Saat kembali sadar, ternyata aku sudah berada di dalam kamarku. Kudengar lantunan lantunan bacaan alquran menggema. "KASIHHH!!!" Akupun berlari keluar kamar mencari keberadaan anakku. Nina dan Ibu memegangiku. Kulihat Kasih sudah terbungkus kain kafan. Senyum terpancar di wajahnya. Aku langsung memeluknya. "Kasih, kenapa kamu pergi secepat ini Nak. Mama masih pingin sama kamu Nak. Kita kan belum mengunjungi Koko, nanti kalau Koko nanyain kamu, trus Mama harus jawab apa, Nak?" "Bangun Nak, ayo kita kepasar, lalu kamu bantuin Mama buat gorengan lagi ya. Ayo bangun Sayang" Aku masih terus menangis memeluknya. Mantan Ibu Mertuaku juga kulihat datang, namun tak kulihat batang hidungnya Ardi. Dia mendekatiku, memelukku dan memberiku semangat. "Sudahlah Nduk. Ikhlaskan Kasih, dia sudah tena

