“Surat ... surat ....” Harun mendengar suara tukang pos mengantarkan surat. Hari ini, pria itu sengaja mengambil cuti, ia ingin menghabiskan hari bersama Biru dan Jingga. Kali ini Biru yang demam, jadi Harun memutuskan untuk menjaga putranya itu di rumah. Sementara Nadya pergi bekerja. “Maaf pak, ini ada surat untuk bapak Harun dan ibu Nadya.” Harun terkejut, melihat amplop dari surat itu. Jiwanya tiba-tiba berdebar. “Mohon tanda tangan di sini, Pak.” “I—Iya, sebentar.” Harun tergagap, sebab netranya masih terfokus pada amplop surat yang ia terima. “Terima kasih, Pak. Kalau begitu saya permisi.” “Iya, sama-sama, Pak.” Pak pos itu pun akhirnya berlalu dari pandangan Harun. Harun masuk ke dalam rumah dengan langkah gontai. Di tangannya kini ada dua buah surat dari pengadilan agama ko

