Cinta Anita (Season 1)
BAGIAN 5
❀✿•♥•✿❀
Seminggu Kemudian…
Sore ini Benny akan mengajak ku untuk menghadiri acara ulang tahun perusahaan di tempatnya bekerja. Sebenarnya aku tidak ingin datang, tapi aku pikir tidak ada salahnya kan aku pergi untuk merilekskan pikiranku?
Lagipula Mas Raka dan Tania sudah pergi dari sejam lalu, entah pergi kemana mereka. Aku sempat meminta izin pada Mas Raka untuk pergi bersama Benny tapi Mas Raka hanya bilang dia tidak peduli.
Tok...Tok...
Suara ketukan pintu membuatku menoleh.
"Anita, apa kamu sudah siap?" tanya Benny dari luar kamarku sambil mengetuk pintu.
Aku berjalan mendekati pintu kamar dan membukanya. Senyumku mengembang saat melihat Benny yang sedang tersenyum hangat kepadaku, dia terlihat tampan dan gagah dengan setelan jas hitam santainya.
"Anita kamu terlihat sangat cantik." Puji Benny membuat wajahku bersemu merah.
"Terima kasih Ben..." balasku tersenyum.
"Yuk kita pergi," Ajaknya dengan wajah berseri.
Aku hanya mengangguk, kemudian kami jalan beriringan keluar dari rumah milik Mas Raka. Setelah menutup pintu rumah, kami berdua berjalan menuju garasi mobil. Benny membuka pintu mobilnya untukku, diperlakukan seperti itu membuatku tersenyum, baru kali ini ada seorang pria yang memperlakukanku dengan cara manis. Suamiku saja tidak pernah melakukan hal ini untukku. Kemudian aku masuk ke dalam mobil Benny, tidak lama Benny masuk ke dalam mobilnya. Lalu pria itu langsung menstrater mobilnya dengan kecepatan sedang.
Sepanjang perjalanan Benny tidak berhenti bercerita tentang dirinya, mendengar ceritanya membuat aku tertawa sepanjang perjalanan. Benny, dia adalah pria yang sangat humoris dan sepertinya dia gampang bergaul dan membuat orang disekitarnya nyaman bila berada di dekatnya. Aku terus memandangi wajahnya yang sedang sibuk mengemudi, aku tersenyum sesaat ketika melihat wajahnya yang membuat hatiku teduh.
Ya Tuhan Anita apa yang sedang kamu pikirkan, kamu sudah menikah Anita. Aku mendesah kencang karena telah mengagumi pria lain selain suamiku.
"Ada apa Anita?" tanya Benny menatapku sekilas, aku hanya menggeleng dan tersenyum.
Benny hanya menggeleng pelan kemudian tangannya mengusap kepalaku membuatku tertunduk malu. Entah kenapa aku merasa nyaman bersama Benny.
❀✿•♥•✿❀
Tidak lama kami tiba di salah satu hotel terbesar di Jakarta. Benny langsung memparkirkan mobilnya, kemudian Benny dan aku membuka pintu mobil bersamaan, lalu kami berdua berjalan menuju pintu masuk acara ulang tahun perusahaan tempat Benny bekerja. Aku memandang takjub pesta ulang tahun ini, dekorasinya sangat begitu mewah dan acara ini dihadiri oleh orang-orang penting dan para karyawan yang berkerja di perusahaan ini.
Tiba-tiba aku merasakan sentuhan di pinggangku, Benny merangkul pinggangku, aku langsung menatap Benny dengan pandangan canggung. Tapi sepertinya pria itu tidak menyadari itu semua, dia malah semakin menarik pinggangku ke dalam dekapannya. Kurasakan jantungku berdebar kencang, Ya Tuhan… Batinku.
"Hai semuanya..." Sapa Benny kepada beberapa orang yang sedang berkumpul di sudut gedung pesta ini.
"Wah Boss Benny, baru dateng?" tanya seseorang kepadanya dengan tertawa. Benny hanya mengangguk sambil menjabat tangan salah satu rekannya.
"Bawa siapa Ben? Baru kali ini kau bawa wanita," Seru seseorang membuat Benny tertawa.
Benny langsung menatapku tersenyum membuatku salah tingkah, "kenalkan ini Anita..." Ucapnya memperkenalkan aku dengan rekan-rekannya.
"Anita siapanya Benny?" tanya Seseorang yang bernama Hendri kepadaku.
"Sudah kau tidak usah tahu dia siapa aku, yang penting saat ini dia wanita yang istimewa untukku." Ucap Benny membuat wajahku kembali bersemu merah.
Benny, pria itu membuatku malu saja!
Tidak butuh waktu lama aku bisa beradaptasi dengan teman-temannya Benny, mereka semua membuatku nyaman dan Benny begitu menjagaku. Entah kenapa aku menjadi agak sedikit kagum dengan Benny. Tuhan jika saja Mas Raka bisa bersikap seperti ini kepada ku, aku pasti akan menjadi wanita yang paling bahagia.
"Loh, kamu kan istri pertama Raka?" Seru seseorang yang tiba-tiba datang di tengah kami. Aku langsung menatap orang itu dengan pandangan bingung, "Sedang apa kamu disini? Raka berada disana bersama madumu..." Ucapnya membuat teman-teman Benny menatap aneh kepadaku.
Aku hanya terdiam ketika orang itu mengatakan seperti itu. Aku benar-benar tidak percaya Mas Raka dan Tania berada disini.
"Raka!" teriaknya membuat Raka menoleh ke arahnya dan menatap kami. "Istri pertamamu disini!" teriaknya kembali membuat semua orang menatap kearahku, aku menyadari tatapan Mas Raka sangat terkejut saat melihatku berada disini.
"Maaf, tolong pergi dari sini dan jangan pernah mencampuri urusan orang lain." Desis Benny dengan penuh amarah.
"Santai! saya hanya ingin memberitahu kepada wanita ini, pantas saja Raka menikah lagi ternyata istri pertamanya begitu murahan." balasnya membuat hatiku sakit, “dibelakang suaminya dia berani berkencan dengan adik dari suaminya sendiri!” hinanya kembali dengan senyuman kecut.
Tiba-tiba Benny meninju wajah pria itu, aku yang melihat itu sangat terkejut, "Benny!" pekikku, tidak lama semua orang langsung memperhatikan kami dengan penuh tanda tanya.
"Sekali lagi saya mendengar kau menghina dia, saya akan menghabisimu!!" Ancam Benny dengan rahang bergemertak sambil menarik kerah Pria itu.
"Ben, sudah!" kataku pelan sambil menarik tubuh Benny agar melepaskan cengkramannya dari pria itu.
Benny melepaskan cengkaramannya, sorot matanya menatap pria itu dengan penuh kebencian. Kemudian pria itu bangkit sambil menyerka sudut bibirnya yang berdarah dan tersenyum jahat kepadaku, aku hanya tertunduk ketika tatapan kami bertemu. Ingin sekali aku menghajar pria itu, tetapi aku tidak ingin semakin memperkeruh suasana, apalagi ada Mas Raka di pesta ini aku tidak ingin mempermalukannya. Aku bisa meraskan semua orang yang berada di pesta ini menatapku dengan pandangan remeh, aku yang mengetahui hal itu hanya bisa terdiam.
“Anita, kamu baik-baik saja?” tanya Benny khawtir, aku hanya mengangguk dengan senyuman tipis. Kemudian Benny menggengam tanganku dan mengajakku keluar dari gedung pesta ini.
"Aww!" pekikku meringgis kesakitan ketika kurasakan cengkram kencang pada lengan tanganku.
Saat aku menoleh, ternyata Mas Raka yang mencengkram lenganku. Sorotan kedua matanya menatapku penuh amarah. Lalu tidak lama dia menarik ku keluar dari gedung ini, sehingga genggaman tangan Benny kepada tanganku terlepas begitu saja. Aku menatapnya dengan pandangan sayu, Benny sendiri tidak bisa menahanku karena dia tidak punya atas diriku. Aku hanya bisa menangis saat Mas Raka menarik ku dengan begitu kasar. Setibanya di parkiran Mas Raka melepaskan cengkraman tangannya, dia menatap ku dengan pandangan sinis membuatku sedikit ketakutan.
"Sedang apa kamu disini?!" tanyanya mendesis. Aku hanya terdiam dan tidak menjawab pertanyannya. "sedang apa kamu disini, Anita?!" tanyanya kembali dengan suara berteriak. "kamu sudah membuatku malu! Kamu memang pembawa sial Anita!" Makinya membuatku menangis. "kesabaranku sudah mulai habis untukmu Anita, kamu hanya penganggu hidupku. Aku tidak tahan lagi hidup bersamamu!" Teriaknya tanpa memperdulikan perasaanku yang sakit mendengar semua perkataanya.
"Apa salahku mas, kenapa kamu selalu menyalahkanku?" tanyaku dengan suara serak.
"Kamu masih bertanya salahmu apa?! Kamu sudah membuat hidupku menderita Anita, kamu sudah merusak kebahagianku!" Balasnya dengan mata melebar dan penuh amarah.
"Aku minta maaf jika aku sudah membuat hidup mas menderita dan merusak kebahagian mas." kataku tertunduk, “Tapi aku mohon kepadamu Mas jangan terus menyalahkan aku…” pintaku terisak.
"Yang kamu bisa lakukan hanya minta maaf dan menangis! Pergi dari sini jangan membuatku tambah malu!" Bentaknya dan mendorong bahuku begitu kencang.
Mas Raka langsung pergi dari hadapanku dan kembali masuk kedalam acara pesta itu tanpa mempedulikan perasaanku. Aku hanya bisa menangis melihat dia memperlakukan itu semua kepadaku, tidakkah dia memikirkan perasaanku walau hanya sedikit? Aku baru saja dihina oleh temannya dan sekarang dia malah terus menyalahkanku atas kesalahan yang tidak pernah ku buat. Kenapa Tuhan rasa cinta yang kau berikan kepadaku sangat menyakitkan hatiku?
Tidak lama Benny datang menemuiku, lalu pria iu menyerka airmata ku, "Maafkan aku Anita, seharusnya aku tidak mengajakmu ke tempat ini..." Ucapnya lirih, aku hanya tersenyum lirih memandanginya.
Aku langsung memeluk Benny dan menangis kencang dipelukannya. Aku butuh seseorang saat ini untuk meluapkan semua kesedihan ku. Kurasakan Benny membalas pelukanku sambil mengusap punggungku. Pelukan Benny terasa hangat membuat hatiku sedikit tenang.
❀✿•♥•✿❀
Keesokan harinya...
Aku baru saja terbangun dari tidurku, menangis semalam membuat kepalaku sakit. Napasku berhembus kencang saat menemukan Benny yang sedang terlelap di sofa, senyumku mengembang memandangi wajahnya yang begitu damai jika sedang tertidur. Semalaman dia terus menemaniku yang menangis tanpa mengatakan apapun, dia juga membiarkanku menangis di bahunya. Pria ini begitu baik kepadaku, kehadiranya di rumah ini membuat sedikit kesedihanku agak berkurang.
"Terima kasih Ben..." Ucapku tersenyum.
Lalu aku melangkahkan kakiku menuju dapur, aku ingin membuatkan sarapan untuk Benny. Aku akan membuatkan nasi goreng kesukaannya sebagai ucapan terima kasih dariku. Saat melewati kamar Mas Raka, ku lihat pintu kamar mas Raka dan Tania masih terbuka, sepertinya semalam mereka tidak pulang.
Jujur saja aku sudah tidak sanggup dengan semua ini, tetapi rasa cintaku kepada Mas Raka mengalahkan rasa sakit hatiku kepadanya. Sejak awal aku mengizinkan Mas Raka menikah lagi seharusnya aku pergi dari kehidupan Mas Raka. Awalnya aku sempat yakin Mas Raka akan mencintaiku suatu hari nanti, tapi sekarang aku menjadi ragu dengan keyakinanku terhadap Mas Raka. Cinta memang harus berkorban, tapi untuk apa semua itu jika pria yang ku cintai tidak mencintaiku?
Aku menghela napas berat jika mengingat peristiwa menyesakan tadi malam. Tidak lama Aku mendengar suara mesin mobil diluar, pasti itu suara mobil milik Mas Raka. Dalam hitungan menit mereka berdua masuk kedalam rumah, Mas Raka sama sekali tidak menatapku dan langsung masuk ke dalam kamarnya, wajahnya terlihat penuh kemarahan. Aku hanya menatapnya tidak peduli. Kemudian ku lihat Tania berjalan menghampiriku dengan pandangan remeh.
"Anita, Raka marah besar kepadamu atas kejadian memalukan tadi malam!" Seru Tania sambil melipat kedua tangannya, "kenapa kamu kemarin datang ke pesta itu?! kamu ingin membuat Raka malu?!" tanyanya sinis.
Aku hanya terdiam dan tidak berniat membalas pertanyaanya itu. Aku sangat malas berdebat dengannya. Lalu aku membuka lemari es dan mengambil beberapa sayuran disana.
“Hai Anita! Jawab pertanyaanku!” seru Tania dengan nada membentak, aku hanya menatapnya tidak peduli dan melanjutkan aktifitasku, “kamu ini tuli yah?!” serunya kembali sambil menarik bahuku kasar.
Aku langsung menyingkirkan tangannya dari bahuku dan menatapnya dengan mata melebar. Tania menatapku penuh dengan amarah, aku bisa merasakan sorotan kebencian dari sinar matanya untukku.
"Aku yang mengajaknya ke pesta itu!" seru Benny tiba-tiba membuat aku dan Tania menoleh kearahnya.
Tania tersenyum kecut, "Kamu mengajaknya ke pesta itu? Untuk apa Ben?!" tanyanya dengan wajah kesal.
"Bukan urusanmu!? Itu hak ku ingin mengajak siapapun. Jadi kamu jangan pernah kamu menyalahkan Anita!" Seru Benny penuh amarah sambil menunjuk wajah Tania.
Tania menggeleng pelan, lalu dia kembali menatapku, "kamu tahu Anita, kamu disana jadi bahan perguncingan! Mana ada seorang wanita yang sudah beristri pergi dengan lelaki lain! Dasar murahan!” hinanya dengan senyuman menyeringai.
Aku yang mendengar ucapan Tania mencoba tegar dan tidak terpancing emosi, "terserah orang lain mau bilang apa tentang diriku, aku tidak peduli. Lagipula mas Raka juga tidak peduli dengan hidupku dan dia juga tidak menganggap ku istrinya…." kataku tersenyum membuat Tania terperangah dengan perkataanku.
"Kamu sekarang sudah berani melawan kata-kata ku?!" tanya Tania sambil bertolak pinggang.
"Untuk apa aku takut padamu? Selama ini aku diam dan sabar kepadamu hanya untuk menjaga perasaan Mas Raka saja, tapi apa yang dia lakukan kepadaku? Dia hanya bisa menyakiti perasaanku!" Balasku setengah berteriak. Aku langsung memejemkan kedua mataku ketika tangan Tania ingin menamparku, aku membuka perlahan mataku aku melihat lengan Tania sedang di cengkram oleh Benny.
"Dengar Tan, lebih baik kamu urus saja kehidupanmu. Jangan pernah sakiti Anita, dia lebih baik darimu!" Desis Benny dan melepaskan tangan Tania dari cengkramannya.
"Buat apa kamu membela dia?! Wanita ini telah mempermalukan kakakmu dan asal kamu tahu semua orang membicarakanmu juga kalau kamu menyukai kakak iparmu sendiri!" seru Tania.
"Aku sama sekali tidak peduli dengan semua spekulasi mereka tentang ku dan tentang Anita! Lebih baik kamu pergi ke kamarmu sebelum aku kehabisan kesabaran!" ancam Benny membuat Tania menatapnya tajam.
“Kau sangat menyebalkan Benny Pratama! Aku sangat membencimu!” maki Tania dan pergi dari hadapan kami berdua.
Setelah kepergian Tania, aku terduduk lemah di kursi. Semua permasalahan ini sangat menyesakan hatiku Tuhan. Benny yang melihat ku tertunduk sedih, menghusap bahuku untuk menenangkan hati ku. Aku memeluk pinggang Benny dan menangis sejadi-jadinya.
Tidak lama aku melihat Mas Raka masuk ke dalam rumahnya, langkahnya terhenti seketika saat melihatku dan Benny. Mas Raka menatapku penuh kebencian, tetapi aku tidak memperdulikannya. Lalu ia pergi dari hadapan kami menuju kamarnya dengan penuh amarah.
❀✿•♥•✿❀