Nina menatap malas pada kopi yang baru dibuatnya. Namun ia harus segera menghabiskan, karena hari ini ia ada janji dengan seorang desainer terkenal Amerika yang akan menyewanya sebagai brand ambassador. Rambutnya yang lurus mulai panjang sehingga ia mengikatnya asal di atas kepala. Anak-anak rambutnya yang tak terikat, berjuntai bebas ke bawah membingkai wajah. Baru saja ia akan meraih cangkir kopi, terdengar dering dari ponsel di sampingnya. Nama yang tertera membuat ia terkejut. 'Suamiku'. Nina bimbang. Haruskah ia angkat telepon dari sang suami, padahal ia tak tahu harus menjawab apa. Ia tak punya argumen dan yang pasti ia akan emosi dan berakhir dengan menangis. Dering tak lama berhenti dan berganti dengan pesan masuk. Itu satu-satunya yang berani ia angkat. Namun matanya melebar

