Sebelum keluar dari mobil, aku memakai kacamata hitam besar yang tersimpan di dalam dashboard. Mengenakai selendang biru, untuk menutupi rambut dan wajahku. Aku mantapkan hati, tak mengapa menguras waktu. Yang penting masalah ini cepat selesai. Dan yang paling penting, membuat dua manusia tak waras itu sedikit jera. "Ada yang bisa kami bantu, Buk?" petugas resepsionis menatap ramah. Aku menyunggingkan senyum, melonggarkan sedikit kacamata. "Saya mau melakukan visum, Dokter mana yang bisa menangani ini." aku menunjuk luka di sudut bibir. Perempuan berwajah manis itu sedikit terkejut, lalu menyerahkan selembar kertas untukku. "Diisi dulu biodata pasiennya, Bu. Setelah itu Ibu akan saja arahkan ke Dokter specialis forensik." jawabnya lugas. Aku hanya menurut, karna jujur saja aku belum m

