sebatas hampir

464 Kata
Kali ini aku terlambat lagi untuk jatuh hati *** Aku pernah terlambat menyayangi dia yang telah hilang. Menyadari bahwa dia adalah candu dalam hidupku setelah dia memilih pergi. Aku mencintainya setelah dia tak lagi mencintaiku. Lalu, aku merasa semesta tak adil bagiku. Aku mengutuk diriku yang tak peka dengan keadaan. Kecewa pada setiap perasaan yang selalu datang dengan keterlambatan. Dan membenci otakku yang selalu tak mengerti dengan perilaku dan kasih sayang darinya, yang seakan semua ku anggap sama. Kepergiannya, kehilangan sikap manisnya seakan menamparku untuk menyadari arti hadirnya dalam hidupku. Ketika dia tak lagi disampingku, saat itulah aku menyadari bahwa dia lelah bersamaku yang tak pernah sadar akan kehadirannya. Saat itulah aku menyadari bahwa kita hanya sebatas hampir dan mampir. Karna aku yang tidak peka dan karna dia yang tidak sabar menunggu. Yah, mana ada lelaki yang mau menunggu gadis tak peka sepertiku. Setelah bersamanya yang hanya sebatas hampir dan mampir, kali ini aku dibuat nyaman olehmu. Entah magic apa yang kau berikan untukku yang jelas aku merasa nyaman berbagi cerita denganmu walau hanya sebatas bertukar pesan. Kali ini aku berterima kasih pada semesta yang telah mempertemukan kita walau hanya sekilas. Mengenalmu tidak pernah terlintas dalam benakku, namun aku bersyukur dan selebihnya bahagia. Entahlah, kurasa berbagi pesan denganmu membuatku sedikit tenang. Walaupun terkadang aku hanya mendapat balasan singkat dan emotikon darimu. Setidaknya itu mampu membuatku sedikit ceria. Aku merasa telah menemukan seseorang yang mampu memdengarkanku, memahami dan memberiku saran ketika aku bercerita. Ada getaran hangat saat menunggu balasan pesan darimu, ada perasaan khawatir ketika dirimu tak online walau hanya beberapa jam. Entahlah semua terasa lucu, aku yang tak mengenalmu tiba-tiba merasa nyaman hanya dengan bertukar pesan denganmu. Apakah semua sesederhana itu? Hanya saling bertukar pesan tanpa menatap mampu membuatku jatuh cinta? Aku yang dingin, namun denganmu aku tak mampu bersifat dingin. Kurasa, kamu telah mahir membuatku jatuh hati hanya dengan pesan basa-basimu yang selalu membuatku tersenyum. Hingga aku melupakan bahwa semua itu hanya bersifat sementara. Pada akhirnya aku menyadari bahwa pesanmu tak seperti dulu. Aku selalu bertanya, apa yang salah? Apakah aku selalu menganggumu? Apa selama ini kami hanya berlandas rasa menghargai diriku saja? Apa kamu bosan denganku yang terlalu flat? Apa aku kurang mampu memberikan kenyamanan untukmu? Apa aku... Satu persatu pertanyaan berlomba merasuk dalam rongga otak. Aku ditampar lagi oleh roda kehidupan. Dimana dulu aku yang tak begitu memperdulikan dirinya, sekarang berbalik padaku yang tak dipedulikan olehnya. Dulu aku membalas pesannya karna rasa menghargai sekarang akupun merasakannya. Rasanya karma berjalan baik untukku. Sikapku yang dingin kepada orang lain yang mau mendekat, kini aku mendapat sifat dingin dari orang lain. Aku paling tidak mau mengirim pesan terlebih dahulu, namun denganmu aku melakukan itu walau hanya menanyakan hal yang sepele. Kukira aku dan kamu akan berhasil menjadi kita, ternyata semua hanya sebatas hampir.. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN