Pov Larissa Gegas aku masuk kedalam mobil, dimana sudah ada Bik Narti dan Dila didalamnya. "Neng tidak apa-apa?" Bik Narti memandang cemas, memegangi tanganku. "Bibir Neng Rissa membengkak, kita kerumah sakit ya?" mata tua itu berkaca-kaca, merasakan kesakitanku. Hati dan sekujur tubuh menjalar perih, mataku memanas dengan kabut yang semakin tebal. Tubuh masih terguncang, air mata menetes tanpa persetujuan. Ohh ... betapa terhinanya raga ini. Dianggap racun, dan selalu di tempatkan pada posisi yang salah. Membuka resleting tas, mengambil gawai lalu merekam wajah babak belurku saat ini. Astaga, aku bahkan ngeri melihat wajah sendiri. Astagfirullohaladzim .... Ya Alloh, ya Rabb. Sekejam ini kamu padaku, Mas. Sampai hati, kau memukul istrimu sendiri. Tak ingatkah segala pengorbananku

