Aku terbangun, kupikir ini mimpi. Nyatanya ini lebih buruk dari sekedar mimpi buruk.
Tak ada lagi ucapan selamat pagi darimu.
Tak ada lagi semangat darimu.
Pagiku hampa tanpa kamu. Tanpa ocehan yang membuat hatiku hangat.
Siangkupun tak jauh beda dari pagiku. Setiap saat aku selalu melihat notif pada ponselku, menunggu ucapan selamat makan darimu. Ah nyatanya tak ku dapatkan hingga fajarpun sembunyi.
Malampun sama, tak ada ucapan selamat tidur darimu. Tak ada dering ponsel darimu hanya sekedar mengingatkanku agar tidak tidur larut malam. Kenapa kehilangan hari tanpamu sangat menyiksaku?.
Aku tak tahu, kenapa kisah aku dan kamu harus berakhir seperti ini. Kehilanganmu adalah kehancuran bagiku. Aku belum terbiasa dengan segala hal yang kamu lakukan untukku.
Sapaan sayangmu masih melekat pada ingatanku. Sentuhan hangat pada puncak kepalaku masih begitu terasa. Genggaman hangat tangamu masih bisa kurasa. Bahkan senyumanmu masih melekat dan masih jadi candu untukku. Tatapan tajam dari matamu nyatanya masih ingin ku lihat setiap waktu.
Jujur aku masih sayang, jauh direlung hatiku tak mampu untuk sekedar memisahkan perasaanku padamu. Inginku memelukmu, mengucapkan perasaan rindu, dan mengatakan bahwa hatiku masih milikmu. Namun sayang, kau telah berlari begitu jauh dan tanganmu sudah ada yang menggenggamnya.
Kau tak ada disini, kau meninggalkanku tanpa ku tahu kesalahanku. Mengingatmu membuatku ingin kembali pada kisah yang sudah usai.
Hari berlalu tanpa dirimu. Minggu telah berganti tanpa adanya mengujungi pasar malam denganmu. Bulanpun berakhir tanpa akhir pekan dengan makan mie ayam di pinggir jalan denganmu.
Semuanya kulalui sendiri, tanpa senyum hangatmu. Tanpa sikap cuekmu yang membuatku gemas. Dan terakhir tanpa pelukan menenangkan darimu.
Waktupun berlalu, tapi tidak dengan perasaanku untukmu. Aku masih disini, dibawah bintang yang pernah kita tatap bersama disetiap malam. Aku tetap menunggu kamu datang menjemputku disaat hujan turun atau aku akan membuat kecerebohan agar kamu khawatir dan menemuiku.
Namun semua sia-sia, kamu tak datang disaat hujan lebat. Kamupun juga tak khawatir disaat aku hampir tertabrak mobil.
Mengingatmu membuatku hatiku sedikit sakit, ah tidak ternyata banyak sakitnya. Kamu nyatanya mampu membuatku sayang sampai aku lupa kalau kamu akan pergi. Kamu mahir dalam menciptakan rindu tanpa kusadari kamu juga mahir menyakiti. Kamu selalu datang menemuiku namun aku lupa bahwa meninggalkan adalah bakat yang kau pendam selama ini. Kamu adalah obat sekaligus penyebab sakit. Kamu imun sekaligus racun bagiku.
Aku teramat menyayangimu sampai pada akhirnya aku melupakan bahwa kamu alasan terbesarku untuk menangis di penghujung malam. Kamu malaikat untukku, sampai aku lupa kalau kamu bisa menjelma menjadi jin dalam waktu bersamaan.
Setelah kau pergi, apakah kamu masih mau mengingatku? Atau bahkan kau menganggap kita tak pernah ada.
Kalaupun dengan meninggalkanku kamu bahagia, aku harus apa selain mengikhlaskanmu?
Kepergianmu siapa yang patut disalahkan? Aku atau takdir dari semesta. Kenapa semesta selalu memberiku kejutan diakhir ceritaku?.
Dari hatiku ada yang ingin aku sampaikan padamu.
Terima kasih telah mahir mematahkan hatiku. Semoga kamu bahagia dengan pilihanmu. Sedangkan aku akan berusaha untuk bahagia sepertimu tanpa membenci siapapun.
***