Dua Puluh Tujuh

1483 Kata

"Aisya tolong jangan membenciku, aku tak pernah tau jika mamaku adalah orang yang menghancurkan keluargamu, tidak hanya kamu yang kecewa Ai, aku lebih dari itu, papa yang selama ini kutahu adalah papaku ternyata bukan papa kandungku, aku sangat menyanyangi," isak tangis Aira memenuhi ruang tamu. Aisya terpaku mendengar kenyataan pahit yang Aira rasakan, Aisya memang membencinya, karena biar bagaimanapun Aira adalah anak dari perempuan perebut papanya, namun saat kenyataan berkata lain, Aisya tak mampu berucap. "Trus kamu mau apa sekarang dariku? Jangan khawatir aku tidak akan merebut Hendra darimu, aku sudah menganggap dia mati setelah kepergianku waktu itu," ucap Aisya sinis, namun menyebut papanya hanya dengan nama seketika hatinya bergerimis, ia tahan mati-matian air mata yang menggen

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN