Kakinya yang jenjang melangkah lebar-lebar melewati koridor, tak sabar ingin segera sampai pada tempat yang dituju.
Di belakangnya, Indra berjalan tak kalah cepat. Mengabaikan tatapan penuh keingintahuan dari siswa siswi yang tak sengaja berpapasan dengan mereka.
"Selamat siang, Pak."
Rifa'i menunduk penuh santun.
"Selamat siang."
Kepala sekolah berkacamata tebal itu mempersilakan Rifa'i untuk duduk. Sementara Indra, dia memilih untuk tetap berdiri di belakang abangnya.
"Ada yang bisa saya bantu?"
"Saya sebagai wali dari Indra, merasa sangat keberatan atas keputusan yang Bapak buat, yang terkesan tidak adil baik untuk Indra dan terutama bagi Bintang. Maaf, Pak saya langsung berbicara to the point, karena saya sudah tidak bisa berpikir positif lagi, atas keputusan yang bapak ambil untuk dua siswa yang tergolong cukup memiliki prestasi di sini. Kenapa harus skorsing?"
Kepala sekolah dengan nametag bertuliskan 'Suryo Widodo' di atas kerah pakaiannya itu membetulkan letak kacamata yang melorot.
"Begini, Pak, saya rasa keputusan untuk menskors Indra dan Bintang itu adalah pilihan yang tepat. Kenapa? Karena kami tidak mau ambil resiko bila nanti para wali murid tahu, bahwa kami tidak memberikan sanksi yang cukup tegas kepada siswa siswi yang ketahuan bertindak asusila."
"Asusila? Bukannya adik saya Indra sudah menceritakan semuanya pada Bapak apa yang sebenarnya terjadi di hari itu? Mereka bukan berniat untuk melakukan hal yang macam macam. Tapi dia dijebak."
"Bagaimana saya bisa mengamini keyakinan Anda ataupun Indra kalau kalian saja tidak memegang bukti?"
Dalam kondisinya yang tengah menahan amarah, mata Rifa'i jeli memerhatikan sekitar. Kemudian bola mata indah itu tertuju pada sebuah benda yang tergantung di sudut atas ruangan.
"Kita buktikan lewat itu." Rifa'i menunjuk kamera cctv yang lampunya menyala tanda sedang melakukan tugasnya. Merekam setiap kejadian.
"Kita buktikan lewat cctv yang ada di ruang laboratorium dan yang ada di koridor terdekat. Mustahil sekolah sebesar ini tidak memiliki fasilitas pengaman yan memadai. Iya kan, Pak?"
Indra melirik sekilas abangnya yang bicara penuh percaya diri, namun tetap pada batasannya berbicara pada yang lebih tua. Benar benar abang yang bisa diandalkan.
Sayangnya, respon sang kepala sekolah di luar ekspektasi mereka.
Bukannya segera mengiyakan lantas membawa keduanya ke ruang pengawas untuk pembuktian, Pak Suryo, begitu beliau akrab dipanggil justru menghela napas kemudian menyenderkan punggungnya pada sandaran kursi.
"Baiklah saudara Rifa'i, tidak perlu lagi kita perpanjangan masalah ini. Saya akan cabut hukuman skorsing yang diterima Indra dan Bintang, seperti yang anda minta."
"Lho, tidak bisa begitu dong, Pak. Kita lihat sama sama bagaimana kejadian yang sebenarnya. Kalau memang adik saya ini bersalah, saya tidak masalah kalau dia harus dihukum sesuai perbuatan. Itu saja," jelas Rifa'i tak terima.
"Anda nempermasalahkan pihak sekolah yang memberikan sanksi skorsing kepada adik anda, Indra. Lalu kemudian, setelah saya mengabulkan permintaan anda untuk membebaskan Indra dan Bintang, anda masih tidak terima juga."
"Yang saya mau adalah keadilan bagi seluruh siswa, dan kejelasan yang sejelas jelasnya mengenai kasus ini. Saya jadi curiga, sebenarnya siapa yang sedang Bapak lindungi? Kenapa Bapak seolah tidak ingin tahu tentang dugaan pemakaian obat terlarang di area sekolah seperti yang Bintang dan Indra pergoki beberapa hari yang lalu?"
"Saya cuma tidak mau terjadi kegaduhan lagi antar wali murid. Itu saja."
"Dan mengorbankan siswa-siswi tak berdosa, seandainya anak yang 'diduga' mengkonsumsi n*****a itu menyebar virus ke anak-anak yang lainnya demi nama baik sekolah, begitu?"
Sang kepala sekolah menggaruk tengkuk. Kentara sekali kalau beliau telah kalah telah beradu argumen dengan Rifa'i.
"Baiklah, saya jujur. Salah satu anak yang Indra dan Bintang pergoki sedang menggunakan obat terlarang itu adalah anak dari seorang donatur terbesar di sekolah ini. Saya tidak tahu harus bagaimana lagi menghadapi bocah itu. Yang bisa saya lakukan adalah terus menutupi kesalahannya agar sekolah ini bisa tetap terpenuhi segala kebutuhannya, juga anak-anak kurang mampu yang mendapat beasiswa di sini, agar mereka bisa tetap melanjutkan sekolah. Itu saja."
Indra melongo, begitu pula Rifa'i yang seolah kehilangan seluruh kosa katanya. Alasan kepala sekolah mengapa beliau seolah menutupi kejadian itu dan mengalihkan isu pada Indra dan Bintang rupanya demi melindungi ratusan murid dari kalangan menengah ke bawah penerima beasiswa yang memiliki prestasi dan semangat belajar yang tinggi.
Namun mereka juga tidak bisa membenarkan tindakan yang dilakukan Pak Suryo.
Kali ini Rifa'i yang lebih banyak diam, mendengarkan penjelasan kepala sekolah, setelah sejak pertama masuk ruangan dia yang lebih banyak memuntahkan segala pokok pikiran.
***
"Makasih, Bang Fa'i udah bantuin Indra sama Bintang."
"Terima kasihnya nanti aja. Masih ada hal yang perlu di selesaikan."
Indra mengangguk saja, kemudian memilih untuk diam.
Keduanya kini tengah berada dalam mobil, hendak menuju ke kediaman keluarga Bintang.
"Berdo'a saja semoga bapaknya Bintang udah nggak se emosi kemarin," bisik Rifa'i saat keduanya sudah sampai di depan pintu rumah tujuan.
Lagi lagi Indra hanya mampu terdiam, sambil merapal doa apa saja yang ia hapal dalam hati. Semoga hari ini nyalinya tak menciut seperti sebelumnya.
"Selamat sore, Om."
Rifa'i sedikit membungkukkan kepalanya begitu empunya rumah membuka pintu.
"Sore," balas Riswan masih terasa kaku.
"Saya ada sedikit oleh oleh buat Om sekeluarga, sekalian ingin meluruskan kesalahpahaman antara anak-anak kemarin. Boleh saya masuk, Om?"
Meskipun dengan ekspresi yang masih kurang mengeenakkan, pada akhirnya Riswan mengizinkan dua kakak beradik itu untuk memasuki rumahnya.
"Jadi ada hal apa yang ingin kalian jelaskan?" Cecar Riswan bahkan saat b****g kedua tamu itu belum mendarat sempurna pada sofa putih miliknya.
"Mmm... Begini, Om. Soal perkataan Indra yang kemarin bilang ingin menikahi Bintang, rupanya itu hanya karena salah paham saja. Sebelumnya, mohon maafkan adik saya yang lancang, dia memang selalu berbicara tanpa dipikir dulu."
Beruntung hari ini Riswan tidak lagi berdandan ala Pak Raden, Rifa'i jadi bisa sedikit rileks ketika berhadapan dengan ayah Bintang.
Tampangnya rupanya tak semenyeramkan waktu itu, terasa lebih ramah. Meski masih dengan tatapan datar, khasnya.
"Ijinkan saya menjelaskan secara detail. Dan ini," Rifa'i menyodorkan surat yang ia dapat dari sekolah tadi.
"Ini surat dari sekolah, yang menyatakan kalau sanksi skorsing yang diterima Bintang tempo hari, sudah dicabut. Bintang dan Indra terbukti tidak bersalah dan melakukan hal tidak senonoh di sekolah seperti yang di jelaskan tempo hari."
Alis Riswan berkerut.
Ia sangat percaya bahwa putrinya itu memang gadis baik-baik dan tak mungkin melakukan hal memalukan seperti ciuman di wilayah sekolah. Tapi, yang ia herankan adalah, saat orang yang ia maki habis-habisan ternyata hari ini memiliki itikad baik untuk meluruskan kesalahpahaman atas kasus putrinya, yang dua sendiri sedari kemarin hanya diam. Tak melakukan apapun selain mendiami Bintang juga ibunya.
Betapa hari ini Riswan menyadari betapa memalukannya dia sebagai seorang pria sekaligus ayah dari anaknya.