Bagian 4

1698 Kata
BAGIAN 4 Cinta Anita (Season 1) ❀✿•♥•✿❀ Malamnya... Sepanjang waktu aku menunggu kepulangan Mas Raka, aku ingin memberitahunya bahwa adiknya datang. Aku mencoba menelpon mas Raka tapi dia tidak pernah mengangkat telepon dariku. Tiba-tiba suara mobil mas Raka terdengar, aku melesat menuju pintu rumah dan membuka pintu. Senyumku mengembang saat melihat Mas Raka yang baru saja turun dari mobilnya. Setelah dia berada dihadapanku, aku mengulurkan tanganku untuk memberi salam kepadanya, seperti biasa dia tidak membalas uluran tanganku. Aku mencoba tersenyum dengan perlakuanya kepadaku. "Mas, ada yang---" "Anita aku baru pulang, bisa tidak, kamu tidak menggangu aku?!" Ucapnya membuatku terdiam. Seperti itulah mas Raka dia selalu menghindar ketika aku ingin bicara kepadanya. Mas Raka langsung berlari menuju kamarnya untuk menemui istrinya, aku melihat pemandangan itu dengan miris. Ku lihat Mas Raka  duduk di hadapan Tania sambil mengelus perut Tania yang semakin membuncit. Sampai kapan Mas aku menahan rasa sakit ini untukmu? Batin ku lirih, Ingin rasanya aku berada di posisi Tania yang selalu berada di dekat Mas Raka. "Anita!" panggil Mas Raka marah kepadaku, aku menghampirinya dengan jantung berdegup kencang. "Ada apa Mas?" tanyaku hati-hati. "Kamu bagaimana sih?! Aku kan sudah bilang Tania itu harus minum vitaminya jam delapan tepat dan sekarang kamu belum memberikan vitaminnya." Ucap Mas Raka dengan wajah merah menahan marah. "Maaf aku lupa." Jawabku tertunduk. "Lupa! lupa! Kamu selalu saja pelupa! Sekarang cepat kamu ambil vitaminya!" Bentak Mas Raka kepadaku. Aku langsung berlari menuju dapur. Tega sekali mas Raka, dia sungguh kelewatan kepadaku, apa salah aku sebenarnya? Aku sudah menuruti semua perintahnya, tapi kenapa dia tetap bersikap kasar kepadaku. Apa mas Raka tidak memikirkan sedikitpun perasaanku? "Anita..." seru seseorang membuatku terkejut sehingga vitamin yang aku ambil terjatuh. Aku langsung menyerka airmataku dan mengambil vitamin milik Tania yang terjatuh di lantai, "kamu menangis?" tanya Benny dengan kening berkerut, aku hanya menggeleng tersenyum, "kamu ada masalah dengan Raka?" tanyanya kembali, lagi-lagi aku menggeleng. "Kamu pasti belum makan, aku sudah menyiapkan makanan untukmu di meja." Kataku mengalihkan pembicaraan, kemudian aku meletakan vitamin untuk Tania di atas meja maka, lalu mengambil piring dan menuangkan beberapa sendok nasi dari rice cooker untuk Benny. Benny, pria itu masih berdiri memandangiku yang sedang sibuk mengambil nasi untuknya. Aku tahu pasti pria itu bertanya-tanya, apa yang terjadi denganku? Aku harus menyembunyikan semuanya ini dari pria itu. ❀✿•♥•✿❀ Keesokan harinya… Aku tersenyum lirih ketika melihat Mas Raka sedang menggendong tubuh Tania di teras rumah kami. Aku tahu aku tidak akan pernah ada di hati Mas Raka, bahkan aku yang telah merampas kebahagian Mas Raka dan Tania, tapi boleh kah aku bahagia walaupun hanya satu menit? Sekarang mereka begitu bahagia dengan calon buah hati mereka sedangkan ku disini hanya seorang diri tanpa kebahagian. Aku sangat kecewa dengan perlakuan Mas Raka kepadaku selama ini, tapi aku tidak bisa membencinya, sampai kapanpun aku tidak bisa membenci Mas Raka. "Anita..." panggil seseorang tiba-tiba dan berdiri tepat di belangku. "Benny?" pekikku  terkejut. "Sedang apa kamu disini?" tanyanya menaikan satu alisnya, aku menggeleng pelan. "aku lihat kamu sering melamun dan sejak aku tiba disini wajahmu selalu sedih." Ucapnya dengan kening berkerut. "Itu hanya perasaanmu saja, mau teh hangat?" tawarku untuk mengalihkan pembicaraan. "Tidak terima kasih…” tolaknya tersenyum, “Ohya aku belum bertemu dengan Raka sejak kemarin, apa dia ada di rumah pagi ini?" tanyanya menatapku, "Suara siapa itu?" Ucapnya ketika dia mendengar suara tawa Tania dari luar rumah kami. Benny langsung membuka gorden, "Tania? Sedang apa wanita jalang itu di rumah ini?" tanyanya dengan pandangan marah kepadaku, aku tidak mengerti dengan pertanyaan Benny. Kemudian pria itu berlari menuju teras dengan wajah penuh amarah. Aku yang melihat kemarahan pria itu langsung mengikuti Benny, aku tidak ingin lelaki itu melakukan hal yang buruk kepada mas Raka. "Raka! Tania!" Teriak Benny membuat mereka kontan menoleh. "Benny?!" Pekik Tania dan Mas Raka berbarengan, wajah mereka tampak terkejut dengan kehadiran Benny. Benny tertawa remeh, "perut buncit? Sial!" umpatnya. "Sejak kapan kamu datang Ben?" tanya Raka kepada Benny. "Sejak kemarin!" Jawab Benny singkat. "Anita kenapa kamu tidak memberitahu kepadaku, jika Benny datang ke rumah?!" tanya Mas Raka marah kepadaku. "Maaf mas, aku sudah mau memberitahu kamu, tapi kamu tidak memberiku kesempatan untuk--" ucapku terputus. "Banyak alasan kamu Nit!" bantak Mas Raka membuatku tertunduk. "Raka, apa yang dilakukan Tania disini?" tanya Benny menatap tajam Mas Raka. Wajah Raka begitu salah tingkah, "Apa yang dilakukan Tania disini, Raka?" tanya Benny kembali dengan penuh penekanan. "Kami sudah menikah." Jawab Raka sambil menggengam tangan Tania. Benny tertawa miris, "Sudah kuduga kalian berdua memang b******k. Walaupun kamu kakakku sekalipun Raka!" Teriaknya dan pergi dari hadapan kami. "Ini semua gara-gara kamu, Anita!" Desis Mas Raka kepadaku. "Kenapa kamu selalu menyalahkan aku Mas?" tanyaku. "Semenjak kamu hadir kamu hanya pembawa masalah untuk hidupku!" Ucapnya menabrak tubuhku kasar. Aku hanya menatap punggung mas Raka lirih. Dia selalu menyalahkanku, padahal aku tidak tahu dimana letak kesalahanku kepadanya. Ya Tuhan…. ❀✿•♥•✿❀ Aku memandangi Benny yang tengah mundar-mandir di kamarnya. Sebenarnya ada apa diantara Mas Raka, Tania dan Benny yang tidak ku ketahui? Kemudian Aku melangkahkan kaki ku ke kamar Benny dengan membawa segelas s**u cokelat untuknya. "Ben..." Panggilku pelan membuatnya menoleh dan tersenyum hangat kepadaku, "Maaf, kamu belum makan dari tadi. Aku membawakan s**u coklat untukmu," kataku. "Terima kasih Anita..." Ucap Benny sambil menyesap s**u cokelat yang ku buatkan, "Anita bolehkan aku bertanya sesuatu padamu?" tanyanya membuatku mengangguk, kemudian dia meletakan gelas itu di atas meja, "Kenapa kamu mengizinkan Raka menikahi Tania?" tanyanya membuatku terdiam. "Aku tidak mengerti, bagaimana wanita sepertimu, merelakan suaminya untuk menikah lagi." Ucapnya dengan pandangan heran. "Karena aku terlalu mencintai Mas Raka, aku hanya ingin melihat Mas Raka bahagia." Kataku dengan wajah tertunduk menyembunyika airmataku yang akan menetes sebentar lagi. Benny mengangkat dagu ku dan menatapku dalam, "Beruntung sekali Raka bisa menikah denganmu Anita. Walaupun hatimu sakit, kamu tetap masih mencintainya..." Ucapnya. Aku berusaha menahan tangisku, aku tidak ingin Benny kasihan denganku dan aku tidak ingin terlihat lemah didepannya. "Apa aku boleh bertanya?" tanyaku, Benny mengangguk pelan. "Ada masalah apa sebenarnya kamu dengan Tania dan Mas Raka.?" Benny terduduk lemah di tepi tempat tidurnya, "Dulu aku pernah berpacaran dengan Tania, tapi mereka berdua berselingkuh di belakangku.” Ucapnya membuatku terperangah, “Saat mendengar kabar Mas Raka sudah menikah denganmu aku bahagia mendengarnya, karena Mas Raka akan bisa menjauh dari wanita jalang itu! Tapi ternyata mereka menikah, aku tidak percaya!” katanya dengan wajah kesal. Hatiku yang mendengar itu semua sangat teriris bahkan, kurasakan wajahku memanas terasa di tampar. Ternyata bukan hatiku saja yang sakit, tapi Benny juga merasa sakit hatinya. "Aku sangat membenci Raka dan Tania!" desisnya geram. Lagi-lagi air mataku menetes, Mas Raka kenapa dia bisa setega itu dengan adiknya. Apa dia tidak memikirkan perasaan adiknya? Perasaanku saja sakit sekali dengan perlakuan Mas Raka kepadaku. Ya Tuhan kenapa aku harus mengalami semua ini, kenapa cinta ini begitu menyakitkan untukku dan Benny. "Anita..." panggil Benny membuatku tersadar dari lamunanku, "kamu menangis?" tanyanya membuatku tersenyum dan menyerka airmataku. "Aku permisi dulu yah Ben... jangan lupa susunya dihabiskan..." kataku tersenyum dan berjalan keluar kamar Benny dengan perasaan terluka. ❀✿•♥•✿❀ Dua minggu kemudian... Aku sedang menyiapkan sarapan untuk suamiku, Tania dan Benny. Sudah dua minggu Benny tinggal disini dan dia terus menghindari Mas Raka dan Tania jika bertemu dengannya. Benny mengatakan padaku dia ingin segera pergi dari rumah ini, tapi dia mengurungkan niatnya itu untuk beberapa waktu ke depan, entah apa alasannya. Kemudian aku menuangkan nasi goreng yang sudah matang ke dalam piring dan menyajikannya di meja makan, setelah itu aku menyiapkan empat gelas s**u. "Pagi Anita..." sapa Benny yang sudah rapi memakai pakaian kerjanya. Aku hanya tersenyum memandanginya, "Wah… bau nya harum sekali, aku jadi tambah lapar!" seru Benny menggeser kursinya dan makan nasi goreng buatanku dengan lahap. "Ini benar-benar nasi goreng terenak  yang pernah ku makan Nit..." pujinya dengan wajah sumringah. Aku tersenyum senang, "Masa sih?" tanyaku, Benny hanya mengangguk mantap. Baru kali ini ada pria yang memuji masakanku, Mas Raka saja tidak pernah memuji apa yang aku buatkan untuknya. Tidak lama Mas Raka dan Tania keluar dari kamarnya dan berjalan menuju meja makan. Wajah Benny langsung berubah marah ketika melihat Mas Raka dan Tania datang. "Anita, tolong ambilkan vitamin untuk Tania!" perintah Mas Raka kepadaku, aku langsung berjalan menuju kotak obat dan mengambil Vitamin milik Tania sebelum dia marah kepadaku, "Ohya Anita jangan sampai kamu lupa memberikan kebutuhan Tania tepat waktu, aku tidak mau kamu lupa lagi!" seru Mas Raka memperingatkan, aku hanya mengangguk. Bruk! Tiba-tiba Benny mengebrak meja dan menatap tajam Mas Raka, "Anita itu Istrimu bukan pembantumu atau pembantu istri keduamu ini!" Teriak Benny geram menunjuk wajah Mas Raka. "Jangan ikut campur urusanku Ben!" Teriak Mas Raka tak mau kalah. Benny tertawa remeh, "Kau memang Pria b******k! Kau tidak pantas untuk dicintai wanita seperti Anita!" makinya. "Kau dengar Ben, saya tidak pernah meminta untuk dicintai wanita seperti dia!" seru Mas Raka menunjuk wajahku, "Dia yang mengemis-ngemis cinta kepadaku!" Ucapnya membuat hatiku sakit mendengarnya. Tega-teganya Mas Raka mengatakan itu, aku berlari ke kamarku dengan hati terluka. Aku tahu Mas Raka terpaksa menikah denganku, aku juga tahu aku yang memohon kepada Mas Raka agar tetap mempertahankanku sebagai istrinya, aku juga tahu Tania lebih layak untuknya. Tapi apa harus Mas Raka mengatakan kata-kata yang sangat menyakitkan hatiku? Demi cintaku kepadanya aku rela disakiti olehnya, apakah suamiku pantas menerima semua cinta tulusku, Tuhan? Haruskah aku menyalahkan diriku Tuhan bila mencintainya? Kenapa dia memperlakukan aku seolah perawan cinta yang haus kasih. "Anita..." Benny masuk ke dalam kamarku, wajahnya tampak bersalah menatapku. "Anita aku minta maaf..." ucapnya lirih, aku hanya tersenyum miris. Benny meminta maaf kepadaku? Padahal dia tidak punya salah apa-apa kepadaku, dia hanya membelaku. Seharusnya Mas Raka yang meminta maaf padaku, bukan Benny. "Kenapa kamu minta maaf, Ben?" tanyaku tidak mengerti. "Gara-gara aku, Mas Raka membentakmu..." ucapnya, aku menggeleng. "Kamu tidak perlu minta maaf kepadaku." Kataku tersenyum. "Kamu berangkat kerja sana, nanti terlambat." Ucapku. Tiba-tiba Benny memelukku, aku hanya tertegun ketika pria itu memelukku. "aku tidak ingin melihatmu menangis...” Ucapnya membuatku menangis tertahan. Ya Tuhan seandainya saja Benny ini Mas Raka, aku pasti akan sangat bahagia... ❀✿•♥•✿❀
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN