Sekalipun harus mengubur mimpinya meraih gelar master, Kierra tetap rajin membaca diktat dan buku-buku. Dia tak mau otaknya menjadi tumpul, Kierra menemukan kebahagian tersendiri membaca buku di perpustakaan pribadi rumah itu. Dibandingkan membaca melalui smartphone, membaca buku lebih menarik.
Kierra tenggelam dalam keheningan ruang itu, sambil sesekali di sesap kopi yang dia buat sendiri dengan sedikit memaksa. Kopi buatannya selalu lebih enak dan pas. Oh...sudah beberapa bulan meninggalkan kampus, kompetisi enterpreuner yang tak pernah dia ikuti. Kierra mengeluh, bagaimana kehidupan seseorang bisa berubah menjadi begitu berbeda hanya dalam waktu sekejap.
Begitu terhanyutnya Kierra sampai tidak mengetahui seseorang memperhatikannya dari pintu.
"Apa buku itu sangat menarik?" Suaranya terdengar berat dan dalam.
Jantung Kierra berdetak cepat, nafasnya terasa sesak. Dengan sangat pelan dia menoleh ke arah pintu.
"Aku mencoba untuk tidak terkejut melihatmu di sini. Tapi, bisa jelaskan?"
Kierra berdiri, "Pak Ray." Kata Kierra lirih.
Empat bulan tidak melihat wajah tampannya yang selalu menghiasi lamunan Kierra. Tubuhnya yang tinggi dan atletis berbalut kemeja lengan pendek bermotif kotak. Celana jeans membuat kaki panjangnya semakin sexy semakin panas.
Pria itu masih memandangnya dari pintu dengan tatapan tajam. Kierra meremas tangannya, dia mengenakan setelan piyama yang membuat penampilannya bagai bumi dan langit dengan pria itu.
Hiks...Kierra menangis.
"Hei."
Mereka duduk berhadapan di meja perpustakaan.
"M-maaf." kata Kierra lirih. Dia menyesap kopinya yang sudah dingin. Mengusap pipinya yang basah dengan punggung tangan.
"Aku menakutkan, ya?"
Kierra menggeleng. "Bukan begitu, saya hanya..." Kierra kehabisan nafas.
"Saya tadinya bekerja menjadi aspri Tante Camilla, kemudian dia berkata butuh orang untuk mengawasi rumah."
Pria itu diam, suara nafasnya terdengar menggelitik lembut telinga Kierra. Berduaan di ruangan ini dengan pria yang dia sukai, Kierra merinding.
"Jadi?"
"Tante Camilla meminta saya tinggal di sini. Karena rumah ini sering kosong."
"Hmm."
Kierra menekuri lantai ruang perpustakaan itu.
"Apa kamu tau aku adalah anaknya?"
Kierra mengangkat wajahnya pelan, melihat pria di hadapannya.
"Itu..." Kierra mengangguk.
"Terus?"
Pertanyaannya yang satu-satu membuat Kierra semakin gundah.
"Tapi katanya bapak jarang pulang, jadi saya..."
"Kamu berharap tidak bertemu denganku, di rumahku sendiri?"
"Bukan begitu..." Kierra mendesah. Dia bingung harus berkata apa. "Bisa tidak, jangan tanya-tanya lagi?" Kata Kierra pelan.
"Wah...wah..."
"Bapak marah? Kalau bapak tidak suka saya di sini, saya bersedia pergi."
"Kamu yakin?"
"I-itu..."
"Sepertinya tidak."
"Saya akan membuat diri saya tidak terlihat."
Pria itu tertawa, Kierra sangat gugup. Matanya yang bening dan indah berkedip, masih sedikit basah.
"Apa pekerjaan seorang Aspri? Kenapa malah bersantai di sini?"
"Tante Camilla sedang kunjungan keluar kota. Lagipula katanya saat ini saya cukup mengawasi rumah saja."
Parfum pria itu memenuhi ruangan, aromanya lembut namun segar. Kierra malah tidak mengenakan parfum. Tante Camilla sudah gila, bagaimana dia bisa menggoda pria di hadapannya ini. Lihat dia sekarang, gemetaran seperti akan dimangsa.
"Menurutmu apa yang seharusnya aku lakukan? Tinggal bersama dengan mahasiswaku?"
"Saya tidak berkuliah lagi." Kata Kierra pelan, sedih menggelayuti hatinya.
"Ya. Sudah lama tidak melihatmu. Kamu cuti?"
"Saya berhenti."
Pria itu tampak terkejut.
***
Lelaki bertubuh tinggi itu membanting pintu kamarnya dengan keras.
Sialan! Apa itu tadi?
Dibukanya kemejanya dengan kasar, dia masuk ke kamar mandi dan menyiram seluruh tubuhnya dengan shower. Celana jeansnya masih melekat di sana. Darahnya mendidih.
Kierra? Dia menopangkan kedua tangan di dinding. Berusaha memikirkan sesuatu.
Kierra? Uh Sial!
Ketika pertama kali koleganya menawari mengisi mata kuliah pilihan di kampus itu, Adrian hanya mencari selingan dan suasana baru. Menarik berbincang dengan mereka. Dia menamatkan gelar master di luar negeri, dan dengan statusnya sebagai peraih gelar pengusaha muda, banyak kampus yang menawarinya mengisi kegiatan seminar ataupun kuliah. Diapun menjadi dosen tidak tetap di sana. Hanya satu mata kuliah. Karena dia cukup sibuk.
Apa ini? Kejutan yang mengerikan.
Hmm...gadis itu, siapa yang tidak mengenalnya di kampus? Kacamatanya selalu bertengger di wajahnya, pakaiannya juga asal-asalan, tapi tidak dapat menutupi tubuh tinggi semampai dan rambutnya yang bergelombang sempurna, selalu mengalihkan mata kaum adam saat dia berjalan.
Gadis cantik tidak akan terlalu membuatnya seperti itu. Tapi Kierra? Dia selalu memukau dengan pendapatnya, bibirnya yang bergerak-gerak basah saat berdebat menghipnotis untuk dibungkam dengan ciuman panas. Analisanya cemerlang, tugas-tugasnya sempurna.
Semakin lama memperhatikan semakin dia tertarik pada pesona gadis itu, dari balik kemejanya yang kebesaran. Adrian selalu membayangkan lekuk tubuh indah yang berusaha dia tutupi. Dari balik kacamatanya, Adrian selalu terseret dalam pada matanya. Seperti tadi, kenapa dia menangis? Seakan belum cukup menyiksa Adrian dengan pertemuan mereka. Matanya sangat indah.
Dan lihat bagaimana reaksi tubuhnya saat dia mendengar suaranya yang lirih berbisik dan terbata. Hanya bertemu seminggu sekali di kampus membuat dirinya terbakar, apa jadinya kalau sekarang gadis itu bahkan berencana tinggal seatap dengannya? Bisa dipastikan dia tidak akan rela meninggalkan rumah ini lagi.
Sialan! Aspri perempuan itu? Ibu tirinya? Apa dia sekarang akan jatuh pada perangkap wanita itu?
Tentu saja, bukankah itu sangat jelas? Di mana dia menemukan Kierra? Otak Adrian berputar cepat. Kenapa Kierra berhenti kuliah? Sudah jelas pasti tidak ada biaya. Wanita licik itu memanfaatkannya, sudah jelas. Adrian bukan pria t***l, lihat saja pelayan-pelayan muda di rumahnya sering berganti-ganti, terlalu cantik, setiap dia pulang selalu dilayani dengan penuh godaan. Seperti dia akan tertarik saja.
Tapi, kali ini? Kierra? Melihatnya saja perempuan itu menangis, dia sama sekali tidak berusaha menggodanya. Uhhh!
Lucunya Kierra menjawab dengan jujur kalau dia mengetahui bahwa dirinya adalah salah satu penghuni rumah itu. Apa tawaran dari wanita iblis itu? Atau diam-diam Kierra menyukai dia juga? Tidak mungkin.
Gadis itu tampak tidak tertarik, dia bersikap sangat biasa saat mereka mengobrol. Adrian akan mengetahui dengan cepat wanita-wanita yang tertarik padanya, dari gerak gerik dan raut wajahnya.
***
Mereka duduk lagi di halaman belakang, seorang pelayan mengantar minuman dan kue.
Kulit Kierra yang bening terpapar cahaya matahari, wajahnya terlihat sempurna tanpa kacamata. Sudah dia duga, kacamata itu palsu. Kenapa gadis itu selalu berusaha menutupi kecantikan parasnya?
"Pak Ray." Katanya pelan.
"Ya." Kierra selalu memanggilnya dengan nama tengah, apa dia ingin membuat Adrian merasa spesial?
"Apa bapak marah sama saya?"
"Kenapa?" Adrian meminum kopi dari cangkir itu.
"Karena saya tinggal di sini?"
"Bagaimana menurutmu?"
Kierra tertawa kecil. Lihat, senyumnya begitu indah. Padahal bibir itu pucat tanpa polesan.
"Tidak marah," jawab Kierra.
"Kenapa begitu yakin?"
"Karena, bapak baik."
"Kamu menilaiku?"
"Karena rumah ini besar, banyak kamar kosong. Daripada dihuni makhluk astral lebih baik dihuni oleh manusia asli." Kierra mulai berkata dengan cepat.
"Kamu selalu pintar mencari alasan."
"Iya. Nilai saya sering A, Pak." Kierra tertawa, tapi kemudian sedih lagi.
Adrian menangkap kilat pedih di matanya. Kerah kaus Keirra terlalu turun, memamerkan tulang selangkanya dengan jelas. Adrian meneguk kopinya lagi dengan cepat. Matanya sudah liar ke mana-mana.
"Halaman ini bagus." Mata Kierra menyapu suasana di sekitar mereka.
"Kamu suka?"
Kierra mengangguk. "Banyak bunga, selalu dirawat dengan baik. Aku suka itu anyelir, lily." Kierra menunjuk- nunjuk bunga-bunga di sana. Mana peduli Adrian pada nama-nama bunga. "Tapi selalu susah menanam anggrek. Kemarin yang di rumah busuk dan mati."
"Paling suka bunga apa?"
"Apa ya? Mawar?"
"Mawar putih? Karena lambang kesucian?"
Kierra menggeleng. "Mawar ungu."
"Memangnya ada?"
Kierra mengangguk.
"Aku juga suka bunga."
"Oh ya? Bapak suka bunga apa?" Mata Kierra berbinar.
"Bunga bank."
"Ah...bapak." Kierra merengut, marah karena terpancing.
"Selain itu aku juga suka bunga deposito."
"Bunga bangkai enggak?"
Adrian tertawa, "Kamu kira aku menyukai bunga pembunuh berantai?"
Kierra tertawa geli, "Bunga pembunuh berantai? Apa-apaan?"
"Diakan makan serangga. Setelah melakukan tiga kali pembunuhan, maka dia akan jadi serial killer."
Kierra tertawa lagi. "Benar juga, kenapa aku tidak memikirkannya?"
"Karena nilai kamu A, sedangkan aku A+."
"Uuu sombong."
"Kalau tidak begitu aku tidak mungkin jadi dosenmu bukan?"
Kierra mengangguk-angguk.
"Sudah berapa lama kamu di sini?"
Kierra berpikir sambil menghitung dengan jarinya. "Hampir sebulan."
Adrian tertegun. Apa dia sudah sebulan tidak pulang?
"Betah?"
"Nggak tau," jawab Kierra.
"Kenapa?"
"Masa bilang betah, malu," kata Kierra lagi.
"Kenapa malu?"
"Bapak saja pemilik rumah, tidak pernah tinggal di sini. Bapak tidak betah? Apa sepi?"
"Kamu kesepian?"
"Malah nanya."
"Mau ditemani?"
Kierra menoleh ke arahnya, matanya menatap Adrian ragu. Dia mengalihkan pandangan lagi.
"Kenapa diam?" lanjut Adrian.
"Bingung."
"Kenapa?"
"Bapak, jangan interogasi aku."
"Hmm."
"Bapak marah, kan?"
"Kenapa?"
"Bapak seperti sedang mengintimidasi aku," keluh Kierra. Apa mereka memang seakrab ini? Atau karena suasana di halaman ini membuat mereka berbicara dengan sangat lancar.
"Kamu merasa terintimidasi?"
Kierra diam.
"Kenapa kamu panggil aku bapak? Memang berapa umurku? Apa ini di kampus? Apa aku sudah tua?"
"Itukan...kebiasaan."
"Memang berapa umurku?" desak Adrian. Dia geli melihat wajah Kierra yang berubah-ubah. Tertawa, kesal, cemas, malu, bergantian.
"27."
"Kenapa bisa tau? Kamu menyelidiki aku?"
Kierra memucat. "I-iya Ray."
"Di mana kesopanannya? Apa kita sebaya?"
"Abang." Kierra memanggil gugup.
Tawa Adrian meledak. Ya Tuhan! Kenapa dia lucu sekali? Kierra tampak terperangah dengan tawanya yang begitu keras. Astaga kenapa dia bisa tertawa seperti ini?
"Ini makan kue." Adrian menyodorkan kue itu ke depan Kierra. Kierra mengambil dan langsung memakannya.
"Panggil lagi Ray."
"Nggak mau," kata Kierra kesal.
"Ayolah."
"Nggak."
"Kalau dipanggil Ray, aku akan balik ke rumah ini. Kamu butuh teman berdiskusi bukan?"
Kierra menatapnya, "Ray," bisiknya lirih.
Gila! Jantung Adrian berdetak sangat cepat. Sexy sekali suara itu.
***