"Aku saja yang menyetir." Nina mengulurkan tangan.
Gio mengeluarkan kunci dari saku celana, dan menjatuhkannya ke tangan Nina. Setelah keduanya duduk di depan dan Gio memangku Anna, Nina menjalankan mobil keluar dari halaman rumah yang luas itu. Sepanjang jalan, ia mendengarkan Gio dan Anna yang saling bicara.
Anna sempat merengut saat melirik ibunya. Biar bagaimanapun, peristiwa Nina mencubit dan berusaha merebut dirinya dari sang ayah, membekas diingatan. Gio tak pernah mencubit, dan yang pernah mencubit justru teman sekelasnya dulu, hingga ini menjadi ingatan buruk baginya.
Anna kemudian menengadah menatap wajah sang ayah. "Ayah, kita ke mana?"
"Beli cincin dulu ya, buat Bunda," sahut Gio menatap ke depan.
"Cincin? Anna enggak?"
Gio menunduk dengan senyum kecil menatap ke arah wajah Anna yang tampak penasaran. "Ini cincin untuk orang dewasa, Sayang."
"Anna mau juga, Yah. Cincin," pinta Anna dengan manja. Ia melingkarkan tangannya ke leher Gio.
"Eh, nanti saja, kalau sudah besar ya." Gio mencolek hidung Anna sambil masih tersenyum.
"Ayaah ... mau, Yah!" Kembali Anna memohon.
"Eh, kok gitu."
"Belikan saja!" Tiba-tiba Nina bicara.
Gio menoleh. "Memangnya ada yang ukuran kecil untuk jarinya?"
"Ada. Belikan saja."
Sempat terdiam, akhirnya Gio setuju. "Mmh."
Di toko perhiasan emas di sebuah Mal, Nina sibuk mencari sendiri sementara Gio malah membantu Anna mencarikan cincin. Pilihan tidak banyak untuk Anna hingga sebentar saja bocah itu mendapatkan apa yang diinginkan, sementara Nina masih mencari.
"Kau sudah mendapatkannya?" Tiba-tiba Gio muncul di samping Nina.
"Belum." Nina masih memperhatikan kaca etalase.
"Ya, sudah. Aku akan mencari untuk Kak Lily dulu."
Tangan Nina menahan lengan pria itu.
"Apa?" Gio melirik lengannya dan menoleh.
"'Kan bukan aku saja yang nanti akan memakainya. Gimana sih!" Nina merengut.
"Pilih saja, aku tidak tahu seleramu," jawab Gio acuh.
"Ini pernikahan pertamaku, apa kamu tidak begitu?" Dahi Nina berkerut, kesal.
Gio menatap wajah model terkenal itu. Kemudian ia baru menyadari begitu banyak pasang mata melirik ke arahnya. Tentu saja, karena ia akan menikah dengan model terkenal! Gio yang sadar, segera meraih tangan Nina yang berada di lengannya, lalu menggenggamnya. "Maaf."
Entah kenapa Nina merasa lega dan terlindungi. Perasaan aneh yang tidak pernah ia rasakan sebelumnya. Bersama dengan Anna, mereka memilih cincin dan kalung bersama.
Terdengar bunyi dering telepon, Gio mengangkat ponselnya. Ketika dicek, ia hanya melihat saja.
Nina sempat melihat nama siapa yang tertera di layar ponsel. "Itu bosmu? Kenapa kau tak angkat?"
"Malas." Gio mengantongi lagi ponsel itu. "Lagipula aku sudah izin, ada acara keluarga. Kalau dia menelepon, berarti menyuruhku bekerja. Aku tidak ingin berdebat dengannya."
Nina kaget dengan sikap santai Gio. "Kau tidak takut dipecat?"
"Di dalam hidup, ada prioritas. Aku tidak mau siapapun mengubah prioritasku. Kalau bicara membuatku berubah, lebih baik aku diam."
Nina merasa, cara berpikir Gio sama dengan dirinya. Hanya, cara mereka menghadapinya saja yang berbeda. Kalau Nina menghadapinya dengan barbar sedang Gio dalam diam.
Setelah belanja selesai, mereka menuju ke hotel tempat Nina menginap. Nina mengumpulkan barang-barangnya untuk dibawa ke rumah Gio.
****
"Sah!" sahut penghulu.
Gio melepas tangan ayah Nina, Hendra, dan melirik ayahnya.
Papa Erick tersenyum bahagia sedang mama Kae menitikkan air mata. Akhirnya keduanya bisa melepas sang anak angkat untuk mengarungi bahtera rumah tangganya sendiri. Kedua orang tua tidak tahu bahwa Gio dan Nina berniat menikah hanya agar Anna bisa terbiasa dengan ibunya, lalu kemudian berpisah.
Gio hampir menangis melihat kedua orang tua angkatnya bahagia. Ia merasa telah membohongi mereka berdua, tapi Gio tak berani bicara terus terang karena takut penyakit sang ayah bertambah parah.
Nina datang dengan gaun berwarna pink yang membuatnya tampak cantik. Rambutnya terangkat ke atas, apalagi dengan model offshoulder yang memperlihatkan bahunya yang mulus. Gio sedikit tak nyaman saat wanita itu duduk di sampingnya. Nina meraih tangan Gio dan menciium punggung tangannya.
"Ayo, Gio. Ciium istrimu!" Abi mengompori.
Gio merasa kesal. Diliriknya Nina yang kini sudah sah menjadi istrinya itu. Wanita ini juga menghadapkan wajahnya ke arah dirinya.
Gio melirik sekeliling di mana semua orang menatap ke arahnya dengan senyum bahagia. Tidak mungkin rasanya ia mengecewakan mereka yang tengah menyoroti dirinya.
Dengan memakai jas hitam dan kemeja putih, Gio yang tampak maskulin mengeluarkan sebuah kotak kecil berwarna hitam dari saku jas dan membukanya. Ia mengambil salah satu cincin dan menyematkan di jari manis Nina. Begitu juga Nina. Ia meraih tangan Gio dan menyematkan cincin yang satunya ke jemari kokoh pria itu, lalu menggenggamnya.
Gio mencondongkan tubuh ke depan hingga bibirnya menyentuh lembut dahi Nina. Wanita itu memejamkan mata. Terdengar tepuk tangan Abi karena puas melihatnya.
"Ayo, sekarang kita cicipi hidangan yang sudah tersedia," sahut Lily mengajak tamu yang hadir sambil beranjak berdiri.
Akad nikah yang sederhana dalam rumah Gio selesai sudah. Hari menjelang sore. Kini acara yang hanya dihadiri keluarga inti mulai pindah ke ruang makan.
Sebuah tangan menyentuh bahu Gio dari belakang. Saat sang pria memutar kepalanya, ia melihat kakak Nina, Danu, tersenyum miring ke arahnya. "Ingat, jangan buat adikku menangis, atau kamu berurusan denganku," ancamnya. Pandangannya menusuk. Genggaman tangannya terasa kuat memegang bahu Gio.
"Eh ... iya, Kak," jawab Gio gugup.
"Panggil aku abang." Suara Danu terdengar tegas.
"Iya, Bang."
Suasana tegang seketika hilang ketika Anna datang dan duduk di pangkuan Gio. Danu kemudian melepas Gio. "Ayah ... Anna juga mau diciium juga kepalanya, Yah." Bocah kecil itu menyentuh keningnya. Sepertinya, ia menuntut diperlakukan sama seperti Gio memperlakukan Nina.
Gio tersenyum kecil. Ia mengeccup dahi si kecil dengan gemas. "Udah?" tanyanya hampir tertawa.
Si kecil Anna mengangguk. Ia memperhatikan cincin yang tersemat di jari Nina. Cincin emas polos seperti di jarinya. Ia begitu mengagumi cincin miliknya sendiri. "Ayah ... bagus gak, Yah?" Anna mengangkat tangannya memamerkan cincin di jemari kecilnya itu pada sang ayah.
"Bagus." Gio memperhatikan jemari Anna itu sebentar. Ada cincin mungil bertengger di sana.
Ia kemudian beralih pada Nina. Istrinya itu sedang sibuk mengobrol dengan Lily. Lily penasaran dengan profesi yang disandang Nina padahal Gio mulai lapar. Ia beranjak berdiri.
"Hei, kakak mau ke mana?" Abi datang dengan piringnya.
"Mau ambil makanan," sahut Gio yang menggandeng Anna.
"Istrimu gak ngambilin?"
Gio melirik Nina sekali lagi. Kali ini Nina dan Lily menatapnya.
"Kamu mau ngambil makan Gio?" Lily melirik Nina.
Kembali Nina menatap ke arah Gio, tapi dengan cepat pria itu menjawab, "Eh, tidak usah. Aku bisa ambil sendiri." Gio tak ingin hal ini jadi masalah besar.
Diluar dugaan Nina berdiri. "Aku juga lapar."
Gio akhirnya mengikuti Nina bersama Anna. Ia berdiri di samping Erick yang sedang mengobrol dengan Hendra.
Nina mengambil piring. "Kau mau apa?" Ia menoleh pada Gio.
"Eh?" Gio tak menyangka Nina akan mengambilkannya makan. "Aku ...."
"Kamu duduk saja, aku ambilkan."
Gio menarik kursi dan dengan canggung memberitahu apa yang ingin dimakannya pada Nina. Wanita itu melayaninya dengan sopan. Ayah dan ibu Nina melihatnya dengan takjub. Ia tak pernah menyangka Nina tiba-tiba bisa menjadi wanita yang santun.
Di dalam keluarga, Nina adalah seorang pemberontak. Ia tak suka diatur dan pejuang kebebasan. Mengetahui dirinya hamil bukan berarti orang tua tak murka, tapi tetap mereka tak bisa membuat Nina tunduk. Sikap Nina yang tiba-tiba santun pada Gio membuat mereka salut pada suami anaknya ini, tanpa tahu apa yang sebenarnya terjadi pada keduanya.
Bersambung ....