siapa yang Delon maksud, apakah Delon tahu tentang Pandu? Karena tidak ada laki-laki lain yang dekat dengannya selain Pandu. "Siapa, Kak?" Tanya Sakura memastikan. Karena apa yang ada dalam pikirannya pasti berbeda dengan apa yang ada dipikiran Delon. Dia juga bukan cenayang yang bisa membaca pikiran Delon. Lebih baik menanyakannya supaya lebih jelas daripada hanya menerka-nerka sesuatu yang belum pasti. "Laki-laki yang selalu menjemputmu di depan kompleks." Jawab Delon pelan. Wajahnya dingin tanpa ekspresi. Dia tidak menunjukkan kesedihan namun tidak juga menunjukkan kebahagiaan, semuanya terlihat datar. Sakura memelototkan matanya tidak percaya, sejauh apa Delon mengetahui tentang kedekatannya dengan Pandu. Sakura selalu merasa jika tidak ada yang tahu tentang hubungannya dengan Delon selain Papanya. Bahkan Papanya hanya sekedar tahu Pandu tapi tidak tahu tentang hubungannya dengan Pandu. Papanya malah mengira jika Delon adalah laki-laki yang istimewa baginya. "Kamu tau?" Tanya Sakura lagi. Delon menganggukkan kepalanya pelan. "Beberapa kali aku tidak sengaja melihat dia jemput kamu depan kompleks, bahkan malam ketika aku katakan jika aku akan nunggu kamu, aku juga tau kamu baru saja ketemu dengannya di depan." Jawab Delon menjelaskan. Sakura tidak percaya dengan apa yang baru saja dia dengar. Dia tidak tahu jika Delon akan mengetahui tentang Pandu. Dan kini dia sadari jika secara tidak langsung dia sudah menorehkan luka untuk Delon. "Yang penting dia benar-benar bisa menjaga kamu." Kata Delon pelan. Sebenarnya dia masih merasa tidak rela namun dia berusaha untuk ikhlas melepaskan Sakura. Karena titik tertinggi mencintai seseorang adalah merelakan dia bersama orang yang dia cintai. "Maaf ya, Kak. Aku berharap tidak ada yang berubah." Kata Sakura pelan. "Tetep ada yang berubah, Ra." Jawab Delon pelan. Ya, dia tidak bisa memastikan jika tidak ada yang berubah karena bagaimanapun juga perasaannya kepada Sakura sangat besar, akan aneh jika dia terus bersikap baik-baik saja padahal hatinya terluka. Dia bukan seseorang yang bisa dengan pandai menyembunyikan luka dibalik sebuah senyuman. "Aku tau, tapi kita tetap satu keluarga, Kak." Kata Sakura pelan sambil mencoba untuk tersenyum. "Ya, kamu akan tetap menjadi adek sepupuku walaupun tidak ada aliran darah yang sama." Jawab Delon lirih. Dia juga berusaha menyunggingkan senyum walaupun sebenarnya bibirnya terasa kaku. Sakura menghela nafas lega. Dia takut jika tidak bisa mengembalikan hubungan yang hangat dengan Delon. Walaupun sebenarnya dia sadar jika setelah ini akan ada kecanggungan atau bahkan Delon akan menjaga jarak dengannya. Namun dia sudah lega karena bisa mengatakan semuanya, dengan kata lain dia tidak membuat Delon terperangkap dalam ketidakpastian perasaannya. "Kapan rencananya kamu akan mengenalkan aku dengannya?" Tanya Delon mencoba mencairkan suasana yang kaku ini. "Kalau sudah waktunya aku pasti akan mengenalkan Kakak ke dia." Jawab Sakura tanpa beban. "Jika dia tidak bersikap baik cepat katakan kepadaku, aku siap memberi dia pelajaran." Ucap Delon sambil mengacak-acak rambut Sakura. "Siap, Kak." Jawab Sakura dengan patuh. Seketika mereka tertawa bersama seakan-akan tidak pernah ada masalah apapun. Langit tiba-tiba menumpahkan hujan dengan cukup deras. Padahal cuaca terlihat sangat cerah, bahkan langit juga berwarna biru. Ini menggambarkan hati Delon saat ini, bibirnya menyunggingkan senyum, wajahnya terlihat sumringah dan bahagia namun sebenarnya hatinya sedang menangis dan terluka. Seperti awan yang cerah namun hujan yang memaksa turun tanpa bisa dicegah.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN