Hari pernikahan. Fiandra tersenyum melihat putrinya duduk di depan kaca rias, dibalut dengan kebaya warna putih. Cantik sekali. Lengan Fianer diusap pelan oleh Fiandra, memberikannya kekuatan. Bayangan di depan kaca memang luar biasa cantik. Terlebih dengan senyum yang tak pernah putus sedari tadi. “Ada yang mau bertemu.” bisik Fiandra. Fianer menoleh dengan pandangan bertanya. Namun Fiandra hanya tersenyum. Pertanyaan itu baru terjawab saat seseorang masuk ke kamarnya. Sesaat, Fianer terkejut karena yang datang adalah Kahfi. Air mata Fianer turun begitu saja. Dia memikirkan laki-laki itu dan berpikir bahwa Kahfi tidak akan mau datang. Fiandra tahu dia harus mundur. Tanpa pamit, hanya tersenyum singkat, dia pergi dari sana. Kini, hanya ada Kahfi dan Fianer di kamar. Laki-laki itu

