['Bagaimana aku bisa lupa? Bagaimana aku bisa menghapus semua kenangan indah itu… seolah semuanya tak pernah terjadi? Sudah berkali-kali aku mencoba… tapi hati ini bukan benda yang bisa dibanting lalu diganti. Ini hatiku. Luka di dalamnya pun milikku sendiri. Biarlah… biarlah aku yang menyimpan cinta itu, walau setiap detiknya menusukku dari dalam. Biarlah aku yang menanggungnya, meski rasanya seperti berdiri di tengah hujan— melihat tiap tetesnya jatuh, pecah, dan hancur di dataran yang keras. Seperti itulah cintaku. Jatuh. Hancur. Tapi tetap turun… tanpa pernah tahu bagaimana caranya berhenti.'] Kinara membuka matanya perlahan. Kelopak matanya terasa berat, seolah ada beban timah yang menggantung. Dunia berputar, tak stabil—dinding kamar berayun seperti ingin runtuh. Kepalanya

