[‘Aku benci saat harus sendirian,’ ucap Kinara, suaranya lirih, seolah setiap kata ditarik paksa dari ujung luka di dadanya. ‘Kenapa?’ tanya Vin, matanya mencari wajah Kinara, seakan ingin membaca sesuatu yang tak pernah benar-benar ia mengerti. ‘Jika sendiri… aku selalu ingin pergi sejauh mungkin,’ bisik Kinara. ‘Aku ingin kau mencariku, menahanku… dan tentu… tak pernah melepaskanku, Vin.’] Vin berlari menuruni anak tangga dengan napas terengah, seakan setiap pijakan menghantam dadanya yang sudah penuh rasa bersalah. Di kepalanya, satu suara terus berputar seperti kutukan yang tak mau pergi —‘Aku benci saat harus sendirian… aku ingin kau mencariku, menahanku, dan tak pernah melepaskanku, Vin.’ Setiap hurufnya menampar kesadarannya. Amora menyusul di belakang, langkahnya kacau oleh r

