Vin duduk di sisi ranjang, tatapannya tidak pernah lepas dari wajah Hana yang tertidur pulas. Wajah malaikat itu tampak begitu damai— kelopak matanya tertutup sempurna, seolah dunia tidak pernah menyakitinya. Napas Hana teratur, naik turun dengan ritme yang menenangkan. Di bibir tipis yang begitu Vin hafal bentuknya, ada seulas senyum kecil… seolah Hana sedang bermimpi tentang sesuatu yang indah. Atau seseorang yang ia cintai. Vin mengangkat tangan, membelai surai lembut Hana. Sentuhannya pelan, penuh hati-hati, seperti ia menyentuh sesuatu yang rapuh namun paling berharga di dunia. Senyum penuh perasaan terbit di bibirnya. Senyum yang hanya dimiliki Hana. Senyum yang tidak pernah ia berikan kepada siapa pun. Dalam keheningan kamar itu, Vin mengingat kembali bagaimana ia pertam

