"Mas! Kok diam aja sih!" sentak Hella mengagetkan. "Terus aku harus gimana?" suaraku naik satu oktaf. Kesal sih boleh aja, tapi tidak harus membentakku juga kan. Dia pikir aku babunya! Rissa saja tidak pernah membentakku. Aaarghhh sial! Kenapa aku harus mengingat kebaikan istri durjana itu! "Haduh! Bisa mati berdiri kalau begini terus. Duit tidak punya, makanan tidak ada." seloroh Hella sambil berkacak pinggang. Aku hanya berdecak, malas menyahut ucapannya. Pikirnya hanya dia yang sakit kepala memikirkan semua ini. Kepalaku bahkan hampir pecah. Emang sialan si Rissa. Pergi dari rumah, malah merampok semua yang ada. Gila! "Tidak ada yang bisa dijual apa, Mas!" tanya Hella dengan bibir mencucut. "Apa yang mau dijual? Kasur bau pesing?" cibirku. "Ya kamu mikir dong. Tidak bisakan cum

