21+ Sesampainya di rumah aku langsung masuk kamar dan menjatuhkan tubuhku di atas ranjang, menerawang semua peristiwa yang telah terjadi dalam hidupku, rasanya jiwa dan ragaku begitu letih. Apakah aku harus hidup dalam kebencian? Tapi hatiku begitu berat untuk memaafkan. "Habis dari luar cuci kaki dulu Sayang," tegur Mas Ardan lalu mendekat memposisikan dirinya di sampingku dengan kedua tangan menyangga belakang kepala. Dengan tersenyum lebar aku beranjak memasuki kamar mandi, mencuci kaki dan menyabun kedua tanganku. Dengan hanya memakai pakaian dalam aku ke luar dari kamar mandi dengan santai, aku tak peduli dengan tatapan Mas Ardan yang kulirik beberapa kali menelan salivanya dengan paksa, aku tau Mas Ardan tidak akan meminta haknya di saat aku bad mood seperti ini. "Jangan mulai

