Adrian memeluk pinggangnya, Kierra berputar dengan cepat. Wajahnya seketika berubah warna, merah. "I-ini nanti ada yang liat gimana?" protes Kierra. Dia berkata canggung. "Ya tidak apa-apa," sahut Adrian santai. "Sikap tenangmu kadang membuatku ngeri, Ray." "Aku tidak setenang yang kamu kira, Kierra," sahut Adrian. "Kamu buas kalau ...." Kierra menghentikan ucapannya, dia tersipu malu dan menoleh ke sekitar. Menarik nafas lega karena parkiran itu masih sepi. Ada beberapa mahasiswa berlalu lalang, tapi posisi mereka tersembunyi. Adrian menaikkan sudut bibirnya, "Kalau? Kamu mau mengatakan apa?" "Tidak. Aku duluan." Kierra berlari meninggalkan Adrian, menuju ruang kuliah. Adrian tersenyum memandang punggung Kierra, rambutnya yang bergelombang dibiarkan tergerai. Setidaknya Kierra sud

