Ethan baru saja sampai di salah satu hotel yang dia pesan di Manhattan. Ia merebahkan tubuhnya yang terasa begitu lelah setelah melakukan perjalanan yang lumayan panjang. Ia merebahkan tubuhnya di atas ranjang dan menatap langit langit kamar dengan tatapan tersiksa. Bibirnya berkedut membentuk sebuah senyuman miris, ia ingin tertawa dengan kondisinya saat ini yang bahkan tak berguna. Ia mengukir wajah Arinka dalam langit langit kamar, saat Arinka tersenyum lebar hingga memperlihatkan lesung pipinya, saat Arinka berpura-pura cemberut dan bertingkah manja pada dirinya. Tanpa terasa sudut mata Ethan berair, betapa sesak dan sakitnya d**a ini menahan gejolak kerinduan kepada Arin. Betapa bodohnya dirinya saat sekarang menyadari kalau cintanya untuk Arinka sangatlah besar dan bahka

