Happy Reading ^_^ *** Pulang ke rumah yang bukan lagi rumahnya tidak pernah mudah. Bahkan, pulang sudah tidak terasa semenyenangkan dahulu kala. Hal inilah yang mendorong Alia meminggirkan mobilnya padahal jarak tempuh ke rumahnya -rumah Keenan- sekitar lima ratus meter lagi. Bukan karena dia berfikir untuk berputar arah lalu pergi, melainkan karena dia ingin mempersiapkan dirinya sebelum tiba di tempat yang terasa seperti tempat penyiksaan tersebut. Alia mengeluarkan kaca kecil yang memang selalu ada di dashboard mobilnya. Dipandangi wajahnya untuk memastikan bahwa raut wajahnya baik-baik saja. Apalagi Alia tadi sempat menangis saat bersama sang adik, jadi dia khawatir kalau raut wajahnya akan tampak tidak baik. Ini akan mempengaruhi citra keras kepala yang sedang dia peragakan di depa

