Seberapa kuatnya diriku, aku tetap menjadi seorang wanita. Seberapa pun aku bisa mandiri, tetap saja aku butuh orang lain.
Aku sering bersembunyi dalam kata baik-baik saja yang sebenarnya aku rapuh untuk bertahan.
Aku tetap tersenyum tanpa pernah bersedih, namun aku tetap wanita yang sering menanggis saat malam.
Setiap saat ada yang datang dengan kesedihan, sebisaku aku menawarkan kebahagiaan, memberikan pelukan terhangat. Hingga aku lupa bahwa aku juga butuh pelukan. Setidaknya kata penenang.
Keluarga, sebagian orang menyebutnya sebagai rumah. Tempat ternyaman untuk berkeluh kesah. Tempat paling indah untuk sekedar berbagi hari. Tempat penyembuh dari segala luka. Pelukan terhangat setiap saat.
Bagi perempuan sepertiku, ayah adalah cinta pertamanya. Bahkan ada yang berpikiran bahwa akan mencari suami seperti ayahnya. Selalu memberikan pelukan, kasih sayang tanpa lelah. Menjadi pendengar terbaik saat kita dalam kebingungan Itulah potret ayah terbaik untuk perempuan.
Namun bagaimana rasanya jika rumah tak lagi tempat ternyaman, lalu kemana aku akan pulang? Kemana lagi aku mencari pelukan terhangat? Kemana lagi aku harus bercerita tentang dunia?
Lalu bagaimana jika cinta pertama mu memberikan luka? Membuat trauma untuk takut jatuh cinta? Atau takut untuk membangun rumah tangga?
Tak ada jawaban.
Semua ketakutan itu muncul tanpa permisi dalam otakku. Bayangan menakutkan ada dalam diriku. Ketakutan-ketakutan menjelma terus menerus sampai pada titik dimana aku tidak tahu lagi bentuk jatuh cinta itu seperti apa.
Yang kurasa saat dekat dengan lelaki hanya rasa nyaman, selebihnya adalah rasa takut untuk membuka trauma yang ku miliki.
Rusak, banyak kerusakan pada hatiku. Keluarga yang ku inginkan adalah yang harmonis, yang saling mencintai bukan saling tak peduli. Saling menyayangi bukan saling menuntut.
Sedari kecil aku selalu dituntut untuk mandiri, dituntut menjadi wanita kuat, hingga aku lupa bahwa aku ini seorang wanita. Dituntut tidak mengeluh, padahal aku ingin sekali bilang "pa, aku diganggu sama anak laki-laki", aku juga butuh perlindungan namun justru aku dituntut untuk melindungi diriku sendiri.
Aku tetap ingin menanggis saat mainanku diambil, pada kenyataannya kalimat yang selalu ku dengar "kamu jangan cengeng. Jadi perempuan harus kuat, gitu aja menanggis. Dasar cengeng".
Setelah beranjak remaja aku selalu ingin diperhatikan, ditanya gimana sekolahku, gimana teman-temanku. Namun sayang, sebesar apapun aku berusaha, sebandel apapun aku sampai masuk bk, serajin apapun aku hingga aku menjadi lulusan terbaik di smaku. Mata bapakku tak pernah melirik sedikitpun untukku. Lantas kenapa aku hidup, jika semua yang ku berikan tak ada artinya. Ah bukan bapakku saja, semua saudara dari bapakku, kakek, nenek dari keluarga bapakku saja membenciku.
Apa sebenarnya salahku? Pertanyaan itu selalu muncul.
Apa aku hanya seorang yang membuat sial? Kenapa tidak membunuhku saja sebelum aku lahir? Jika didunia aku dibenci.
Rumah, nyatanya tidak memberiku nyaman. Banyak kesakitan yang kurasakan, melihat ibukku semakin tertekan aku binggung harus bagaimana. Hanya menanggis setiap malam. Entah kesabaran apa lagi yang harus aku lakukan. Aku muak dengan semuanya. Akupu pernah memutuskan untuk mengakhiri hidupku, namun aku memikirkan nasib ibukku jika aku pergi.
Setelah usiaku beranjak dewasa, saat teman-temanku sudah memulai menikah, hidup dengan keluarnganya. Justru aku takut untuk menikah. Tidak ada kepercayaanku pada setiap laki-laki. Bapakku saja yang darah nya mengalir dalam darahku tak pernah menghargai aku, tak ada kasih sayang untukku. Bagaimana mungkin orang lain mau menyayangiku, menerimaku dengan segala kekurangan?.
Pada suatu malam, aku berbincang pada ibuku. Menceritakan semua yang ku pikirkan selama ini. Satu kalimat terlintas "melihat sikap bapak kepadaku selama ini, membuatku takut untuk menikah bu, aku takut mempunyai suami seperti bapakku, aku takut anak-anakku merasakan apa yang aku rasakan. Bahkan sekarang aku lupa kapan aku bisa merakasan indahnya jatuh cinta. Selama aku dekat dengan temanku laki-laki aku cuma merasa nyaman. Aku takut untuk sakit lebih parah lagi, cukup selama 20 tahun ini aku merasakan kesakitan. Aku lelah untuk sakit lebih lama lagi bu, aku capek". Kataku dengan air mata yang bersamaan dengan suara isak.
Ibuku datang, memelukku mengusap pelan punggungku sambil berbisik "sabar nak, semua ada jalannya. Kamu akan menemukan yang terbaik"
Tangisku tak reda, justru semakin parah. Aku berharap agar cepat menyelesaikan urusanku didunia.