First Date

1181 Kata
Tubuh Adrian kaku dan tegang, dia rela terbakar kalau memandang wanita di depannya adalah dosa. Selama ini dia telah membayangkan lekuk tubuh di balik pakaiannya yang longgar, sekarang pakaiannya pas ditubuhnya. Blouse berbahan satin jatuh, mencuatkan dadanya yang indah. Juga pinggulnya yang padat, dibalut rok pensil. Adrian harus menusuk dirinya agar tersadar dari lamunan gila. "Mau makan di mana?" Kalimat tanya itu meluncur indah dari bibirnya dipulas lipstik bewarna campuran merah dan pink. Apa rasanya berbeda hari ini? Adrian akan mencuri ciuman lagi nanti. Diam-diam. Matanya masih terbalut kabut, sulit untuk kembali. Bibir itu mengulum-ngulum, berdiri di dekatnya. Rambutnya panjang terurai, sedangkan lengannya yang indah terlihat berayun. Adrian membalikkan tubuh, melangkah cepat menuju mobil. Kierra mengikuti cepat. Supir pribadi Adrian membukakan pintu untuk Kierra. Hemm ... Kierra segera masuk. Mereka duduk bersebelahan. Kierra menahan nafas canggung, duduk bersebelahan dengan Adrian. Dia melirik Adrian yang sedang serius menatap layar smartphone. Kemudian Kierra melayangkan pandangannya keluar. Adrian menarik tangan Kierra, memasuki restoran prancis. Mereka disambut oleh waiter dan diantar ke meja yang tampaknya telah di reservasi sebelumnya. Kierra duduk, kemudian meletakkan tas mungilnya di atas meja. Restoran bergaya vintage modern, lilin kecil di setiap meja membuat suasana restoran menjadi romantis. "Pernah ke sini?" tanya Adrian. Kierra menggeleng. Kierra menekuni buku menu, kemudian memutuskan untuk memesan scallops dan wine. Musik lembut mengalun, membuat makan malam mereka menjadi sangat romantis. Kencan yang hebat, pikir Kierra. Kierra memandangi Ray saat memakan steak-nya, bibirnya terlihat lembut dan basah, astaga Kierra pikiranmu ke mana-mana. Menyebalkan. "Ray," panggil Kierra. Adrian menatapnya, "Kenapa? Tidak suka menunya?" Kierra menggeleng. Kenapa kamu mengajakku makan malam di tempat ini? keluh Kierra. "Kalau tidak menginap di rumah, kamu menginap di mana?" Apa di tempat kekasihnya? Mustahil pria macam Ray tidak memiliki pacar. "Kenapa ingin tau?" Adrian balik bertanya. "Basa basi," sahut Kierra. Adrian mengangguk, "Teruskan pertanyaan lainnya." "Apa kamu gay?" Adrian nyaris tersedak dengan pertanyaan itu. "Aku cabut lagi pertanyaannya," kata Kierra, takut melihat wajah Adrian yang mengegang. Lagian kenapa sih dia menanyakan itu? Itu spontanitas. "Sekarang giliranku bertanya," kata Adrian. Hiii, menyeramkan. Kierra meneguk winenya sedikit. "Mau jadi kekasihku?" Kierra tertegun. Sebentar? Sebentar? Dia mencoba mencerna pertanyaan itu. "Apa itu pertanyaan basa basi?" tanya Kierra. "Tidak. Itu serius," jawab Adrian, dia berhenti makan untuk menatap Kierra. "Nggak mau," sahut Kierra. "Kenapa?" Adrian terkikik geli di dalam hatinya. "Belum terlalu kenal," kata Kierra. Apa yang dia lakukan? Kierra mengeluh. Bukankah harusnya dia menjawab, iya. "Karena itu saja? Bukan karena kamu tidak menyukai aku?" Kierra mengalihkan pandangan. "Aku mau pulang," katanya pelan. "Oke." *** Semua laki-laki sama saja, Kierra menangkupkan wajahnya di bantal. Baru beberapa hari, dan Ray memintanya menjadi kekasihnya. Memang, sih, sebelumnya mereka telah sedikit lama mengenal, hampir satu semester. Bodoh juga kamu, Kierra, kalau kamu mengiakan, besok Kalil akan di pindahkan ke rumah sakit yang lebih baik. Kamu akan menjadi kekasih seorang pria tampan nan rupawan. Tapi, hati kecilnya menolak. Terdengar suara ketukan di pintu kamarnya. Dengan malas Kierra beringsut bangun. "Sudah tidur?" Pria itu bertanya pelan. "Kalau udah tidur bisa buka pintu?" keluh Kierra. Senyum menghiasi wajahnya yang tampan, Kierra segera luluh lagi. "Mau bantu aku?" "Apa?" "Membuat analisa." Kierra mengambil jeda sesaat. Bukankah itu akan menyakiti hatinya? Dia akan mengingat cita-cita yang kandas. "Ayolah." Adrian membujuk. Kierra akhirnya mengangguk. Diikutinya langkah kaki Adrian ke kamarnya. "Kenapa nggak di perpustakaan saja?" Kierra berkata. Di sana lebih hangat dan nyaman. "Kamu takut berduaan denganku di kamar?" "Iya." "Bisa tidak terlalu jujur?" Adrian tertawa. "Aku akan memberikan honor. Bagaimana? Ini semacam kerja part time." "Humm." Kierra berselonjor di atas karpet tebal di kamar itu. "Oke." Adrian memberikan setumpuk modul. "Tidak membutuhkan kacamata?" ledek Adrian. Kierra tertegun. Oh dia lupa, kacamata palsunya. Kierra menggeleng. Adrian duduk di sebelahnya, "Apa tidak perlu meja?" Kierra menggeleng lagi. Kierra menahan dadanya dengan bantal dan mulai me-resume modul yang diberikan oleh Adrian sembari berbaring tengkurap. Adrian memandangi punggung Kierra yang terbungkus piyama bewarna hijau lumut. Dia masih ingin menghabiskan waktu dengan gadis itu. Walaupun tadi dia ditolak mentah-mentah. Apa terlalu cepat? Adrian berpikir. Kierra membalikkan tubuhnya, "Putar lagu dong." Kamar itu terlalu hening, membuat suasana canggung. "Oh." Adrian tercekat. Gadis ini menggodanya kah? Tidur-tiduran di hadapan seorang pria seperti ini. Adrian meraih ponselnya dan memutar lagu slow. Kierra berbalik lagi fokus pada pekerjaannya. "Dingin?" Adrian menurunkan suhu AC di kamarnya. "Nggak." Adrian menatap awas, matanya masih terang benderang walaupun malam semakin larut. Mana mungkin dia mengantuk, disaat wanita yang dia sukai sangat dekat dengannya. Dadanya sudah menggelepar-gelepar, seperti ikan yang terlempar ke daratan. "Kierra," bisik Adrian. Tidak terdengar lagi suaranya. Gadis itu telah tertidur. Adrian tertawa kecil. Kamu ... kamu tidak takut aku akan melakukan sesuatu? Adrian berbaring di sampingnya, dipandangi wajah Kierra yang tertidur pulas. Kamu tidur seperti orang mati, tahu tidak? Adrian mengunci pintu kamarnya dan memberi penyangga, sejak kamarnya disusupi kemarin dia memasang keamanan ganda. Siapa saja yang memegang duplikat kunci kamar ini? Tidak ada yang tahu. Lebih baik berjaga bukan. Adrian merebahkan tubuhnya lagi di samping Kierra, disentuhnya bibir gadis itu dengan jarinya. Cantik. Pipinya lembut dan halus. Sekali waktu pernah dia mendengar mahasiswa di kampusnya membicarakan Kierra. "Siapa cewek paling sexy di kelas?" "Kierra." "Kalau yang paling cantik." "Masih Kierra." "Yang paling cerdas?" "Juga dia." "Bukankah kau pernah ditampar?" "Nggak apa, aku telah meremas pantatnya yang padat. Cukup setimpal." Oh! b******k sekali dia. Saat itu hati Adrian panas, sepertinya dia cemburu. Dia tak ingin pria lain menjamah Kierra. Kalau kau mengetahui aku mencium bibirmu, apa yang akan kau lakukan? Bagaimana kalau aku melecehkanmu? Adrian menelan ludah. Dibalikkannya tubuh Keirra yang terkulai. Salahmu sendiri Kierra, kenapa kau tertidur di kamarku tengah malam? Kau membuat jantungku berhenti berdetak. Jangan bangun, bisik Adrian. Dia melepaskan dua kancing piyama Kierra, sial! Lekuk Kierra yang halus mencuat nyata dari balik pakaiannya yang bewarna hitam, kontras dengan kulitnya. Maaf ... aku nggak bisa menahannya, siksa saja aku besok. *** "Aaaaaa!!!!!" Kierra menjerit. Tapi jeritannya tidak membangunkan pria di sampingnya. Ya ampun, dia tidur sambil memeluk pria itu semalaman? Kenapa bisa begini? Mereka ketiduran di atas karpet. Ohhh, Kierra jadi begitu panik. Kierra membereskan pekerjaan semalam dan menyusunnya di meja. Dia terduduk lesu, astaga, kenapa dia tertidur di kamar seorang pria? Wajahnya yang tidur terlihat sangat tampan, Adrian tidur dengan masih mengenakan kemeja dan celana panjang. Kierra merinding menatap tubuh Adrian, baru kali ini dia bisa menatapnya secara jelas dan dekat. Masih pukul setengah enam pagi, dia masih mengantuk. Tapi ... Kierra mengulum lagi bibirnya. Aura panas dari tubuh Adrian membakarnya. Kierra menarik nafas dan menghembuskannya. Kemeja Adrian terbuka setengah, memamerkan otot dadanya yang sexy. Kenapa kancing kemejanya lepas? Seperti terhipnotis Keirra menjulurkan tangannya. Jangan bangun, ucap Kierra penuh harap. Ditempelkan tangannya ke d**a Adrian, aliran panas dari tubuh pria itu mengalir melalui jemarinya. Kierra menggerakkan tangannya, jantungnya berdebar kencang. Darahnya seakan naik ke kepala. Uuu...dia sangat sinting. Kierra tersentak, tangan Adrian menangkap tangannya. Ketahuan! Kierra menarik tangannya cepat, mata Adrian masih terpejam. Kierra segera berdiri dan berlari. Dibukanya cepat kunci pintu kamar Adrian, juga handle penyangga. Kierra segera keluar tanpa menoleh. Gotcha. Tertangkap. Senyum tersungging di bibir Adrian. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN