“DANI SIALAN!” teriak Senja memenuhi sudut mobil. Matanya memerah menahan kemarahan yang semakin menggelegak. “Mau kamu apa, sih? Belum cukup ancurin hati gue, huh!” Seperti orang kesetanan Senja memaki. Diinjaknya pedal gas keras-keras. Berharap segera sampai di rumah yang jarak tempuhnya hampir mencapai satu jam itu. “Aku nggak pernah ngusik kehidupan kamu tapi kalau Kaisar terluka sedikit saja karena ulahmu, jangan salahkan kalau aku juga bisa kejam.” Seolah sasaran kemarahan bersamanya, Senja terus memaki. Diambilnya gawai yang sebelumnya ia lempar di jok sebelah. Senja menghubungi nomor teratas dari panggilan sebelumnya tanpa melihat sang penerima. “Gimana, Bi? Orang itu nggak datang lagi, kan?” tanyanya panik. Penerima panggilan mengernyit. Menjauhkan layar ponsel dari telinga.

