Hot

1156 Kata
Kierra menyelimuti tubuh, dari kaki hingga kepala. Sekarang dia tidur di atap yang sama dengan pria itu. Kierra bergumam, wajahnya memerah. Ray... Karena pria itu, Kierra sedikit melupakan permasalahan yang menderanya. Menggoda dia? Bukankah terbalik, sangat jelas kalau Kierra yang jatuh ke dalam pesonanya. Ditahan-tahan tubuhnya yang menggigil tiap mendengar kata-katanya. Tatapan juga senyumnya. Tante Camilla, kenapa ingin agar Kierra bercinta dengan Ray? Tunggu? Ap-apa Ray seorang Gay? Bercinta? Kata-kata itu membuat Kierra bergidik. Dia seperti perempuan liar saja, otaknya selalu tentang percintaan. Tunggu...apa yang harus dia lakukan untuk membuat Ray tertarik padanya? Apa dengan tubuhnya? Hiiii ... mengerikan. Bagaimana Kierra sekarang harus memikirkan hal-hal gila seperti ini? Tapi jalannya sedikit mudah, Ray bilang dia akan kembali ke rumah ini. Mungkin dia kasihan melihat Kierra sendirian. Ah betapa baiknya lelaki itu. Horeee!!! Besok dan besoknya lagi Kierra akan dapat melihatnya setiap hari. Sepertinya penawaran Tante Camilla tidak buruk, soal bercinta nanti akan dia pikirkan lagi. *** Adrian merasakan kancing celananya dibuka. Dia terbangun, matanya membuka dengan sayup. Lampu kamarnya gelap, memang dia terbiasa mematikan semua penerangan sebelum tidur. Siapa ini? pikir Adrian. Matanya kemudian terbuka sempurna, dalam keremangan dia melihat sosok wanita bertubuh polos sedang menaiki dirinya. Merayap pelan. Lagi? Adrian mendesis. Terdengar sedikit desahan dalam nada suaranya. Mendengar desahan itu, tangan wanita itu mulai menarik cepat celana tidur Adrian, kemudian bermain di perutnya yang rata. Adrian berkata terus membuat kausnya mulai dilucuti. Sentuhan terasa di dadanya. Jam berapa ini? Jam dua pagi. Ketika bibir si w*************a terlihat mau mengecupnya, Adrian segera berkata. "Tinggalkan kamar ini atau besok jangan harap bisa melihat matahari lagi." Adrian menghidupkan lampu di sebelah tempat tidurnya. Wajah wanita itu memucat, segera dipunguti pakaiannya dari lantai dan berlari keluar. Adrian tertawa. Ya ampun! Sepertinya sedikit sulit ingin bersama denganmu Kierra. Terlalu banyak godaan iblis di rumah ini. Pelayan muda di rumahnya, pastinya dia bukan pelayan. Itu hanya kamuflase. Berapa banyak wanita muda yang disusupkan Camilla ke rumah ini untuk menggodanya. Apa sih niat wanita itu sebenarnya? Jangan khawatir Camilla, kali ini aku pikir kau akan berhasil. Hemm ... sial! Tubuhnya tegang hanya karena memikirkan Kierra. Kierra tak perlu polos di hadapannya untuk membuat dia tergoda. Di balik kaos yang kebesaran saja, Adrian sudah merasa sesak. Apalagi kalau tangan lentik itu membelai tubuhnya, kemudian dia membisikkan nama Ray. Oh ya, dia akan menggila dan kejang. Dia tertawa kecil. Baru kali ini dia begitu senang karena tindakan Camilla. *** Adrian melilitkan handuk di pinggangnya, rambutnya basah. Dia keluar dengan santai. Dilihatnya sosok Kierra sedang menghidupkan mesin kopi. Kierra menoleh saat mendengar suara langkah mendekat, melihatnya kemudian terpekik. "Kenapa?" Adrian bertanya bingung. "Pak Ray, kenapa nggak pake baju, sih?!" rutuk Kierra. Adrian malah duduk dengan santai, mengabaikan pekikan Kierra. Bude Asti memerintahkan salah satu pelayan untuk memijit bahu Adrian. Kierra menoleh, apa yang mereka lakukan? "Tuan muda harus dipijit setiap hari," kata Bude Asti. Kierra merengut, malu. Apa dia bertingkah berlebihan? Ta-tapi mau mati saja dia, d**a Ray yang tercetak sempurna dengan sedikit basah. Belum lagi lekukan di atas perutnya membuat Kierra menahan nafas. Hari pertama dan aku sudah sangat stres, keluh Kierra. Kierra melirik takut-takut. "Pak Ray, mau kopi?" tanya Kierra ragu. Dia setidaknya harus mencoba mencairkan suasana. Adrian diam. "Ya sudah kalau nggak mau." Kierra duduk dan meminum kopinya sendiri. Adrian menikmati pijatan di seluruh tubuhnya. Apa-apaan ini? Kelakuannya sangat menyebalkan. Kierra berdecak lagi. Mata Adrian terpejam, dengan cepat Kierra memandang puas-puas seluruh tubuh lelaki itu. Dia bergumam lagi ... Oh My God, kakinya lemas. Kierra berharap agar, ketika Adrian berdiri handuknya lepas, kemudian... "Hihii..." Dia terkikik geli. Adrian membuka matanya. Ups. "Siapa yang tertawa?" Adrian bertanya. Pelayan yang berada di sekitar Adrian memandang takut. Aa..."Kenapa?" tanya Kierra. "Jawab saja." "Malas," sahut Kierra. Kierra menyibukkan dirinya dengan mengolesi selai ke roti tawar. Seorang pelayan menghampirinya dan memintanya untuk menyerahkan tugas itu padanya. Kierra menolak. Adrian menatap Kierra, malas? Jawaban apa itu? "Apa kamu memikirkan sesuatu yang aneh?" tanya Adrian. Kierra menganga. Kierra mengambil pisau roti dan menusuk roti itu. "Kalau aku tusuk roti ini sebanyak tiga kali, apa aku jadi pembunuh berantai?" desis Kierra. Adrian tertawa kencang. Membuat pelayan-pelayannya kaget. Kierra merengut. Adrian masih tertawa, kepalanya tersungkur di meja. Dia bermaksud membungkam Kierra, malah dia yang mati kutu. Adrian mengusir pelayan yang memijatnya, ditariknya cangkir kopi milik Kierra. "Itu punyaku," protes Kierra. "Yah ... semua yang ada di bawah atap rumah ini punyaku juga," sahut Adrian. Diseruputnya kopi itu. Kierra menopang dagu dengan kedua tangannya, memandang lekat ke arah Adrian. "Kenapa?" tanya Adrian. "Menunggu pujian." "Enak," kata Adrian sambil tersenyum. "Kopi terenak yang pernah aku minum." Senyum Kierra menghiasi wajahnya. "Pembohong." "Hmm." "Bude, ke mana Siska?" Kierra melihat salah satu pelayan muda menghilang. Pelayan yang cantik dan menarik, membuat Kierra cukup kagum saat melihatnya. "Dia sudah berhenti bekerja tadi pagi, non," jelas Bude Asti. "Aku rasa dia mengejar karir lain. Di cocoknya menjadi seorang model," kata Kierra. Bude Asti hanya tersenyum simpul. "Pak Ray," panggil Kierra. Adrian diam. "Pak Ray." Masih membisu. "Ray." "Ya?" "Menolak tua," ejek Kierra. Kierra berdiri dan meninggalkan meja makan. Menuju kamarnya. Apa? Adrian tercengang. **** Aihhh ... menyebalkan! keluh Kierra. Pandangannya mendadak kabur. Kakinya bergerak-gerak gelisah di atas ranjang. Ray terlalu sexy. Dia pasti memamerkan dadanya tadi pagi, alasan saja mau dipijat. Kierra berguling-guling di atas tempat tidur. Baru kali ini dia melihat tubuh itu shirtless, menguncang jiwanya. Dia seperti ingin melecehkan tubuh Ray, meremas dadanya yang liat kuat-kuat. Handuknya terlalu turun. Sungguh hebat dia mampu bertahan tidak menjatuhkan diri ke pelukan pria itu seketika, atau memaksa pelayan menggantikannya memijit. Kalau untuk Ray dia bersedia, memijiti seluruh tubuhnya. Bahkan sampai bagian yang tertutup. Ya ampuuunnn! Liar sekali otaknya. Dia sudah gemetaran tadi, apalagi saat Ray meminum kopi dari gelasnya. Itu ... ciuman tidak langsung. Aaaaa........ Kierra menahan diri untuk tidak terpekik. Oke, sekarang aku harus pikirkan cara untuk menggoda Ray. Kierra mengangkat kakinya, baju tidur berbahan katun yang tidak menarik. Dia selalu bergaya culun, sejak mengalami pelecehan oleh teman pria saat SMA dulu. Kierra selalu mengenakan pakaian-pakaian yang longgar dan tertutup. Sampai dia lupa bagaimana memakai pakaian yang sedikit terbuka. Kierra bergumam. Sekarang dia punya kebiasaan bergumam. Memang dia sengaja berpakaian terbuka, mengundang cowok untuk menyentuhnya. Dia teringat saat mendengar kalimat lawan jenis saat itu, mengomentari dia. Kata-kata itu membuat dia jijik, padahal dia hanya mengenakan rok pendek dan kaus yang sedikit jatuh di badan saat itu. Dasar lelaki itu menjijikkan, keluh Kierra. Ray tidak perlu menyentuhnya, Kierra akan dengan senang hati memberikan dirinya untuk dia sentuh, kalau nanti hubungan mereka menjadi spesial. Dia sudah dewasa saat ini, melakukan itu ... itu normal saja bukan? Kierra melihat ponsel, ada notification dari bank di sana. Tante Camilla telah mentransfer gajinya. Cukup banyak. Kierra seperti makan gaji buta saja. Dia akan menyimpan sebagian besar untuk pengobatan Kalil dan dia mungkin akan sedikit shopping, menaklukkan Ray butuh usaha. Ray pastilah di keliling oleh banyak wanita cantik. Kierra bersiap-siap pergi sebelumnya menelpon Letta terlebih dulu untuk janjian. ****
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN