9. Pernikahan

1182 Kata
"Eh, maksudku ...." Nina tertawa. "Kau sudah gilla ya. Kita baru kali ini bertemu, kau sudah mengajakku menikah? Apa kau tertarik padaku?" Gio malah melihat wanita itu dengan pandangan dingin. "Yang gilla itu kamu! Masa bisa meninggalkan anak pada orang tak di kenal, tanpa memastikan orangnya mau mengurusnya atau tidak? Walaupun itu ayahnya sekalipun, kalau dia jahat, bisa saja 'kan dikirim ke panti asuhan atau dijual?" Ia sudah tidak bisa lagi menutupi perasaan kesalnya pada Nina, karena telah menelantarkan Anna hingga lima tahun lamanya. Bahkan tanpa kabar. Ia tak pernah mencari tahu tentang keberadaan Nina karena ia juga merasakan bagaimana ditelantarkan orang tua hingga kini ia dewasa. Karena itu ia tak pernah ingin mencari tahu siapa orang tuanya. "Kau ...!" Nina geram tapi tak bisa marah. Jari telunjuknya yang mengarah pada Gio pelan-pelan digenggamnya erat dengan tangan gemetar menahan emosi. Semua yang dikatakan Gio benar walaupun sebenarnya ia benci dengan orang yang berusaha mengatur hidupnya. Ia memutar wajah ke arah lain. "Aku punya cita-cita. Aku tak ingin ada apa pun yang bisa menghalanginya!" "Lalu kenapa sekarang kau mencarinya kalau merasa kehadirannya menghalangi cita-citamu? Kau 'kan bisa melanjutkan hidupmu, meski tanpa anak," tanya Gio ketus. Tiba-tiba Nina berbalik arah dan mendekatkan wajah ke arah pria itu dengan raut dongkol. "Bagiku Anna bukan penghalang, hanya dia hadir terlalu cepat. Karena itu sekarang aku mencarinya. Aku siap menjadi ibu baginya. Apa aku tidak boleh memperjuangkan cita-citaku?" Gio menghela napas. Ia tak bermaksud ingin mencampuri keputusan Nina yang ingin mengambil Anna kembali. Ia tak berhak. Namun di sisi lain, Nina bukan wanita yang diharapkan Gio untuk jadi ibu Anna. Cara Nina berhubungan dengan lawan jenis inilah yang menakutkan Gio akan ditiru Anna. Gio ingin Anna punya ibu yang bisa mengajarkan agama dengan benar. Namun masalahnya, Gio adalah orang luar dan Nina adalah ibu kandung Anna. Justru Ninalah yang berhak mengatur hidup Anna dibanding dirinya. Gio menundukkan kepala. "Aku mengajakmu menikah agar kamu bisa dekat dengan Anna." "Kita 'kan tidak saling cinta. Untuk apa kita menikah?! Aku 'kan bisa tinggal di sini sementara!" Kini Nina melipat tangannya di dadda, menyorot pria itu. Ia ingin tahu siasat apa sebenarnya yang ada di otak Gio hingga ingin menikahinya. "Tidak bisa!" Seketika Gio menolaknya. "Bagaimana pandangan orang-orang di sekitar sini tentang hal ini? Ini akan jadi gosip miring yang akan kembali mencemarkan namaku. Sejak kau menitipkan Anna saja, itu sudah menjadi gosip yang merusak nama baikku, apalagi kalau sampai kau menginap di sini." Gio mulai emosi. "Ditambah ... kalau orang tuaku tahu, habislah aku!" "Aku bisa menyewa," Nina memberi alternatif. "Apa?" Gio mengerut dahi. "Nanti akan ada wanita lain lagi yang akan datang untuk menyewa, dan itu akan menjadi lingkaran setan yang memusingkanku. Aku tak mau! Wanita sangat merepotkan!" "Apa?" Nina tersulut kesal. "Karena itu, kita menikah saja! Aku tak tertarik padamu, percayalah! Jadi kita bisa hidup dengan urusan kita masing-masing. Ini demi Anna saja aku melakukan ini padamu. Setelah Anna bisa beradaptasi, atau kamu bertemu dengan ayah Anna atau pria lainnya di luar sana dan ingin menikah, aku akan melepaskanmu." Kini Nina yang mengerut dahi. Baru kali ini ada pria menyodorkan pernikahan karena tidak tertarik dengannya, dan Gio mengucapkannya dengan enteng. Sebenarnya ialah yang ingin menunda pernikahan ketika pria itu pernah menawarkannya saat ia hamil. Andai waktu itu ia mengiyakan maksud pria itu, mungkin sang pria akan menyebutkan identitas aslinya padanya. "Bagaimana kalau setelah satu tahun, Anna tetap tak mau berpisah denganmu?" Gio bingung menjawab pertanyaan ini. Ia sendiri juga tak rela melepas Anna walaupun lewat satu tahun, tapi ia harus ikhlas. Anna bukan anaknya. Ada yang lebih berhak memiliki gadis kecil itu dan ia harus belajar melepaskan. "Lagi pula, bagaimana kalau aku tak menginginkan pernikahan ini." Nina melihat wajah Gio yang kembali bingung. Dipikir-pikir, ia sendiri juga tak tahu bagaimana caranya membesarkan seorang anak. Hanya pria ini yang tahu dan sabar mengurusi Anna, tidak ada orang lain. Ia tentu bisa belajar pelan-pelan dari Gio bagaimana mengurus Anna. Setelah bercerai, mungkin ia bisa memberi sejumlah uang pada Gio karena sudah bersusah payah mengurus Anna. Pikiran ini begitu saja muncul dipikiran Nina setelah mendengar perkawinan macam apa yang disodori Gio padanya. Sebenarnya untuk menikah, Nina belum siap. Hanya karena ingin mengurus Anna, ia ingin menikah dengan ayah Anna. Namun karena kebenaran memporak-porandakan semua rencana, kini ia harus mencari solusi untuk persoalan yang timbul sekarang. "Baiklah, aku akan menikah denganmu, tapi dengan satu syarat." "Apa itu?" Gio yang baru mengintip Anna telah tertidur di dalam gendong, serasa mendapat angin segar. Manik mata Nina mulai menyorot ke arah pria tampan di depannya. "Kau harus menuruti kata-kataku." Dahi Gio berkerut. "Maksudnya?" "Aku tidak mau diatur! Kamu mendengarkan kata-kataku atau tidak ada pernikahan!" Tegas wanita itu. Gio terlihat bingung. "Aku 'kan sudah bilang. Kita urus ...." "Mau atau tidak!" Wajah Nina kini cemberut. "Eh, iya ...." **** Kedua orang tua saling berhadapan. Gio sangat mengkhawatirkan keadaan sang ayah yang tak begitu baik. Pria paruh baya itu datang dengan memakai sweater abu-abu di dampingi istrinya. Rambut mulai memutih tapi ketampanan dari wajah indonya tak begitu saja luntur. Ayah Nina berbisik pada istrinya di telinga. "Bukankah dia mantan artis film biru?" "Oh, bukan," bisik istrinya lagi. "Ada sebagian filmnya begitu, tapi dia bintang film terkenal di jamannya karena filmnya bagus-bagus. Aku salah satu penggemarnya." Terangnya dengan begitu bersemangat. Ia tak menyangka artis favoritnya kini akan berbesan dengannya. "Dan sekarang dia jadi pengusaha." "Ya, setelah menikah dengan istrinya yang berkerudung itu." Ibu Kae berdehem membuat kedua orang tua Nina kembali fokus ke depan. "Apa ada masalah?" ucapnya dengan wajah tenang. "Oh ... tidak." Soraya, ibu Nina langsung menyahut. "Aku hanya kaget saja, kita akan besan, karena dulu suamimu adalah artis favorit Saya," ujarnya dengan senyum lebar. Ia menyatu tangan di depan dadda. "Oh, begitu." Kae melirik suaminya. Pria itu hanya tersenyum tipis. "Mengenai Gio adalah anak angkat, bagi kami tak masalah." Soraya melirik suaminya yang mengangguk tanda setuju. "Jadi kamu nikah duluan, Gio?" Dari meja makan, Lily yang mengamati para orang tua bicara, mulai menyindir Gio. Anna sendiri kini sedang di pangku Abi, adik Gio paling kecil. Anna dekat dengan Lily dan Abi juga dengan mama Kae dan papa Erick. "Kamu harusnya bayar pelangkah, tau!" Lily menyipitkan mata. "Aku gak masalah kalo Kakak mau nikah duluan, tapi masalahnya aku akan nikah hari ini, Kak. Bukan bermaksud duluin, tapi Kakak sendiri, pacaran juga gak jelas gitu." Namun, tiba-tiba ... "Aduh!" Gio mengernyit dahi karena kakinya ditendang Lily di bawah meja. Abi hanya melirik Lily dan menghela napas. Ia bisa melihat Lily begitu marah pada Gio. Seperti juga halnya Nina yang melihat pertengkaran keduanya. Ia pusing melihatnya. "Sudah, sekarang kita pergi saja, Gio." Nina menoleh pada pria di sampingnya. "Ke mana?" "Beli cincinlah!" "Oh, aku akan beli mukena dan Alquran." Lily melirik Abi. "Ayo Abi, kita bantuin." Saat keduanya turun dari kursi, kembali Lily bicara pada Gio. "Oya, aku ingin pelangkahnya kalung emas ya. Yang ada berliannya." "Iya." Nina mewakili. Lily tersenyum senang. Ia menarik Abi bersamanya. Anna kembali pada Gio yang turun dari kursinya. "Kenapa kamu menyanggupinya? Memangnya kamu mau membelikan kalung buat Kakakku?" Gio melirik Nina. "Tidak." Nina menatap balik Gio. " Tapi kamu!" "Ck!" Bersambung ....
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN