Kita adalah sepasang manusia yang pernah melengkapi. Sejalan dengan bahagia dan arah yang sama.
Genggaman tangan kita semakin hangat dalam dekap malam penuh kebekuan.
Bibir kamipun tak mampu berhenti saat mata kami saling bertatap dan tersirat makna penuh cinta.
Berdampingan, memeluk dan menyanyangi berboncengan diatas motormu dengan penuh kebahagiaan.
Lalu pada hari, tanggal yang sama dengan tahun beda tak akan mengurangi sedikitmu kasihmu untukku.
Parfummu selalu menjadi bau favorit setiap aku mendekap erat tubuh kokohmu. Wangi strong akan melekat meski kamu telah pergi dari rumahku.
Kita adalah sepasang kekasih yang selalu membuat sepasang sepatu iri melihat kita. Bergandengan tangan, dan saling manyalurkan perasaan kasih.
Itu kisah satu tahun silam, dimana aku masih menjadi kekasihmu. Berbeda sekarang, aku bukan lagi menjadi kekasihmu yang selalu mengingat kenangan kita.
Ku kira setelah kita berada dipersimpangan, kita masih tetap bersama. Namun ternyata pilihan kita berbeda. Persimpangan itu telah membuat kita menyadari satu hal bahwa kita tak lagi mempunyai tujuan yang sama.
Ku kira saat aku memilih untuk melangkah sejenak untuk memilih mimpi, kamu akan tetap menungguku kembali dengan mimpi yang pernah kita bicarakan waktu itu.
Tetapi sayang, ketika aku melangkah kamupun juga ikut melangkah menjauhi langkahku. Kamu berbelok untuk menggapai mimpimu juga yang tentu berbeda denganku.
Pada hari-hari kembalinya diriku dipersimpangan tempat terakhir kita berpisah, aku membayangkan kamu duduk menantiku di halte berwana biru dengan senyum hangat yang selalu aku rindukan. Memelukku dengan hangat seperti dulu, dan kita berakhir pada warung nasi goreng kesuakaanmu lalu membicarakan mimpi-mimpi kita yang telah kita capai.
Namun ternyata, semua itu tak kudapati. Aku tak melihat dirimu, yang ada hanya halte kosong dan rintik hujan. Lantas dimanakah dirimu? Taukah kamu bahwa aku menunggumu pada halte yang sama dengan tahun yang berbeda. Setiap hari aku berkunjung ketempat yang pernah kita kunjungi, hanya untuk mencari dirimu.
Menunggumu di pasar malam tepat di loket masuk bianglala hanya untuk memastikan hadirnya dirimu.
Lagi-lagi kekecewaan merasuk pada alam sadarku, bahwa kamu tak ada ditempat ini.
Pada akhir tahun, setelah setahun aku tak menemukan keberadaanmu aku memutuskan untuk berhenti mencarimu. Mengubur perasaan rindu untukmu .
Ternyata kita hanya sebatas cerita yang hidup dimasa lalu yang menjelma jadi kenangan untukku. Dan dirimu tentu masih jadi lelaki yang selalu aku rindukan.