"Silakan diminum," kataku sembari menyajikan beberapa gelas jus di meja. "Kelihatannya sudah sembuh, nih. Suaranya sudah ceria lagi," kata Pipit sembari saling melempar pandang dengan Rasmi dan tersenyum. "Sepertinya begitu. Mungkin obat yang diminumnya benar-benar manjur," timpal Rasmi. Aku mengulum senyum. "Kalian saja yang berlebihan. Kan, sudah kubilang kalau aku hanya masuk angin." "Sudah dibawa ke dokter?" Pak Andrew bertanya. Aku menggeleng. "Untuk apa dibawa ke dokter, Pak. Dokter pribadi dia 'kan ada di rumah," kelakar Pipit, lalu tertawa kecil. Sementara, aku hanya tersnyum malu-malu sembari membenarkan rambut yang sebenarnya tidak berantakkan sama sekali. "Berarti besok kamu sudah bisa ke kampus lagi?" tanya Pak Andrew. Aku mengangguk. "Jangan sakit lagi. Kamu kebiasaa

