7. Bertemu

1187 Kata
"Iya," sahut wanita muda bertubuh jangkung itu. Ia mengenakan jas tanpa lengan berwarna biru muda, dengan kaos putih tangan pendek di dalamnya. Dengan celana panjang berwarna biru juga, wanita ini terlihat modern dengan rambut panjang melewati bahu. Gio tidak kenal wanita ini secara pribadi, tapi semua orang tahu siapa orang ini. Ia adalah model terkenal Nina Kay, yang go internasional hingga ke luar negeri. Namun setahu Gio, mereka tidak pernah bertemu. Ada apa hingga wanita itu datang ke tempatnya? "Bisa bertemu dengan Gio?" tanya Nina lagi. "Saya Gio," jawab Gio dalam kebingungan. "Kamu?" Wanita itu mengerut dahi menatap pria di hadapan. "Jangan bercanda!" Ia hampir tertawa. "Di mana dia? Dia gak mau ketemu aku?" Matanya mencari-cari ke dalam rumah. Gio benar-benar tak mengerti, kenapa wanita ini tak percaya padanya. "Aku Gio. Memangnya ada Gio lain di rumah ini?" Nina kembali memperhatikan Gio. "Ini bercanda, 'kan? Apa kamu Gionino Pradana Hayes? Bukan, 'kan?" "Itu memang namaku," jawab Gio cepat. Nina memandangi Gio dari ujung rambut hingga ujung kaki. Ia hanya melihat seorang pria asli Indonesia. Kenapa pria ini mengakui nama orang bule? Setidaknya ia harus terlihat indo agar ia bisa percaya. Namun bukan itu masalahnya. Pria di hadapan bukanlah pria yang dicarinya. "Kamu ...? Bukannya Hayes itu nama orang bule ya?" ujarnya setengah mengejek. "Iya. Itu nama ayahku." Terang Gio lagi. Nina kembali memindai pria tampan di depannya dengan teliti. Apa mungkin pria ini coba membohonginya? "Ini tidak mungkin ... kamu bernama Gionino Pradana Hayes?" Bola matanya melebar. "Kamu tidak percaya? Kamu bisa keliling di lingkungan ini dan bertanya, siapa Gionino Pradana Hayes. Mereka pasti menunjuk aku." Gio meyakinkannya. Wanita itu tersenyum miring. "Jangan berusaha menipuku ya?" Tiba-tiba ia masuk dan mendorong Gio ke samping dengan kasar. Nina melihat sekitar. Baru saja ia akan berteriak memanggil Gio, ia melihat foto keluarga Gio di dinding. Nina terkejut karena tidak menemukan foto pria yang dicarinya. Ia sempat melihat foto ayah Gio yang bule dan Lily yang indo, sehingga ia kini percaya Gio berkata benar. Dan itu membuatnya terguncang. "Ini tidak benar! Ini tidak benar, 'kan?" Nina bergerak mundur sambil kembali menggeleng-gelengkan kepalanya. Ia syok! Seketika tubuhnya lemas. "Tidak benar apanya? Sebenarnya apa yang kamu cari? Kenapa tiba-tiba mencariku padahal kita tidak saling kenal?" Seketika wanita itu ingat kembali akan tujuannya. Dengan cepat ia kembali menegakkan tubuh dan menghadap Gio. "Kalau begitu anakku .... Di mana anakku sekarang?" Ia menoleh ke arah Gio sambil mengguncang lengan pria itu. "Anakmu?" Seketika Gio teringat Anna. "Iya, Ariana. Aku meninggalkannya di sini. Di mana dia sekarang?" Nina melepas pegangannya. "Tapi ibu Anna bukannya bernama Nina Khoirunnisa?" "Iya, itu namaku. Aku pakai nama Nina Kay agar lebih banyak orang bisa menyebut namaku." Nina mengambil dompet dari tas kecilnya dan memperlihatkan KTPnya. "Lihat, namaku Nina Khoirunnisa." Gio memperhatikan baik-baik KTP yang diperlihatkan Nina. Tertulis di sana nama Nina Khoirunnisa beserta fotonya. Wanita itu tidak berbohong. Jadi .... "Jadi, kembalikan saja anakku!" Kemudian Nina bergumam sendiri. "Sialan, aku ditipunya. Siapa sebenarnya nama laki-laki itu? Beraninya dia menipuku." Ia kemudian bicara lagi pada Gio. "Maaf, aku sepertinya salah orang. Maaf ya?" Gio tak bergeming. Ternyata selama ini ia benar. Ia belum pernah tidur dengan wanita manapun, sedang ibu Anna hanya salah orang, tapi ... ia sudah terlanjur membesarkan Anna. Apa ia bisa memberikan Anna begitu saja pada wanita asing, walaupun wanita itu adalah ibu Anna sendiri? "Ayah ...." Rupanya Anna sedang sarapan di meja makan tak jauh dari sana. Ia turun dari kursi dan mendatangi keduanya demi ingin mengetahui apa yang terjadi. Gio lupa, ia sedang menunggui Anna sarapan. Kini Anna mendengar semuanya. Ia bingung, keduanya sedang membicarakan siapa. Nina menatap ke arah gadis kecil itu. Ia melihat bayi kecil itu kini berubah menjadi seorang gadis kecil yang cantik. "Kamu ... Ariana?" Ia menoleh pada Gio. "Kamu memanggilnya Anna?" Nina kembali melihat ke arah anaknya yang kini telah besar. Nina tersenyum lebar sekaligus haru menahan tangis. Tangannya gemetar saat ingin menyentuh Anna, tapi gadis kecil itu ketakutan hingga berlari ke arah Gio. Anna memeluk kaki sang ayah angkat dengan erat. Nina mendatangi Gio. "Maaf. Tapi sekarang aku harus membawa dia pergi. Maaf atas segala kesulitan yang sudah ditimbulkan, tapi aku akan mengganti seluruh pengeluaran yang sudah kamu keluarkan demi anakku. Terima kasih, sudah membesarkannya." Ia kemudian mencoba meraih tangan Anna tapi gadis kecil itu menjerit. "Ayah!!" Anna menyembunyikan wajahnya di kaki Gio sambil memegang erat-erat kaki itu. "Tolong Ayah ...." Ia mulai menangis. Nina tak jadi menyentuhnya. Ia menatap Gio berharap pria itu membantunya. Sedang Gio sendiri sedang kebingungan. Sudah habiskah waktunya bersama anak tercintanya itu? Ia sendiri masih syok. Ia juga takut kehilangan. Segala perasaan bercampur aduk sekarang, sedang Nina mendesaknya untuk melepas Anna. Gio sendiri bingung harus bersikap bagaimana. "Eh sebentar ya?" Gio menunduk dan melepaskan pelukan Anna pada kakinya. Anna masih tersedu-sedu. "Anna ...." "Ayah ...." Anna mendongakkan kepala. Butiran air mata telah membasahi pipi kecilnya yang putih mulus itu. Gio masih bingung harus mulai dari mana, tapi yang pasti, Anna bukan miliknya. Seharusnya ia menyadari ini sejak awal. Namun bukankah wanita ini meninggalkan Anna karena mengejar mimpinya? Karena itu Gio beranggapan wanita ini tak menginginkan Anna lagi. Padahal jelas-jelas di dalam surat Nina mengatakan 'menitipkan'. Ada kemungkinan wanita itu kembali untuk mengambilnya lagi, 'kan? Gio mendongakkan kepala menatap Nina. "Bisakah kita duduk dulu untuk bicara?" Nina mengangguk. Ketiganya mendatangi sofa dan duduk di sana. Gio duduk dengan Anna di sampingnya. Di hapusnya sisa air mata di pipi Anna. Gadis kecil itu begitu pasrah ketika Gio mengusapnya dengan kedua ibu jari. Kemudian Gio mengarahkan pandangan ke arah Nina. "Kenapa kamu meninggalkannya tanpa bertemu denganku waktu itu?" "Aku mengejar penerbangan ke Paris. Aku sudah ada jadwal untuk menguruskan badan dan ikut kontes dunia. Bukan aku tidak berusaha memberitahukanmu, aku berusaha menelepon pria itu tapi tak diangkat. Ia meninggalkan alamat di sini dan aku sudah berusaha membunyikan bel tapi tak ada yang buka." Terang Nina lugas. "Pria itu ... siapa?" tanya Gio bingung. "Ya tentu saja, ayahnya Anna!" Nina melipat tangan di dadda. Terlihat sekali sepertinya ia kesal ditanyai. "Oh, suamimu?" "Bukan. Kami bertemu di bar dan tak sengaja tidur bersama." Nina melepas tangannya dan kini menyilang kaki jenjangnya ke samping. 'Apa?' Gio memperhatikan lagi wanita di hadapan. Nina begitu mudahnya bercerita tentang tidur dengan pria yang bukan mahramnya tanpa beban. Benar-benar wanita modern yang hidup dengan bebas tanpa aturan. Apa ia akan menyerahkan Anna pada wanita seperti ini? "Jadi pria itu. Eh, maksudku, ayah Anna, kenapa memakai namaku?" "Itu yang aku tidak tahu. Aku baru mengenalnya ketika aku sadar telah tidur dengannya. Pria itu mengaku akan bertanggung jawab bila nanti aku hamil. Ia memperkenalkan dirinya bernama Gionino Pradana Hayes." "Apa?" Kening Gio seketika berkerut. Siapa yang berani memakai namanya untuk menipu seorang wanita? "Bagaimana ciri-cirinya?" "Itu tidak penting. Sekarang aku ingin membawa pulang anakku." Nina mencondongkan tubuhnya ke depan tapi kini Gio menghalanginya dengan tangan. "Tunggu dulu!" Nina terkejut. "Tapi dia itu anakku!" "Tapi dia punya perasaan. Dia tidak mengenalmu." "Tapi 'kan aku ibunya?" Nina masih berkeras. "Iya, itu benar. Tapi kau tak pernah menengoknya selama lima tahun. Kau orang asing baginya." Gio memberi pengertian dengan sopan. "Lalu aku harus bagaimana?" Nina menegakkan tubuhnya. Bersambung ....
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN