8. Sebuah Negoisasi

1191 Kata
Gio menoleh pada Anna. Ia menarik tangan Anna untuk berdiri. "Anna, ini ibumu. Ayo, salim." Anna menatap sang ayah sebentar. Walau sedikit ragu ia melakukan apa yang diminta Gio. Ia meraih tangan Nina dan mencium punggung tangannya. Setelah itu, secepat kilat ia kembali ke samping Gio. "Anna, itu Bunda, Sayang." Terang Gio lembut pada Anna. "Bunda?" Nina mengangkat alisnya. "Eh, kamu mau dipanggil apa?" tanya Gio, serba salah. Ia tak tahu apa yang diinginkan Nina. "Eh, tidak apa-apa. Panggil bunda saja." Gio kembali menatap Anna yang bersandar di tubuhnya. "Kamu 'kan selalu bertanya, ke mana ibumu. Ini dia sudah kembali dan mencarimu. Apa kamu tidak senang?" Anna hanya menatap wajah Nina sebentar, lalu kemudian memeluk tubuh Gio. Ia sendiri bingung dengan keinginannya. "Apa kamu tidak ingin memeluknya?" Anna masih diam. Ia makin ragu dengan menyandarkan kepalanya pada tubuh Gio. Wajah kecilnya terlihat bingung. "Apa kamu mau berkenalan dengan Bunda?" Gio menurunkan kepalanya menatap wajah si kecil. Sementara itu, diam-diam Nina memperhatikan Gio. Ia belum pernah bertemu dengan pria yang begitu sopan dan lembut dalam bicara. Biasanya ia bertemu pria yang tegas atau brengssek. Selebihnya bila ada yang mirip seperti Gio, pastilah seorang bule atau penjillat. Gio bukan bule tapi apakah ia tahu Nina berasal dari keluarga yang kaya raya? Nina mengidolakan bule, karena merasa mereka lebih sopan pada wanita, hingga berharap bisa menikah dengan salah satunya. Namun ternyata dunia tak seindah bayangan. Justru ia ditipu bule dan mendapati ada orang Indonesia yang berbaik hati membesarkan anaknya. Sungguh, ia malu dengan anggapan selama ini bahwa orang Indonesia banyak yang penjillat seperti mereka yang bekerja pada sang ayah. Apalagi Gio, walaupun kulitnya sedikit kecoklatan tapi ia tetap menarik. Justru daya tariknya di kulitnya yang tidak putih hingga terlihat jantan. Seketika pipi Nina memerah saat memperhatikan wajah pria itu yang terlihat acuh. Garis tegas pada rahang Gio makin membuat pria itu terlihat tampan. Ditambah sudut luar matanya yang sedikit sipit membuat wajahnya mirip orang Thailand. "Sama Ayah ...," rajuk Anna malu-malu. Gio memutar wajahnya pada Nina membuat wanita itu terkejut tiba-tiba karena sempat melamun. "Apa kamu mau duduk dekat sini?" "Apa?" Mata Nina membola. "Maksudku di samping Anna." Gio menepuk-nepuk sofa di samping Anna. "Oh." Nina segera pindah duduknya hingga mengapit Anna di antara Gio dan dirinya. Namun Anna hanya menoleh ke arah Nina tapi tetap bersandar pada Gio. Terlihat sekali Anna merasa canggung dengan kehadiran Nina. Bocah itu segera memeluk lengan kokoh Gio sambil tetap memandangi sang ibu. "Mmh, aku rasa ini sulit. Sebaiknya dia ikut saja tinggal bersamaku agar terbiasa. Bagaimana?" Nina mengangkat kepalanya menatap Gio. "Ayah ... gak mau!" Seketika Anna ketakutan. Ia segera berdiri dan berpindah duduk di pangkuan sang ayah. Ia kembali berpelukan pada lengan Gio erat-erat. Gio pun sebenarnya pusing mendengar permintaan Nina barusan. Ia akan melepas Anna secepat ini? Tidak adakah waktu sedikit lagi agar ia bisa bersama Anna dan menggenggam tangannya? Kenapa hari-hari belakangan ini begitu sulit? Bosnya yang berusaha mengintimidasi dan kini Nina yang akan mengambil Anna darinya. Apalagi ayahnya sedang sakit. Kenapa masalah datang silih berganti? Lalu, ia harus bagaimana? "Apa kamu akan membawa Anna ke rumahmu?" "Aku baru kemarin pulang dan sekarang tinggal di hotel. Orang tuaku tinggal di Jakarta tapi aku tidak ingin tinggal bersama dengan mereka. Aku akan menyewa apartemen." "Ah, sementara kamu belum menemukan apartemen, biarkan Anna di sini bersamaku," sahut Gio mulai tersenyum. "Tapi aku ke Jakarta berniat mengambil Anna dan menikah dengan pria yang mengaku bernama Gio itu. Tapi ternyata dia penipu. Hah, kesal aku jadinya," ucap Nina setengah bergumam. Mengingat dirinya telah tertipu membuatnya geram. "Jadi, kamu akan menikah dengan eh ... ayah Anna?" "Aku tidak tahu," jawab Nina merengut. Kemudian ia beralih pada Anna. "Ya sudah. Kamu ikut Bunda ya, Anna?" Wanita itu mengulurkan tangan. Anna semakin ketakutan. "Gak mau! Ayaah ...." Ia mulai menangis lagi. "Kayaknya mesti dipaksa." Nina mencoba menarik tubuh gadis kecil itu yang memeluk lengan Gio tapi Anna tak mau melepaskan. Hingga karena kesal, Nina mencubit Anna. Anna tentu saja berteriak dan tangisannya semakin keras. Reflek Gio menepis tangan Nina dengan kasar. "Hei, dia anakku!" teriak Nina kesal. "Tapi jangan sekasar itu, dong!" Gio tak mau kalah. Nina melotot membuat Gio sadar akan posisinya. Gio menundukkan kepala. "Maaf." "Aku tidak punya banyak waktu! Aku ingin membawanya pergi! Kalau kau tak bisa membuatnya mengerti, aku akan membawanya dengan paksa!" ancam Nina dengan keras. Di sudut lain, sang pembantu ingin menyajikan teh hangat untuk tamu tapi melihat kericuhan di sofa ruang tamu, ia ragu untuk membawanya ke sana. Ia takut kehadirannya malah menambah masalah untuk majikannya di sana. Akhirnya ia hanya bisa menunggu. Gio akhirnya berlutut di depan Anna. "Anna, ini ibumu. Dia menginginkanmu. Harusnya kamu senang ya," ucapnya tersenyum pahit. Air matanya akhirnya ikut meleleh melihat sang anak menggeleng-gelengkan kepala tidak ingin pergi. "Ayaah ...," tangis Anna. Kepang dua di samping kepala gadis itu bergerak memutar mengikuti kuatnya gelengan kepala si kecil. Pipinya kembali basah dan air matanya terus berjatuhan. "Ayah bukan ayahmu, Anna. Ayah tidak berhak menahanmu di sini. Pergilah bersama ibumu dan cari ayahmu, ya?" "Ayaah ... gak mau, Ayaah ... hu hu hu." Anna tetap menggeleng. "Ibumu orang baik. Pasti dia akan menjagamu." "Gak mau Ayaah ...." Nina menarik tangan Anna, perlahan pegangan Anna pada Gio terlepas, tapi itu tidak menyurutkan Anna untuk tetap berusaha. Ia berteriak keras dan meronta ketika Nina menggendongnya. Wanita itu bahkan kesulitan menggendong. Ia mencubit Anna, menyebabkan gadis kecil itu makin berteriak menangis menyayat hati. Gio tak sanggup melihatnya. "Jangan dicubit!" Seketika ia merampas Anna dari tangan Nina. Wanita itu melongo. Gio memeluk Anna dan melindungi dengan memunggungi Nina. Wanita itu kesal dibuatnya. "Hei, itu anakku ya?" "Tapi bukan berarti kamu boleh menyakitinya!" Kini Gio menatap ke arah wanita yang bertubuh tinggi semampai itu dengan pandangan kesal. "Kau ...!" Nina mengacungkan telunjuknya geram. "Aku tidak pernah membesarkannya dengan kekerasan!" Gio tak kalah keras. "Ayaah ...." Terdengar suara Anna yang mulai lega. Lega karena kembali ke pelukan sang ayah. Tangisnya pelan-pelan reda. Ia menyandarkan kepalanya pada dadda bidang Gio yang hangat. Nina menghempaskan tangannya ke bawah. Ia masih kesal. Sambil berjalan mondar-mandir ia berpikir keras memecahkan masalah ini. "Jadi bagaimana ini? Kau membuat seolah-olah aku ini penjahat, padahal aku ini 'kan ibunya!" Omelnya sambil melirik pria di sampingnya. "Apakah kamu bisa dengan mudah tinggal dengan orang asing, walaupun itu kerabatmu sendiri? Kalau kamu sendiri tidak bisa, apalagi anak-anak!" Gio mencoba menerangkan dengan nada suara yang masih tinggi. Ia sendiri menghapus air mata yang sempat jatuh. "Tapi aku tidak sesabar kamu untuk mengurus hal-hal kecil seperti ini. Di Jakarta aku sudah punya jadwal sendiri yang harus kupenuhi." Nina menoleh pada Gio. "Jadi ... aku harus bagaimana?" "Setidaknya ada masa transisi di mana aku ada bersamanya dan mengenal kamu." "Kamu mau jadi babysitter-nya, begitu?" Nina coba menebak. "Eh, aku juga punya pekerjaan yang tidak bisa ditinggalkan," elak Gio. "Lalu, bagaimana?" tanya wanita itu kesal. "Apa aku tinggal di sini saja?" "Tidak bisa. Kita bukan muhrim!" tolak Gio. "'Kan beda kamar? Memangnya ada berapa orang yang tinggal di sini?" "Hanya kami berdua." "Nah ...." "Justru tidak boleh," potong Gio lagi. "Dasar kolot!" Gio menatap Nina sebal. "Ck!" Ia berpikir sebentar. "Bagaimana kalau kita menikah saja?" "Apa?" Bersambung ....
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN