Dua bulan berlalu semenjak hakim memukul palu pertanda berakhirnya kasus perceraian Nadya dan Harun. Kasus yang ditutup dengan damai. Nadya sudah berusaha ikhlas menerima takdir dan jalan nasibnya. Ia sudah melupakan Rania, wanita yang sudah pernah berbagi tubuh dengan suaminya. “Sayang ... apa kamu sungguh-sunguh dengan keputusanmu? Abang tidak pernah memaksa kamu untuk berhenti bekerja dan meraih cita-cita.” Harun menghampiri Nadya yang masih merenung di teras rumah mereka. Pria itu datang seraya memberikan secangkir teh hijau hangat dengan perasan jeruk nipis—minuman kesukaan Nadya. “Bang ... aku ingin semua baik-baik saja. Jika aku tetap paksakan untuk bekerja, maka kehidupan kita akan selalu seperti ini. Waktuku akan habis untuk bekerja, sementara tugas utamaku adalah melayani suami

