Kepala Marsha begitu sakit akibat kebingungan yang melandanya. Tubuh tidak bisa ia kendalikan tatkala Kalandra mengambil alih semuanya. Bahkan napasnya pun sulit diatur, sampai terengah-engah dengan mulut terbuka tanpa suara. Dan lagi, gelombang itu datang tanpa aba-aba membuat tubuh Marsha menggelinjang dan menjerit juga. Kalandra yang sibuk di daadanya akhirnya mengangkat tatapan, menatap Marsha yang terengah dan perlahan berucap, “Tarik napas… pelan-pelan… ya begitu.” Heran, kenapa benda besar itu membuatnya sampai seperti ini. “Bapak…,” rengek Marsha menyadari bahwa sofa itu sudah begitu basah, banjir dari apa yang tidak pernah Marsha duga, ia malu karena menetes dari tubuhnya, membuatnya menutup wajahnya kembali. Kekehan Kalandra terdengar begitu berat, membuat bulu kuduknya merindi

