Fianer cantik sekali hari ini. Kebaya putih yang membalut tubuhnya membuat setiap lekukannya terlihat indah. Egar tak berhenti berdecak kagum. “Lalu kenapa tidak juga dimulai akadnya?” bisik Fianer cemas. Egar menatap jam. Hampir jam sepuluh. Tapi Egar menghitungnya dengan penuh hati-hati. 9:58:46 “Mas, sudah bisa dimulai akadnya?” penghulu di depannya serasa tak sabar. Karena calon mempelai laki-laki hanya duduk diam dan menatap jam tanpa ada yang tahu apa yang sedang ditunggu. “Tunggu sebentar lagi.” Penghulu itu bertanya. “Menunggu apa?” “Menunggu waktu yang tepat.” Semuanya bingung. Bahkan Fianer sendiri tak tahu Egar sedang apa saat ini. Dia menoleh ke belakang. Menatap keluarga, sahabat dan tamu undangan istimewa yang dia inginkan menyaksikan pernikahannya karena mereka a

