Setelah menjalani proses wawancara antara Hanin dan HRD dari perusahaan Adam, Hanin tiba-tiba disuruh bekerja mulai hari ini juga. Jangan tanya bagaimana bisa karena sudah pasti Adam dalangnya.
Adam membukakan pintu ruangannya, kemudian mempersilahkan Hanin untuk masuk lebih dulu.
Ruangan serba hitam-putih itu terbilang sangat luas. Dimana ada satu meja milik Adam yang membelakangi kaca dan di ujung dinding yang berseberangan dengan Adam ada pintu dimana pintu itu menuju ruangan milik Hanin.
Hanin duduk di kursinya dan mulai menghidupkan komputer.
"Udah dikasih tau kan sama Ardi tugas kamu ngapain?"
"Sudah, Pak."
Adam mengernyit, apa katanya?
"Jangan panggil pak--"
Hanin mendongak menatap Adam yang duduk di meja kerjanya, "Ini di kantor." jawabnya malas.
"tapi keliatan tua banget kalau--"
"Pak, maaf. Saya hanya ingin bersikap profesional layaknya sekretaris kepada pemimpin."
Adam mendengus, "panggil mas aja, deh."
Hanin mendelik. Adam tertawa.
Melihat Adam tidak kunjung keluar dari ruangannya membuat Hanin menghembuskan nafas kasar.
Dengan senyum terpaksa, Hanin berbicara sesopan mungkin, "Pak, bisa bapak keluar? Saya harus mengerjakan beberapa dokumen."
"Yaudah kerjain--"
Lagi-lagi, Adan tidak sempat menyelesaikan ucapannya karena Hanin memotongnya, "Saya butuh konsentrasi untuk mengerjakannya."
"kamu nih kenapa sih motong mulu kalau bos kamu lagi ngomong?" tanya Adam membuat Hanin langsung diam tak berkutik.
Melihat Hanin yang mendadak diam, Adam jadi menahan tawa.
Adam beranjak dari meja kerja Hanin. Ia berdiri di depan meja itu dengan tangan kiri yang bertumpu diatas meja. Lalu Adam mencondongkan tubuhnya, tangan kanannya terangkat menyentuh bibir Hanin, "Ini."
Adam mengusap bibir Hanin satu kali, lalu menatap mata hitam Hanin yang juga sedang menatapnya, "emang lebih enak diajak 'melakukan hal lain' daripada berdebat." lanjut Adam kemudian pergi berlalu meninggalkan Hanin yang langsung melotot.
Sinting!
//
Adam benar-benar tidak profesional. Mentang-mentang yang menjadi sekretarisnya sekarang adalah mantannya, ia menjadikan itu sebagai kesempatan untuk mendekati Hanin.
Hanin berulang kali mengelus d**a berusaha menyabarkan diri karena ada saja alasan Adam untuk ke ruangan Hanin, atau Hanin yang disuruh Adam ke ruangannya.
Seperti tadi, Adam meminta Hanin untuk mematikan AC padahal remote AC lebih dekat dari jarak Adam duduk daripada Hanin. Atau seperti saat ini, entah apa lagi yang membuat Adam membuka pintu ruangannya membuat Hanin mengalihkan perhatian dari komputer.
"Ada apa lagi?" tanya Hanin masih berusaha sopan.
"Bikinin aku kopi, dong."
Hanin mendelik, belum sempat menjawab ketika Adam langsung melanjutkan perkataannya, "itu emang salah satu tugas sekretaris."
Hanin diam saja. Ia melirik malas pada Adam yang duduk di meja kerjanya sambil fokus pada ponsel. Hanin beranjak dari duduknya dan berjalan melewati Adam. Ia sampai di dapur kantor dan mulai meracik kopi. Lalu lengan seseorang tiba-tiba melewati samping lehernya untuk mengambil lap membuat Hanin terkejut dan menoleh.
Hanin mencoba tersenyum melihat laki-laki berjas yang sepertinya bukan sekedar karyawan kantor. Entahlah, tadi pagi Hanin memang sempat bertemu orang ini tapi Hanin tidak tahu namanya.
Laki-laki itu tersenyum, Hanin bergerak ke kiri untuk memperjauh jarak mereka. "Kamu sekretaris baru Adam?" tanya laki-laki itu sambil menuangkan air putih ke gelasnya.
"Iya, Pak."
Terlihat lelaki itu mengangguk-angguk kemudian mengulurkan tangannya, "Saya Gafa. Ga usah panggil 'Pak', Gafa aja."
Hanin tersenyum seraya menerima jabatan tangan itu, "Hanin."
Hanin ingin menanyakan posisi laki-laki itu di perusahaan Adam namun sepertinya tidak sopan. Jadi Hanin memilih kembali meracik kopi walaupun ia sedikit canggung karena Gafa terang-terangan menatapnya.
"Kamu single?"
Pertanyaan itu membuat Hanin menoleh, sedikit kebingungan kenapa orang itu menanyakan statusnya. Namun tak urung Hanin menjawab, "iya."
"Padahal kamu cantik gini,"
Hanin tidak merespon. Sebenarnya Gafa ini tampan. Badannya kekar dan terlihat berwibawa dari cara tubuhnya berinteraksi. Namun entah apa yang membuat Hanin tidak nyaman.
Pintu dapur terbuka membuat Gafa dan Hanin sama-sama menoleh ke arah pintu. Adam menatap lurus kepada Gafa, entah tatapan jenis apa yang dilayangkan bosnya itu namun Hanin tahu sepertinya Adam tidak menyukai Gafa.
Gafa tersenyum lebar melihat kehadiran Adam, "Hello, Bro."
"Ngapain lo di dapur?" tanya Adan pada Gafa yang dibalas Gafa dengan menunjukkan gelas ditangannya.
Tatapan Adam beralih kepada Hanin, "kenapa lama banget bikin kopi?"
Hanin mengerjap, sudah akan membuka mulut untuk menjawab Adam namun Gafa menyelanya, "Gue ajakin kenalan dulu dia," tanya Gafa sambil tertawa. Padahal tidak ada yang lucu.
Adam berdecak, "terus ngapain masih disini? minggat sana lo," usir Adam yang dibalas kedikan bahu oleh Gafa namun Gafa menurut.
Gafa menoleh sesaat pada Hanin, "See you, Hanin. Semangat kerja," ujar Gafa.
Hanin meringis. Tahu bahwa Adam sebentar lagi akan menginterogasinya. Tapi Hanin berfikir lagi, memang kenapa Adam harus curiga? Toh mereka tidak ada hubungan apa-apa lagi sekarang.
Jadi Hanin memilih untuk memasang ekspresi datar dan menyerahkan kopi kepada Adam, "ini, Pak."
Adam tak mengambil gelas ditangan Hanin. Pandangan laki-laki itu turun pada rok pensil yang dikenakan Hanin membuat Adam kembali berdecak, setelah meneguk ludah.
"Rok kamu kependekan."
"ya?"
"Besok pake celana panjang aja."
"Loh? Karyawan lain juga pake rok segini kok."
"tapi punya kamu terlalu ketat, Hanin."
Ingin rasanya Hanin mencekik Adam. Laki-laki itu tidak tahu saja bahwa kemarin Hanin sudah terlanjur belanja beberapa rok seperti yang dipakainya saat ini dan ia tidak membeli celana hitam yang pantas untuk digunakan untuk ke kantor.
"Pak--"
Hanin hendak melayangkan protesnya namun Adam meng-"sshh"-kan dia membuat Hanin memutar bola matanya malas. Bodo amatlah, males banget kalau harus belanja lagi. Batin Hanin.
Adam hendak mengambil sendok di ujung wastafel namun tiba-tiba sendok jatuh ke lantai. Adam segera jongkok dan mengambil sendok tersebut.
Adam diam menatap kaki telanjang Hanin didepan matanya. Lalu ide usil dari otak Adam membuat Adam hampit tertawa. Tangannya bergerak menyentuh betis Hanin membuat gadis itu terkesiap. Hanin menoleh ke bawah dimana Adam masih jongkok dengan jemari yang mengelus betis Hanin.
Ada gelenyar aneh dari dalam diri Hanin membuat Hanin gugup.
"Pak?" panggil Hanin lirih.
Adam mendongak, "ya?" dengan jemari masih mengelus betis Hanin. Jantung hanin berdetak tidak normal. Pipinya tiba-tiba memanas.
Hanin mundur selangkah membuat jemari Adam terlepas dari betisnya. Adam berdiri dan menunduk, menahan tawa. Hanin yang sadar bahwa Adam sedang menahan tawanya jadi menukul bahu bosnya.
"kamu sengaja, ya?"
Hilang sudah kosa kata anda-saya yang seharian Hanin gunakan.
"Sengaja apa?" jawab Adam pura-pura tidak tahu.
"Ish."
Hanin mencebik kemudian berjalan meninggalkan Adam yang langsung melepaskan tawanya ke udara.
//
Jam menunjukkan pukul 5 membuat para karyawan satu persatu meninggalkan kantor. Lain lagi dengan Hanin yang harus menyelesaikan satu dokumen karena akan diberikan besok pada klien Adam. Beruntung hanya tinggal merevisi karena dokumen itu sudah dikerjakan oleh sekretaris sebelum Hanin. Hanin membawa beberapa lembar kertas dan berjalan menuju meja Adam.
"Duduk aja," titah Adam yang langsung dipatuhi oleh Hanin.
"Besok ada rapat pagi jam 8 dengan Mr. Steve."
Adam menerima kertas dari Hanin dan mulai membaca isinya, "besok cuman itu?"
Hanin menggeleng, "pukul 11 ada tamu dari Singapura. Kemudian sore ada rapat lagi dengan perusahaan Pak Gafa."
Setelah menyelesaikan kalimatnya, Hanin jadi diam. Gafa yang ia sebutkan.. apa Gafa yang di dapur dengannya tadi? Memang wajah Gafa bukan wajah karyawan sih, lebih cocok jadi CEO seperti Adam begini.
"kalau sore ini, gak ada pertemuan dengan siapapun, kan?"
"Tidak." jawab Hanin singkat.
Adam meletakkan kertasnya kemudian menatap Hanin, "jangan kaku gitu kenapa sih kalau ngomong sama aku."
Mulai deh, batin Hanin.
"Bapak bos saya." jawab Hanin sopan.
"Aku juga mantan kamu."
Hanin mendelik. Sudah berapa kali Hanin dibuat terkejut oleh kalimat ngawur Adam hari ini?
"Ya tapi kan, Pak,--"
"udahlah gak usah 'Pak-Pak', gak usah saya-anda."
Hanin tetap menggeleng, "Saya tidak bisa."
"Nin.."
"ya?" balas Hanin tenang.
"Ck. Ya udah iya, terserah kamu. Tapi kalau bukan jam kantor kamu jangan formal gini, ya."
Hanin tersenyum, "Iya, Pak."
Adam melihat jam tangannya, "udah jam 5 lebih."
"Saya izin pulang kalau begitu."
"Kamu pulang sama siapa?"
"Dijemput."
"Dijemput?" Dijemput siapa, anjir. Gak mungkin Alfin kan? Dan gak mungkin gebetan baru, kan?
"Iya, Pak. Saya dijemput Papa saya."
Tanpa sadar bahu Adam langsung rileks kembali.
"Aku anter pulang kalau gitu,"
"Gak usah, Pak. Saya sudah bilang Papa untuk jemput saya di kantor hari ini."
"Jam berapa kamu suruh Papa jemput?"
"Jam 6. Tapi gak papa, setengah jam lagi mungkin dia sudah datang."
Adam menggeleng, ia meraih jasnya dan memakai cepat kemudian menarik lengan Hanin, "Pulang sama aku. Bilang Papa biar gak perlu jemput."
Hanin menahan tangan Adam. Gimana kalau ada yang lihat Adam menggandeng tangan Hanin begini?
"Pak, tapi--"
"Jangan panggil Bapak. Ini udah bukan jam kantor."
Hanin berdecak, "Dam!" Hanin menghentakkan tangannya hingga terlepas dari Adam.
"Apa, sayang?"
Hanin melotot lagi.
"Siapa yang kamu panggil sayang?"
"Kamu lah." jawab Adam enteng.
"Siapa kamu manggil sayang?"
"Pacar kamu."
Hanin berlagak muntah, "Halu."
"Eh iya, salah. Calon suami kan, ya?"
Hanin menatap malas kemudian berjalan mendahului Adam, "Aku mau pulang."
"Iya, ayo."
"Aku pulang sama Papa."
"Gak. Sama aku."
"Kamu apaan sih maksa-maksa?"
Adam menoleh pada Hanin yang ada di belakangnya, "pulang sama aku atau aku bilang ke karyawan lain kalau kamu mantan aku?"
Skak mat.
Padahal Adam sudah berjanji bahwa tidak akan mengatakan status mereka pada orang kantor karena Hanin menghindari segala macam resiko yang akan terjadi. Seperti dijulidin, misalnya.
"Kamu udah janji!"
Adam mengedikkan bahunya dan terus berjalan seraya merangkul bahu Hanin. Duh Adam tuh apaan sih? Batin Hanin sebal.
"Iya-iya pulang sama kamu. Tapi aku jalan duluan, kamu belakangan!" ujar Hanin.
"kenapa gitu?"
"Nanti karyawan yang lain jadi curiga kirain kita ada apa-apa!"
"Emang ada apa-apa, kan?"
Hanin menggeram frustasi.
Adam tertawa, "Iya-iya." finalnya sambil mencolek dagu Hanin yang langsung ditepis oleh perempuan itu, "Tapi nonton dulu, yuk, sebelum mulangin kamu. Aku pengen avenger."
Wajah Hanin memias. Adam tuh $a/?:*@!z¿
**