Adrian mengusap bibir Kierra. Semalaman gadis itu tidak tidur hanya menggigil dalam pelukannya. Seandainya terlambat sedikit saja, trauma apa yang akan di alami gadis ini? Nanti dia akan membuat perhitungan dengan Pamannya. "Aku mau pulang," isak Kierra lagi. "Ke mana? Di sini rumah kamu juga." Adrian menjawab pelan. Kierra menggeleng, "Aku mau pulang, Ray." Adrian menghela nafas, "Baiklah. Tapi ... aku akan cari tempat lain ya, jangan di sana. Lingkungan itu tidak aman." Kierra menggeleng lagi. "Aku mau pulang." "Oke, nanti aku antar kamu." "Sekarang Ray." "Kondisi kamu belum sepenuhnya pulih, wajah kamu masih memar." Kierra meringis saat Adrian menyentuh pipinya. "Lihat kan?" "Ray, aku akan pulang. Pergilah bekerja." Kierra beringsut dengan ringkih. "Oke, kalau keputusan kamu

