Seena yang saat itu mendengar gebrakan yang di lakukan oleh Sin meskipun dirinya sudah keluar dari mobil tak menganggap hal tersebut dan pura-pura saja tidak tahu jika Sin marah seperti itu sampai dirinya menggebrak mobil karena benar-benar merasa kesal dengan penolakan yang sudah dialaminya. Tapi Seena sebenarnya tak peduli dengan itu, bahkan Seena malah takut Sin akan melakukan hal yang buruk kepadanya karena seperti mencoba untuk memberikan ciuman bibir kepada Seena seperti barusan, Seena tak ingin sampai Sin melakukan hal tersebut karena sesuatu yang sebenarnya dirinya inginkan bukan benar-benar dekat atau berhubungan dengan Sin tapi dirinya hanya mencoba untuk membuat Ben berpikir jika apa yang pernah Ben katakan kepada Seena salah dan berharap Ben akan meminta maaf kepadanya. Hingga yang sekarang Seena pikirkan hanya ingin memberikan Ben sebuah isyarat jika yang dilakukan Ben salah, dan bagaimana caranya agar Ben sadar jika dirinya bersalah lalu meminta maaf kepada Seena.
"Aku sepertinya harus sudah benar-benar mencoba untuk menjaga jarak dengan Sin, karena yang aku pikirkan sebenarnya bukan benar-benar ingin berhubungan dengan Sin, yang aku inginkan hanya mencoba membuat Ben panas dan cemburu saja karena Ben sudah salah bicara yang membuatku merasa benar-benar sakit hati. Jadi sebenarnya aku tak peduli dengan apa yang diinginkan oleh Sin, apa lagi berciuman atau hal lebih lainnya, aku tak ingin sampai memberikan hal tersebut kepada Sin karena. Tidak, aku tidak ingin sampai memberikan hal semacam itu kepada Sin apa lagi hal yang lebih dari itu, yang sekarang aku harus lakukan hanya terus menjaga jarak," ujar Seena, sambil masuk ke dalam rumahnya saat itu dan tentu saja langsung masuk ke dalam kamarnya.
"Sementara itu Ben yang dari tadi sudah ada di bagian balkon perguruan mencoba mencari angin segar karena perasaannya yang tiba-tiba gelisah tanpa sebab apapun, langsung saja mencoba menenangkan diri dengan melihat pemandangan dan merasakan udara segar yang ada disana di barengi dengan latihan ringan saat itu. Hingga Ben merasa kaget ketika ada seseorang yang memanggilnya saat itu karena Ben yang terlalu fokus berlatih hingga tak sadar jika ada seseorang yang datang juga ke balkon perguruan tersebut hingga memanggilnya.
"Ben, kau memang rajin," ujar seseorang dari belakang.
"Wow, guru. Kau mengagetkanku saja, aku hanya sedang mencari angin, dan dari pada aku menghabiskan waktuku tanpa melakukan apapun mungkin berolahraga ringan akan membuat waktuku yang aku buat untuk mencari angin akan lebih berarti," jawab Ben.
"Ya tapi kau benar-benar sangat rajin Ben. Bagus, aku melihat semua yang kau lakukan, tapi maaf Ben sepertinya ini semua karena aku yang menyuruhmu tadi mengantarkan temanmu berkeliling perguruan ini ya, imbasnya kau malah jadi tak bisa ikut berlatih karena sibuk dengan pekerjaanmu yang aku suruh itu. Dan sekarang jadinya kau malah harus berolahraga dimalam seperti ini Ben," ujar Ster.
"Oh tidak guru, mengenai itu tidak apa-apa lagi pula aku sudah biasa juga kan berolahraga dimalam hari, kau tidak salah apa-apa guru sudah kewajibanku untuk membantumu kan jadi tentu saja aku tak apa-apa guru kau tak usah merasa bersalah seperti itu. Sudah kewajibanku membantumu dan tentu saja sudah menjadi kebiasaanku juga berolahraga dimalam hari, inipun karena aku berpikir agar waktuku bisa lebih aku manfaatkan lebih baik daripada hanya berdiam diri mencari angin," jawab Ben.
"Baguslah Ben, terika kasih jika seperti itu. Tapi bagaimana menurutmu dengan Shen temanmu itu Ben?" tanya Ster.
"Ya guru sama-sama. Mengenai Shen? apanya guru?"tanya Ben kembali.
"Aku lihat dia begitu bersemangat ketika datang kemari tadi, dan yang aku perhatikan sepertinya dia benar-benar sangat senang dengan dirinya yang bisa kemari. Jadi maksud pertanyaanku adalah apa dia akan menjadi orang yang rajin berolahraga atau mungkin sambil ikut berlari denganmu?" tanya Ster lagi.
"Oh mengenai itu guru? hehe. Dari awal aku bicara dengannya dan menawarkan mengenai perguruan ini dia sudah antusias guru dan bersemangat guru, dan sepertinya antusias dan semangat yang dirinya miliki memang begitu sangat tinggi, bahkan sampai kau bisa melihatnya ketika dia berada disini tadi. Jadi mungkin saja dia akan menjadi orang yang rajin berolahraga disini, selain karena dia yang semangat dia pun juga tak memiliki pilihan tempat lain untuk berolahraga. Seperti yang sudah dia katakan kepadaku," ujar Ben.
"Baguslah Ben. Tapi kau juga tak lupa dengan apa yang aku katakan kan Ben? dia adalah tanggung jawabmu, jadi apapun yang dia akan lakukan dan inginkan, kaulah yang akan mengarahkannya. Jadi ketika ada dia, kau tak wajib untuk mengikuti kegiatan latihan bersamaku, tapi kau lebih wajib mengajarinya tau mendampinginya karena kau sudah benar-benar aku anggap sebagai asistenku. Kau tak keberatan kan Ben?" tanya Ster.
"Ya aku ingat dengan hal itu guru, dan aku pun juga tentu saja tak sampai keberatan dengan apa yang kau inginkan. Justru aku merasa tak enak kenapa aku bisa sampai kau anggap asistenmu guru, sepertinya tak usah sampai seperti itu karena yang aku lakukan sepertinya tidak terlalu baik, aku jadi merasa gugup dan takut jika aku akan mengecewakanmu guru. Apa kau sudah yakin dengan itu? padahal jika kau tak mengatakan kau mengangkatku sebagai asistenmu juga aku tentu tak akan menolak jika disuruh untuk bertanggung jawab mengenai Shen guru," tanya Ben, lalu bicara mengenai pengangkatannya sebagai asisten Ster yang dirinya agak kurang yakin, takut akan mengecewakan Ster.
"Kau tak usah khawatir dan merasa gugup dengan apa yang aku katakan Ben, karena aku yakin dengan kemampuanmu yang tidak akan pernah mencoba untuk mengecewakanku, jika kau melakukan kesalahan itu wajar Ben, tapi aku yakin padamu jika kau tak akan sampai melakukan kesalahan dengan sengaja dan aku yakin jika kau akan mencoba untuk melakukan tugasmu dengan baik. Aku percaya kepadaku Ben, jadi sekarang yang harus kau lakukan percayalah pada dirimu sendiri Ben," ujar Ster menyemangati Ben saat itu, dengan mengatakan mengenai kepercayaannya kepada Ben.
"Terima kasih guru jika seperti itu, aku benar-benar merasa sangat senang dengan apa yang kau katakan dan aku begitu sangat senang karena kau begitu baik kepadaku," ujar Ben. "oh ya guru, tadi ketika Shen pulang Shen menitipkan uang ini padaku, dia berkat berikan uang ini padamu sebagai tanpa terima kasih nya karena dia sudah diijinkan untuk datang, mencoba dan melihat fasilitas yang ada disini. Dan ini uangnya," ujar Ben, sambil memberikan amplop yang berisi uang kepada Ster.
"Sejak kapan kau mulai untuk berbohong Ben? kau tak cocok jadi pembohong dan kau tidak berbohong untuk menjadi pembohong Ben, dan sekarang tentu saja aku tak percaya dengan apa yang kau katakan dan tak akan mengambil uang itu, karena uang itu memang dari Shen tapi bukan untukku Ben, dan tentu saja untukmu. Dia berterima kasih dengan kau yang sudah mau mengantarnya kemanapun dia inginkan, jadi dia memberikanmu uang itu Ben dan tentu saja itu adalah uang untukmu, bukan untukku. Sudahlah Ben sepertinya hari sudah mulai larut dan udara sudah mulai lebih dingin, tak baik berlama-lama merasakan udara dingin. Sekarang ayo masuk Ben, dan jangan pernah katakan apapun lagi mengenai uang itu, ambil semuanya untukmu Ben karena itu memang hakmu," ujar Ster tegas, sambil mengajak Ben masuk ke dalam pertemuan saat itu disaat hari sudah lebih larut dan udarapun menjadi lebih dingin.
Ben yang saat itu sudah mendengarkan perkataan Ster yang tegas pun langsung saja masuk mengikuti Ster yang masuk ke dalam perguruan, dengan akhirnya berterima kasih tentu saja karena Ster begitu sangat baik kepadanya dan Ster benar-benar tak menerima uang pemberian dari Shen karena Ster memang berkata jika uang tersebut adalah hak Ben.