"Eh ... itu ...." Gio sulit menelan ludah. Ia tidak tahu apakah ia harus berterus terang karena bila ia melakukannya, besar kemungkinan Danu akan menghajjarnya. Ini akan membuat Brad merasa puas telah bisa menghancurkan hidupnya. Namun, Gio tidak mau hidup dalam kebohongan. Lebih baik berterus terang dan hidup menderita daripada hidup dalam kepalsuan. Ia tidak bisa hidup seperti itu walaupun kebohongan bisa menyelamatkan nama baiknya. Gio memejamkan mata. Ia mengucap bismillah dalam hati. Setelah yakin, ia membuka mata dan mulai bicara. "Aku ...." "Aku tak ingin bercerai!" Ketiga pria itu menoleh. Ada Nina yang datang mendekat. "Untuk apa aku bercerai? Hidupku sudah nyaman bersama suamiku." "Nina? Kenapa kamu ke sini?" Gio memandangi kehadiran istrinya tak percaya. Bukankah seharusnya

