Minang Plaza, Kota Padang. Biru yang belum sepenuhnya sehat, tampak sumringah tatkala menikmati malamnya di salah satu pusat perbelanjaan terbesar di kota itu. Bocah enam tahun tahun itu, seakan lupa dengan demamnya. Ia begitu menikmati setiap arena permainan yang disuguhkan tempat itu. Senyum dan tawa bahagia tak pernah luput dari wajah cantik Nadya. Rasa lelahnya setelah seharian bekerja, seakan sirna. Nadya bahkan belum mengganti seragam kantornya. “Nad, abang sangat bahagia melihat senyum itu kembali. Maafkan abang yang sudah pernah menghancurkan senyum itu.” Harun memegang erat jemari Nadya seraya menatap wajah cantik istrinya, dalam-dalam. “Jangan melihatku seperti itu, Bang.” Nadya jengah. “Kenapa?” “Malulah, banyak mata yang melihat kita.” “Kenapa harus malu, bahkan abang in

