Smarter Than You

1142 Kata
"Selingkuhan Nyonya Camilla yang bernama Choky yang memperkenalkan Nona Kierra," kata Pak Alex, orang kepercayaan Adrian. "Oh. Masih memiliki affair dengan lelaki itu rupanya," jawab Adrian. "Nyonya Camilla seperti mencintai pemuda bernama Choky itu, pak. Mereka telah bertemu sebelum Nyonya Camilla menikah dengan Pak Darryl." Darryl adalah nama ayah Adrian. "Itu kelemahannya, kita simpan untuk nanti. Bagaimana dengan Kierra?" "Nona Kierra kehilangan kedua orang tuanya beberapa bulan lalu, sedangkan adik lelakinya koma. Dia menyewakan rumah peninggalan orang tuanya karena pamannya kabur membawa asuransi dan tabungan keluarga." Oh begitukah? Hati Adrian teriris. Dia mengalami itu? Tapi tidak terlihat. Pantas saja dia menangis saat mereka pertama bertemu. "Jadi dia menyetujui penawaran Camilla untuk tinggal di rumah dan memata-matai aku?" Adrian memutar kursinya. "Sepertinya begitu." Apa yang ditawarkan oleh Camilla kepadamu Kierra. Hanya memata-matai? Atau menggodaku? Atau lebih dari itu? Hmm aku tidak sabar menunggu. Adrian berdetak mengingat Kierra tadi pagi, begitu dekat sampai wangi sabun gadis itu tercium olehnya. Gadis itu terlihat mencuri-curi pandang, Adrian terang-terangan menggoda dia. Kenapa gadis itu bisa begitu tenang? Dari balik baju tidurnya yang tipis, ada tubuh yang sempurna di baliknya. Yang memanggil-manggil Adrian untuk segera membuka dan membaringkan tubuh semampai itu di lantai. Kerlingan matanya, terlihat mencoba nakal tapi amatiran. Belum pernah ada yang membuat Adrian merasakan kegilaan seperti ini. Bersiaplah untuk menjadi milikku, Kierra. Adrian tersenyum gembira. Camilla...Camilla...aku harus berterima kasih padamu kali ini. *** "Kamu yakin?" Letta melotot. Kierra menggeleng. "Sudah aku duga." "Baju itu terlalu sexy," keluh Kierra. "Kenapa sih ingin menggunakan pakaian yang sexy? Tanpa itu saja, kamu sudah sangat hot Kierra. Kamu ingin melihat seluruh mata lelaki keluar saat memandangmu?" "Uuuh..." Cuma satu lelaki. "Aku nggak yakin Letta." "Soal apa?" "Menarik perhatian pria?" Letta tertawa, "Apa ada yang mengajakmu berkencan?" Kierra menggeleng. "Bahkan pelayannya lebih cantik dan menarik ketimbang aku." "Siapa sih yang dimaksud?" Letta mengerutkan kening. "Bukan siapa-siapa." Akhirnya Kierra menjatuhkan pilihan pada blouse dan rok pensil sebetis. Untuk persiapan saja, seandainya dibutuhkan. Choky duduk bermalasan di sebuah meja, matanya seketika melebar saat melihat kedua gadis itu mendekat. "Akhirnya shopping kaum hawa selesai juga," keluhnya. Kierra menarik gelas minuman Choky dan menyesapnya. Padahal dia sering meminum dari gelas Choky, tapi tadi pagi saat Adrian minum dari gelasnya, d**a Kierra berdetak kencang. "Hei bagaimana menurutmu cara menarik perhatian lelaki?" tanya Letta pada Choky. Kierra segera melotot ke arah Letta. "Menarik. Mau membahas apa ini?" sahut Choky. "Kenapa tidak tanya sama Choky?" Letta berkata pada Kierra. "Kalau aku menyukai wanita itu, dia tidak perlu melakukan apapun," kata Choky lagi. "Jadi yang terpenting, buat dia menyukaimu dulu, Kierra," jelas Letta. "Bagaimana bisa tau dia suka kita atau tidak? Yang ada nanti malah kepedean," keluh Kierra. "Babe, kamu jatuh cinta sama siapa?" tanya Choky. Kierra diam dan gelisah. Dia tak bisa menceritakan kepada dua sahabat karibnya itu untuk sekali ini. Apalagi Choky yang membantunya mendapat pekerjaan di kantor Camilla. *** Sudah setengah jam Adrian tak beranjak dari tempat itu. Dilihatnya dari ujung kaki sampai ujung kepala, kalau dia predator sudah habis gadis ini dimangsa. Saat pulang tadi, Adrian mendapati Kierra sedang tertidur di karpet perpustakaan rumah. Dia hobby sekali membaca di sini. Posisinya yang berbaring miring membuat lekukan pinggang dan pinggulnya begitu jelas. Tidurnya tampak nyaman, bulu mata lentik membuat bayangan di pipi. Kenapa dia baru berdekatan dengan wanita ini sekarang? Harusnya sudah sejak dulu. Rasa ingin memiliki Adrian begitu kuat. Apa dia akan menolak kalau Adrian mencicipi bibir merah itu? "Ray." Terdengar gumaman lirih. Adrian tersentak. Dilihatnya Kierra bergerak pelan. Kierra memanggilnya dalam tidur? Keringat dingin mengucur dari kening Adrian. Adrian menggendong tubuh Kierra membawanya masuk ke kamarnya. Dibaringkan tubuh Kierra dengan lembut di atas tempat tidurnya. Disingkirkan rambut yang menutupi mata dan pipi gadis itu. "Kamu wanita pertama yang aku ajak ke sini. Jadi kamu tau apa artinya? Aku telah menandaimu." Adrian tersenyum. Adrian menghidupkan AC kamarnya. Pulas sekali tidurnya, Adrian tak tahan, diciumnya bibir gadis itu. Hmm ... dia curang, mencium bibir gadis yang sedang tertidur. Sialan! Yang ada Adrian makin menginginkannya lagi dan lagi... Apa dia telah menjadi pelaku pelecehan seksual? "Uuhh." Kierra terbangun, matanya membuka pelan. Aroma citrus berbaur pinus yang segar, aroma Pak Ray dia hapal sekali. Kierra melihat seprai bewarna biru tua. Dia terlonjak. "Di mana ini?" "Kamarku." Suara itu membuat jantung Kierra berdebar. Dilihatnya Ray sedang menulis sesuatu di atas meja. "Sudah bangun?" "Kenapa aku di sini?" tanya Kierra malu. "Rahasia." Uh nyebelin, jawaban apa itu? Kierra mengucek matanya. "Ya udah, aku tidur lagi aja." Kierra segera berbaring lagi dan menyelimuti tubuhnya dengan selimut Ray sampai ke kepala. Adrian tertawa, tingkah Kierra selalu ajaib. "Uuuhhhh." Belum ada lima menit, Kierra menghempas selimut itu. "Jangan berisik, aku harus menyelesaikan pekerjaan," tegur Adrian. "Sesak nafas." Kierra menggulung selimut itu, berantakan, kemudian dia melipatnya. Kierra berdiri, dia mendekati Adrian. "Lagi apa, Ray?" tanya Kierra. "Bekerja," jawab Adrian. "Ooh." Kierra mengintip-ngintip tulisan Adrian. Hei! Adrian jadi tidak bisa konsentrasi. Adrian menutup bukunya. Menoleh ke arah Kierra yang kusut. Diperhatikannya Kierra menyentuh bibirnya sendiri dengan jari. Sial! Adrian hampir berhenti bernafas. "Kenapa kamu?" Adrian pura-pura bertanya. Kierra menggeleng, dia spontan memegang bibirnya lagi, seperti sedikit kesemutan. Belum tahu saja bibir itu tadi habis dilumat oleh Adrian. Melihat Kierra menggeleng, Adrian menghela nafas lega. "Seorang perempuan berada di kamar lelaki, apa maksudnya ini Kierra?" tanya Adrian. Kierra memucat, dia juga tidak tahu. Apa tadi dia salah masuk kamar? Tunggu, terakhir dia membaca buku di perpustakaan, pastilah dia sangat mengantuk kemudian dia salah masuk ke kamar Adrian. "M-maaf itu ... aku mungkin salah masuk kamar," jawab Kierra. Tawa Adrian nyaris pecah, tapi ditahan. "Oh begitu. Jadi aku harus apa?" "Apa?" tanya Kierra takut-takut. Dia sudah mati kutu. Berani sekali dia berbuat seperti ini? Untunglah Pak Ray baik, dia tidak marah. Sepertinya strateginya tadi dengan pura-pura mendekat pria itu sedikit berhasil. Karena mereka sudah agak akrab, Adrian akan memaklumi tindakannya . "Kenapa malah bertanya?" Adrian melipat kedua tangannya, memandangi Kierra. Seperti anak kecil yang ketahuan mencuri permen dan sedang di marahi. "Ma-af." "Temani aku makan di luar malam ini." Hah?! Kierra melirik ke arah Ray. Ini terlalu cepat? Kierra menghitung dengan jari. Baru lima hari sejak di bertemu di rumah dengan Ray. "Apa seperti kencan?" Kierra bertanya ragu. Adrian tertawa. "Tidak mau?" *** Kierra segera terjatuh ke kasurnya, kakinya sudah gemetaran sejak tadi. Pria itu terlalu terlalu terlalu sexy. Kamarnya...uuuuuuhhh....kamarnya menguarkan hormon juga aura kejantanan yang luar biasa. Istilah apa itu? Dia tadi menatap mata Kierra dengan mata yang tajam dan bola mata yang hitam, hidungnya nyaris menusuk jantung Kierra, terlalu mancung. Lama-lama dia bisa gila. Aaaaaa.....! Kierra menghentak-hentakkan kakinya. Pak Ray, tampan sekali. Tubuh Kierra lemas. Dan dia mengajak Kierra makan malam di luar? Oh ini mimpi? Kierra mencubit bantalnya uh salah kemudian dia mencubit lengannya. Tidak terasa sakit. Ini mimpi, keluh Kierra. Tunggu. Kenapa dalam mimpi dia bisa mencium secara nyata aroma parfum Ray? Dia mencubit lengannya sekali lagi. Aww! Ternyata bukan mimpi.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN