bagian 23 - masa kelam Jaya.

1362 Kata

Hanum beranjak keluar rumah untuk menghirup udara pagi, berdebat dengan Jaya hanya akan menambah kesal di d**a. "Ika buatkan teh hangat dulu, Ibu duduk saja." ucap Ika sebelum beranjak masuk kerumah. Semilir angin menerjang wajah cantik yang sudah di penuhi oleh kerutan, matanya menerawang jauh mengingat bayangan masalalu yang menyedihkan. Hati berdesir ngilu, nafasnya tersenggal mengingat pengkhianatan suaminya. "Huh ... benar, memang. Buah jatuh tidak akan jauh dari pohonnya," lirih Hanum perih. Jaya melengos saat keluar rumah, mengeluarkan kendaraan roda dua dari garasi lalu melajukan kuda besi itu tanpa pamit pada Hanum. Hanum hanya bisa menarik nafas, semakin tua tabiat suaminya tidak juga pernah berubah. Egois, maunya menang sendiri. Dan tidak mau disalahkan. "Ini, Buk. Di mi

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN